-
Daendels sejajarkan kedudukan Minister Belanda dengan Sultan Yogyakarta pada 28 Juli 1808.
-
Perang Dunia I resmi meletus pada 28 Juli 1914 setelah deklarasi serangan Austria-Hungaria.
-
Maximilien Robespierre dieksekusi guillotine pada 28 Juli 1794 dan mengakhiri era teror Prancis.
Suara.com - Today History 28 Juli menyimpan rekam jejak kelam sekaligus krusial yang membentuk konstelasi kekuasaan di tingkat nasional maupun internasional.
Tiga peristiwa besar pada hari ini menandai pergeseran hierarki raja di Jawa, dimulainya pembantaian perang global, hingga jatuhnya rezim paling berdarah di Prancis.
1. Daendels di Tanah Jawa

Langkah drastis diambil Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 28 Juli 1808 saat merombak total struktur kekuasaan di Tanah Jawa. Penguasa kolonial tersebut secara sepihak menaikkan derajat jabatan Residen menjadi Minister di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Perubahan status ini secara otomatis menyejajarkan posisi utusan Belanda dengan Sultan Yogyakarta dan Sunan Surakarta. Daendels sengaja memangkas wewenang tradisi kraton demi memperkuat cengkeraman birokrasi kolonial atas penguasa lokal.
2. Meletusnya Konflik Global Pertama
![Ilustrasi Perang Dunia I. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/09/16/47815-perang-dunia-i.jpg)
Tepat 106 tahun setelah kebijakan Daendels, letupan perang dahsyat mengguncang benua Eropa pada 28 Juli 1914. Austria-Hungaria resmi mendeklarasikan serangan militer terhadap Serbia yang kemudian memicu terseretnya puluhan negara ke dalam pusaran Perang Dunia I.
Kubu Sekutu yang dipelopori Inggris, Prancis, dan Rusia saling adu kekuatan melawan kekuatan Blok Sentral besutan Jerman serta Austria-Hungaria. Pertempuran sengit ini berlangsung selama empat tahun dan merenggut jutaan nyawa manusia hingga berakhir pada 11 November 1918.
3. Akhir Tragis Pemimpin Teror

Jauh sebelum Perang Dunia I pecah, Prancis lebih dahulu mencatatkan sejarah kelam pada 28 Juli 1794. Arsitek utama era Reign of Terror atau Pemerintahan Teror, Maximilien Robespierre, dipaksa mengakhiri hidupnya di atas panggung eksekusi.
Tokoh radikal Revolusi Prancis tersebut tewas dipenggal dengan alat guillotine di pusat kota Paris. Kematian Robespierre sekaligus menyegel berakhirnya fase pembantaian paling berdarah dalam sejarah modern Prancis.
Rangkaian peristiwa pada 28 Juli memperlihatkan bagaimana ambisi politik dan geopolitik kerap memicu perombakan tatanan sosial secara mendasar. Kebijakan otoriter Daendels di Indonesia lahir dari dorongan Napoleon Bonaparte untuk mengamankan Jawa dari ancaman Inggris.
Sementara itu, deklarasi perang Austria-Hungaria merupakan imbas rantai dari terbunuhnya Putra Mahkota Franz Ferdinand yang merembet menjadi pertikaian antardisiplin militer dunia. Adapun eksekusi Robespierre terjadi akibat kejenuhan rakyat serta elite politik Prancis terhadap eksekusi massal tanpa pengadilan yang adil.