Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:18 WIB
Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?
Pakar UGM Agustinus Subarsono. (Dok. ist)
baca 10 detik
  • Pakar UGM Agustinus Subarsono menilai wacana kenaikan gaji kepala daerah tidak layak direalisasikan pada Jumat, 31 Juli 2026.
  • Kebijakan tersebut dinilai tidak tepat karena anggaran negara sedang defisit dan masyarakat masih menghadapi tekanan ekonomi berat.
  • Alih-alih menaikkan gaji pejabat, dana APBN seharusnya dialokasikan untuk program pemberantasan kemiskinan dan mengatasi pengangguran.

Suara.com - Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono menilai wacana kenaikan gaji kepala daerah belum layak direalisasikan dalam kondisi saat ini. 

Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya salah prioritas namun turut berpotensi memperlebar jarak antara pemerintah dengan masyarakat yang masih menghadapi tekanan ekonomi.

"Kenaikan gaji kepala daerah saat ini belum sesuatu yang urgen dengan berbagai alasan," kata Subarsono kepada Suara.com, Jumat (31/7/2026).

Berdasarkan data KPK hingga akhir Juli 2026 telah terjadi 18 operasi tangkap tangan, dengan sedikitnya 12 kepala daerah ikut terseret. 

Kondisi tersebut, menurut Agustinus, telah menghancurkan harapan masyarakat terhadap pemimpin daerah yang sebelumnya menjanjikan kesejahteraan, keadilan, dan pengentasan kemiskinan saat masa kampanye.

Kebijakan ini kian dinilai tidak wajar mengingat indikator ekonomi nasional sedang mengalami tekanan defisit anggaran yang terjal. Mengalokasikan dana APBN untuk menaikkan kesejahteraan elite di saat beban negara membengkak dipandang sebagai langkah yang sama sekali tidak masuk akal. 

"Kedua alasan ekonomi, kondisi ekonomi negara saat ini tidak sedang baik-baik bahkan APBN mengalami difisit," tegasnya.

Di sisi lain, jutaan rakyat Indonesia masih berjuang keras mencari penghidupan di tengah tingginya angka pengangguran. 

"Pertanyaannya, kenapa pemerintaah akan menaikkan gaji kepala daerah dalam kondisi fiskal yang defisit, bukankah itu berlawanan dengan nalar yang sehat dan menujukkan tidak ada sensitifitas ekonomi dan politik terhadap kondisi pengangguran," tandasnya.

baca juga

Kekecewaan publik makin menebal akibat ketimpangan perlakuan antara elite politik dan para abdi negara di sektor esensial. Meskipun gaji pokok belum naik, para pejabat daerah pada kenyataannya telah menikmati berbagai limpahan fasilitas serta tunjangan bernilai fantastis dari kas negara.  

"Secara singkat, kehidupan kepala daerah secara ekonomi dijamin oleh negara. Sementara itu, para ASN, guru, tenaga kesehatan, pegawai PPPK yang mengharapkan memperoleh keejateraan dan hidup lebih layak, tidak mendapat sentuhan dari kebijakan pemerintah," tandasnya. 

Langkah menaikkan gaji pejabat ini, kata Subarsono sangat mencederai komitmen pembangunan global yang berfokus pada pemenuhan hak-hak dasar rakyat miskin. Negara dianggap berpotensi gagal memenuhi target penuntasan masalah kelaparan jika terus memanjakan elite politik.  

"Anggaran negara lebih baik dialokasikan untuk berbagai program pemberantasan kemiskinnan dan menghapus kelaparan daripada dialokasikan pada kenaikan gaji kepala daerah yang tidak mendesak," ujarnya. 

Pemerintah diingatkan kembali pada hakikat pembentukan sebuah negara yang seharusnya mengabdi pada kepentingan publik, bukan pada kemewahan hidup para pejabatnya. Penyimpangan orientasi kekuasaan ini dinilai melanggar prinsip kepemimpinan dan amanat konstitusi moral.  

Ia menyebut kepala daerah seharusnya hadir sebagai pengayom yang memberikan keteladanan dan ruang perlindungan bagi warga yang diyakininya. 

Kehidupan elite yang terus digelontori kemewahan di atas penderitaan rakyat menandakan terjadinya krisis moralitas kepemimpinan di tingkat daerah.  

"Bukan saja kepala negara, namun kepala daerah juga memiliki kewajiban moral untuk memenuhi kepentingan publik, baru kemudian memikirkan kesejahteraan dirinya sendiri," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wacana Gaji Naik saat OTT Marak, Solusi Palsu Korupsi Kepala Daerah

Wacana Gaji Naik saat OTT Marak, Solusi Palsu Korupsi Kepala Daerah

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 13:42 WIB

Optimalkan Pelayanan Publik, Mendagri: Pentingnya Penguatan Kapasitas & Dukungan Bagi Kepala Daerah

Optimalkan Pelayanan Publik, Mendagri: Pentingnya Penguatan Kapasitas & Dukungan Bagi Kepala Daerah

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 21:35 WIB

Sudah 26 Tahun Tak Berubah, Mendagri Beri Lampu Hijau Revisi Aturan Gaji Kepala Daerah

Sudah 26 Tahun Tak Berubah, Mendagri Beri Lampu Hijau Revisi Aturan Gaji Kepala Daerah

News | Kamis, 30 Juli 2026 | 18:25 WIB

Terkini

Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?

Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:18 WIB

Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Sopir Ambulans dan 4 Saksi Kunci

Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Sopir Ambulans dan 4 Saksi Kunci

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:17 WIB

Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih

Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:15 WIB

Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah

Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:10 WIB

Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge

Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge

Your Say | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:10 WIB

OLXmobbi Tebar Cashback Hingga 35 Juta Tukar Tambah Mobil Bekas ke Mobil Baru di GIIAS 2026

OLXmobbi Tebar Cashback Hingga 35 Juta Tukar Tambah Mobil Bekas ke Mobil Baru di GIIAS 2026

Otomotif | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:06 WIB

Pilot Malaysia Bawa 170 Penumpang ke Jakarta dalam Pengaruh Narkoba

Pilot Malaysia Bawa 170 Penumpang ke Jakarta dalam Pengaruh Narkoba

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:03 WIB

Polrestabes Surabaya Buru Pelaku Lain Kasus Pembacokan Anggota PSHT, Sejumlah Nama Masuk DPO

Polrestabes Surabaya Buru Pelaku Lain Kasus Pembacokan Anggota PSHT, Sejumlah Nama Masuk DPO

Jatim | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:01 WIB

Akal-akalan Komisi Fiktif Asuransi Pelni Rp15,6 Miliar, 4 Petinggi Resmi Pakai Rompi Oranye KPK

Akal-akalan Komisi Fiktif Asuransi Pelni Rp15,6 Miliar, 4 Petinggi Resmi Pakai Rompi Oranye KPK

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:01 WIB

Rahasia Gelap Mantan Tunawisma di Balik Minimarket yang Merepotkan!

Rahasia Gelap Mantan Tunawisma di Balik Minimarket yang Merepotkan!

Your Say | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:00 WIB

×