- Donald Trump memprediksi perang AS dan Iran bakal selesai tak lama setelah pemilu.
- Iran dituding mengulur konflik, namun AS menegaskan penolakan kepemilikan senjata nuklir Teheran.
- Trump mengklaim berhasil meredakan ketegangan di Laut Merah serta menyelesaikan krisis sandera Gaza.
Suara.com - Donald Trump meyakini perang antara Amerika Serikat dan Iran bakal mereda dalam waktu singkat. Pemimpin AS tersebut menduga Teheran sengaja mengulur durasi konflik demi memperkeruh atmosfer politik menjelang pemilu.
Pernyataan tersebut ia sampaikan selepas melakukan perjumpaan resmi dengan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin. Di hadapan media, ia kembali menegaskan posisi geopolitik Washington yang menolak keras ambisi nuklir Iran.
“Saya pikir dalam waktu sangat dekat,” kata Trump ketika ditanya kapan perang tersebut akan berakhir.
![Presiden AS, Donald Trump. [IG/realdonaldtrump]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/21/79037-presiden-as-donald-trump.jpg)
“Saya pikir kemungkinan tepat setelah masa pemilu.”
Pemerintah AS membaca taktik penundaan ini sebagai strategi politik luar negeri Teheran. Meski demikian, Washington memastikan bahwa pertahanan nasional tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi pengembangan senjata pemusnah massal di wilayah tersebut.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini sangat sederhana,” katanya, seraya menambahkan bahwa harga minyak akan turun tajam setelah konflik berakhir, dikutip dari Anadolu, Minggu (13/9/2026).
Kondisi keamanan di kawasan perairan vital Timur Tengah kini diklaim mulai berbalik menguntungkan posisi Amerika Serikat. Trump menyebut milisi Houthi yang berbasis di Yaman mulai melunakkan sikap politik militernya terhadap armada militer AS.
“Mereka tidak ingin berperang dengan kami,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa kelompok tersebut membiarkan sebagian besar kapal melintas di jalur perairan tersebut.
Operasi maritim intensif terus dikerahkan pasukan AS untuk mengamankan lalu lintas perdagangan internasional di wilayah tersebut. Penjagaan ketat di perbatasan laut berhasil menyertakan aksi penyergapan armada asing yang mencurigakan saban harinya.
Pemerintah AS mencatat setidaknya ada 25 kapal yang berhasil dihentikan setiap hari, terutama saat malam hari. Pengawasan super ketat ini terbukti membatasi ruang gerak kelompok bersenjata di koridor pelayaran strategis dunia.
Mengenai gejolak pasar energi global, Gedung Putih sudah memperhitungkan potensi kenaikan harga bahan bakar akibat gesekan militer ini. Namun lonjakan biaya energi diprediksi melandai deras begitu tensi geopolitik dengan Iran resmi ditutup.
Selain persoalan Iran, Trump merespon keras gelombang kritik internasional yang mengagendakan isu krisis kemanusiaan di Palestina. Pihaknya menolak tuduhan yang menyebut kebijakan AS mendukung tindakan genosida atau perluasan wilayah kekuasaan Israel.
“Ketika Anda mengatakan Gaza, Anda tahu kami telah memadamkan api dan kami mendapatkan semua sandera,” katanya, merujuk pada upaya yang menurutnya telah mengamankan pembebasan dan pemulangan para sandera yang ditahan di Jalur Gaza.
Konflik antara AS dan Iran berakar dari eskalasi geopolitik Timur Tengah yang memanas seiring persaingan pengaruh regional dan program nuklir Teheran. Pembatasan ekonomi serta aksi saling balas di jalur pelayaran komersial makin memperkeruh stabilitas kawasan dalam beberapa bulan terakhir.
Ketegangan ini menjalar hingga ke Laut Merah dengan keterlibatan kelompok Houthi serta memicu disrupsi pasokan energi dunia. Situasi tersebut menempatkan penyelesaian konflik Iran sebagai agenda utama yang berkelindan langsung dengan dinamika politik domestik AS.