- Pemerintah mendorong produk pangan dan kebutuhan konsumsi asal Indonesia masuk ke dalam rantai pasok penyelenggaraan haji dan umrah di Arab Saudi.
- Upaya tersebut dilakukan melalui Business Matching Indonesia–Saudi Arabia Partnership Forum 2026 yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan importir, perusahaan logistik, dan syarikah Arab Saudi.
- Forum ini diharapkan membuka kerja sama jangka panjang sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi jamaah haji Indonesia.
Suara.com - Pemerintah mendorong penguatan rantai pasok penyelenggaraan ibadah haji dan umrah dengan memperluas kerja sama antara pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi.
Langkah itu dilakukan melalui Business Matching Indonesia–Saudi Arabia Partnership Forum 2026 yang digelar Asosiasi Amanah Haji dan Umrah Republik Indonesia (ASHURI) di Jakarta.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Prof. Dr. H. Jaenal Effendi, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok berbagai kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah di Arab Saudi.
"Kebutuhan haji tidak hanya makanan siap saji, tetapi juga beras, daging, ikan, sayuran, rempah-rempah, hingga produk pangan olahan. Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk ikut menjadi bagian dari rantai pasok haji dan umrah," kata Jaenal dalam keterangannya.
Menurut dia, peluang tersebut perlu didukung dengan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, pelaku usaha, perusahaan logistik, hingga penyedia layanan haji dan umrah (syarikah) di Arab Saudi.
Jaenal menilai forum business matching menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem yang mampu mempertemukan produsen dan eksportir Indonesia dengan calon pembeli dari Arab Saudi.
"Forum ini bukan sekadar mempertemukan pelaku usaha, tetapi menjadi titik awal membangun ekosistem yang solid sehingga produsen, UMKM, dan eksportir Indonesia dapat memasuki pasar Arab Saudi secara terstruktur dan berkelanjutan," ujarnya.
Dalam forum tersebut, hadir sejumlah delegasi dari Arab Saudi yang terdiri dari perusahaan importir, logistik, hingga syarikah penyedia layanan katering haji dan umrah. Mereka melakukan pertemuan langsung dengan produsen dan eksportir Indonesia untuk menjajaki peluang kerja sama.
Beberapa pelaku usaha Indonesia yang ikut dalam business matching antara lain Kelompok UMKM Indramayu Berkah Sejahtera, Dapur Batari, PT Baba Pangan Indonesia, PT Sadewa Ekspres Logistics, Kelompok Petambak Patin dan Nila Tulung Agung, serta CV Fadafood.
Selain membahas peluang kerja sama penyediaan bahan pangan, forum juga menghadirkan syarikah Daleel Alzowar. Perusahaan tersebut memaparkan inovasi layanan Armuzna yang akan diterapkan pada penyelenggaraan haji, seperti penggunaan matras bertingkat, peningkatan standar kebersihan dan sanitasi, serta pengenalan Paket C layanan Armuzna untuk jamaah haji reguler.
Ketua Umum ASHURI, H. Nur Faidzin, mengatakan kegiatan ini menjadi upaya untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Arab Saudi dalam penyelenggaraan haji dan umrah.
Ia berharap semakin banyak produk Indonesia yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah haji dan umrah, khususnya jamaah asal Indonesia.
"Business Matching Indonesia–Saudi Arabia Partnership Forum 2026 bukan sekadar forum bisnis, tetapi merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem kemitraan yang berkelanjutan antara Indonesia dan Arab Saudi," kata Nur Faidzin.
Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan kedua negara, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas layanan bagi jamaah haji dan umrah Indonesia.
Forum ini juga diisi dengan presentasi produk, diskusi bisnis, penjajakan kerja sama, hingga penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara sejumlah perusahaan Indonesia dan Arab Saudi sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut.