-
Pembongkaran gedung pascagempa Venezuela memicu protes warga karena menghambat pencarian korban hilang.
-
Pemerintah memulai rekonstruksi bangunan, sementara ribuan korban bertahan di pengungsian darurat.
-
Warga menolak direlokasi karena trauma masa lalu dan kekhawatiran kehilangan tempat tinggal.
Prosedur evakuasi manual langsung diterapkan begitu indikasi penemuan jasad terdeteksi di bawah material beton.
"Ketika mesin mencapai lempengan beton, mesin itu diangkat secara hati-hati sementara tim memeriksa bagian bawahnya untuk mencari jenazah," jelas Robles.
"Begitu kami menduga ada jenazah yang ditemukan, operasi dihentikan. Kemudian, semuanya dilakukan sepenuhnya dengan tangan. Tim yang mengenakan alat pelindung diri lengkap masuk untuk memulihkan dan mengeluarkannya," lanjut Robles.
Aktivitas identifikasi jenazah berlangsung ketat di tengah cuaca terik di area OPPE 33. Petugas forensik memindahkan sisa jasad menuju fasilitas darurat untuk proses verifikasi.
Proses pembongkaran dianggap sebagai satu-satunya akses teknis untuk menjangkau titik-titik reruntuhan yang sangat tinggi. Pejabat terkait menilai demolisi sangat penting sebelum proyek pembangunan kembali dapat dimulai.
"Ada banyak bangunan dengan kelemahan struktural kritis yang harus dihancurkan dengan bahan peledak. Setiap situasi berbeda," terang Robles.
"Cukup tidak ada kapasitas manusia dengan mesin untuk mencapai lantai dua belas dan mulai merubuhkannya dari atas," tambah Robles.
Di sisi lain, proses pemisahan material logam bekas bangunan mulai dilakukan oleh pekerja industri baja lokal. Puing besi tua tersebut dikumpulkan untuk dilebur menjadi bahan konstruksi baru.
"Logam ini semuanya dilelehkan untuk menyiapkan besi beton, penguat baja yang digunakan di dalam beton, saat konstruksi dimulai lagi," tutur Douglas Mendoza dari Complejo Siderurgico Nacional (CSN).
"Untuk rekonstruksi baru La Guaira, mereka akan membawa truk-truk berisi besi beton untuk mulai membangun kembali," lanjut Mendoza.
Kerusakan fisik akibat bencana gempa diperkirakan menelan biaya hingga puluhan miliar dolar AS. Pemerintah merencanakan program pembangunan ribuan hunian baru bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Ribuan warga korban gempa saat ini masih mendiami tempat penampungan sementara di berbagai provinsi. Pemerintah berjanji akan menyalurkan bantuan perumahan secara bertahap hingga akhir tahun.
"Tujuan utama kami saat ini, sebagai tim pemerintah, adalah memberikan kebahagiaan kepada mereka yang terdampak parah oleh gempa kembar ini, agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian," ucap Presiden Delcy Rodriguez.
Sebagian warga merasa bantuan alat berat dan personel dari pemerintah masih sangat minim di lapangan. Kelompok relawan mandiri terpaksa menggunakan peralatan seadanya untuk membongkar beton tebal.
"Kami tanpa peralatan. Kami tidak mendapat bantuan. Kami harus meminta banyak bantuan melalui media sosial — untuk palu listrik, penggerinda, untuk semua barang itu," kata seorang warga, Jose Gregorio Balcazar.
Balcazar membagi waktunya antara bekerja di toko roti dan membongkar reruntuhan untuk mencari kerabatnya. Ia mengkritik keberadaan aparat keamanan yang dianggap tidak terlibat langsung dalam proses pengerjaan evakuasi.
"Ada tentara di sekitar, tetapi mereka sebenarnya tidak memiliki izin untuk masuk ke dalam lubang atau apa pun," tambah Balcazar.
Warga seperti Viloria memilih bertahan di dalam tenda darurat meskipun kondisi cuaca buruk kerap melanda.
"Kadang saya tidur di truk, kadang saya tidur di sini, di atas kasur kecil di sana," tuturnya.
"Ketika hujan, kadang saya harus menghabiskan malam dengan terjaga karena hujan tidak berhenti. Air masuk dari mana-mana," sambung Viloria.
Penolakan warga untuk pindah ke posko pengungsian didasari trauma masa lalu terkait relokasi jangka panjang. Warga khawatir akan kehilangan hak atas tanah dan hunian asal mereka secara permanen.
Lucia Lanfranchi, seorang relawan dari Caracas, mengonfirmasi kecemasan warga terkait kejelasan status tempat tinggal mereka. Pembongkaran bangunan tanpa jaminan penggantian memicu resistensi dari penyintas.
"Ada orang yang tidak mau pergi ke tempat pengungsian karena mereka masih memiliki rumah, dan mereka menunggu untuk melihat apakah mereka dapat tinggal di dalamnya lagi atau apakah mereka akan memperbaikinya," ungkap Lanfranchi.
"Mereka takut akan kehilangan rumah mereka dan tidak akan pernah diberi rumah lain," tegas Lanfranchi.
Fasilitas pengungsian yang terlalu padat juga memicu kekhawatiran terkait keamanan dan potensi tindakan kekerasan. Risiko kejahatan di tempat penampungan darurat menjadi ancaman nyata bagi perempuan dan anak-anak.
Dua gempa bumi kuat melanda wilayah pesisir Venezuela pada 24 Juni, meruntuhkan hampir 190 bangunan dan merusak ratusan struktur lainnya secara permanen. Bencana ini melumpuhkan sektor perekonomian lokal dan menghancurkan mata pencaharian warga di kawasan La Guaira.
Tragedi ini mengulang trauma sejarah bencana tanah longsor tahun 1999 yang memaksa ribuan warga La Guaira tinggal di tempat penampungan sementara selama bertahun-tahun. Sebagian dari korban bencana masa lalu tersebut kemudian dipindahkan ke kompleks perumahan pemerintah seperti OPPE, yang kini justru runtuh akibat gempa.
Kehilangan seluruh modal usaha membuat Viloria tidak memiliki sumber penghasilan dan bergantung pada bantuan kerabat.
"Karena gempa bumi, saya kehilangan barang dagangan saya. Semuanya hancur. Semua bahan kimia tumpah. Saya kehilangan semuanya," sesal Viloria. "Saat ini, saya hidup dari apa yang dikirimkan keluarga saya."
Niat untuk pindah ke kota lain tertahan oleh proses pencarian jasad keponakannya yang belum membuahkan hasil.
"Saya ingin menutup bab ini karena ini membawakan saya terlalu banyak kenangan," ujar Viloria.
Pencarian mandiri di kamar mayat dan area reruntuhan tetap menjadi fokus utamanya setiap hari.
"Saya belum bisa mengatakan apa yang akan saya lakukan," kata Viloria. "Saya masih kehilangan jenazah Mateo."