-
AS menolak bertemu Iran sebelum Teheran siap menggelar perundingan nuklir yang berdampak nyata.
-
Donald Trump mengancam akan menggempur lokasi material nuklir Iran dengan kekuatan militer sangat besar.
-
Serangan balasan AS merusak kesepakatan damai yang sebelumnya telah dimediasi oleh Pakistan.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat menutup pintu diplomasi formal dan memilih bersiap melancarkan aksi militer masif ke objek vital nuklir Iran.
Langkah tegas ini diambil lantaran Washington menilai Teheran belum menunjukkan iktikad serius untuk menghentikan ambisi persenjataan nuklirnya.
Sikap tanpa kompromi tersebut ditegaskan Presiden Donald Trump saat menerima kunjungan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih.
![Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/76171-donald-trump.jpg)
Trump mengklaim bahwa pihak lawan sebenarnya sangat berhasrat membuka kembali pintu negosiasi dengan pemerintahannya.
Namun, ia memilih acuh jika pembicaraan tersebut tidak memuat tawaran konkret serta penyelesaian yang substansial.
"Mereka sangat ingin bertemu, dan sampai mereka siap bertemu dengan cara yang bermakna, kami sama sekali tidak tertarik,” kata Trump dikutip dari Anadolu.
Pemimpin Negeri Paman Sam itu memastikan serangan strategis yang telah dilancarkan berhasil menumpas potensi militer Teheran dalam skala masif.
Dampak penyerangan tersebut diklaim membuat kekuatan pertahanan Iran mundur hingga kurun waktu dua dekade ke depan.
“Jika kami berhenti sekarang, Iran akan membutuhkan waktu 20 hingga 25 tahun untuk membangun kembali,” ujarnya.
Operasi militer skala besar ini dinilai jauh lebih masif dibandingkan intervensi AS yang pernah dilakukan di Venezuela.
Tanpa keberanian aksi militer AS, Trump bahkan menyebut keberadaan dan keselamatan negara Israel bakal terancam hebat.
Ia juga memberi sinyal kuat bahwa tekanan militer terhadap kawasan tersebut masih jauh dari kata usai.
“Yang ini, Iran, jauh lebih besar.”
“Dan sejujurnya, mereka belum melihat apa pun. Kami masih bersikap baik," tambahnya.
Mengenai dugaan pemindahan sentrifus nuklir ke area gunung, Trump mengaku belum memegang bukti catatan tertulis yang resmi.
Ketika ditanya apakah Iran telah memindahkan sentrifus nuklir ke Pickaxe Mountain, Trump menjawab, “Saya pikir mungkin saja. Kami tidak memiliki catatan yang memastikan hal itu.”
Kendati demikian, fokus utama intelijen AS berada pada pergerakan dan pelacakan material nuklir aktif yang tersimpan.
“Kami melacak materialnya. Di situlah inti persoalannya, dan kemungkinan besar kami akan mendatangi wilayah itu dalam waktu dekat,” tambahnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa gempuran lanjutan berdaya hancur tinggi tinggal menunggu waktu pelaksanaan.
“Biasanya saya tidak akan mengatakan ini. Jika saya pikir mereka bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya, saya tidak akan pernah mengatakannya. Namun kami akan menyerang wilayah itu dalam waktu dekat, dan dengan kekuatan yang sangat besar,” tambah Trump.
Sebelumnya, jajaran militer AS merancang beberapa opsi aksi balasan mematikan di Ruang Situasi Gedung Putih.
Rencana ofensif tersebut mencakup penguasaan terminal minyak utama Pulau Kharg hingga bombardir udara ke Pickaxe Mountain.
Gempuran balasan pun meletus setelah Iran menargetkan markas serta pangkalan sekutu AS di pelbagai kawasan regional.
Eskalasi berdarah ini secara praktis menghancurkan nota kesepahaman damai yang sempat dimediasi Pakistan pada Juni lalu.