-
Hillary Clinton mengkritik dekorasi emas Gedung Putih era Donald Trump mirip istana Saddam Hussein.
-
Gedung Putih membalas kritik tersebut dengan menyindir kekalahan Hillary Clinton pada Pilpres 2016.
-
Trump terus menambah ornamen emas dan proyek monumen fisik di Washington sejak kembali menjabat.
Suara.com - Hillary Clinton mengecam keras perubahan desain interior Gedung Putih yang dilakukan Presiden Donald Trump karena dinilai sangat norak. Clinton menyebut ornamen serba emas di Ruang Oval mengingatkan publik pada gaya arsitektur istana mantan diktator Irak, Saddam Hussein.
Kritik tajam tersebut disampaikan langsung oleh mantan Sekretaris Negara AS itu saat menjadi tamu dalam siniar "Pivot" yang dipandu Kara Swisher pada Jumat. Clinton menilai ambisi estetika Trump mencerminkan masalah kepribadian yang serius dalam memimpin negara.
"Ini menyedihkan bagi saya — menyedihkan karena begitu norak, dan ini adalah refleksi dari, Anda tahu, kepribadian narsistiknya dan kebutuhannya untuk merasa penting, termasuk menempelkan hiasan emas di seluruh dinding Oval Office," ujar Hillary Clinton kepada Swisher.

Clinton menambahkan bahwa prioritas berpikir Donald Trump saat ini sangat tidak proporsional di tengah krisis internasional yang dihadapi Amerika Serikat.
"Pria ini, pikirannya tampaknya tertuju pada, 'Di mana saya bisa menambah lebih banyak emas?' daripada, 'Bagaimana saya bisa keluar dari Iran tanpa terlihat seperti pecundang?'" kata Clinton.
Pernyataan ini mempertegas penolakan Clinton terhadap pembongkaran Sayap Timur Gedung Putih yang dilakukan pihak administrasi Trump tahun lalu demi membangun ruang dansa baru.
Presiden AS berikutnya diprediksi bakal menghadapi dilema besar terkait kelanjutan proyek fasilitas megah yang belum rampung tersebut.
"Presiden berikutnya bakal punya keputusan besar. Apa yang akan Anda lakukan dengan ruang dansa yang baru setengah jadi?"
Saat ditanya mengenai tindakan apa yang bakal diambil jika berada di posisi tersebut, Clinton mengaku tidak memiliki jawaban pasti.
"Saya tidak tahu," jawab Clinton singkat.
Pihak Istana Kepresidenan AS tidak tinggal diam dan langsung melancarkan serangan balik verbal menanggapi pernyataan politisi Partai Demokrat tersebut.
Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle menyindir kegagalan politik Clinton pada pemilihan presiden sembilan tahun lalu.
"Hillary Clinton tidak pernah mendapat kesempatan untuk mendekorasi Oval Office sebagai presiden karena dia menderita kekalahan memalukan di tangan Presiden Trump, yang tidak pernah bisa dia pulihkan," tegas Davis Ingle.
Sejak kembali menduduki kursi kepresidenan pada 2025, Trump memang gencar menanamkan jejak visual personalnya di kompleks istana. Seluruh permukaan Ruang Oval dan area West Wing kini dipenuhi lapisan aksen warna emas mencolok.
Trump juga meresmikan fasilitas baru bertajuk “Presidential Walk of Fame” di sepanjang lorong Rose Garden pada Desember tahun lalu. Fasilitas jalan tapak itu dilengkapi plakat berisi prasasti sindiran partisan terhadap para presiden terdahulu.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa seluruh kalimat kecaman pada plakat tersebut ditulis sendiri oleh Trump.
Selain Gedung Putih, Trump gencar menyorot berbagai proyek pembenahan lanskap kota di wilayah District of Columbia. Proyek tersebut mencakup pemugaran kolam pantul National Mall hingga rencana pembangunan "gapura kemenangan" setinggi 250 kaki di atas Sungai Potomac.
Melihat banyaknya perubahan dekorasi fisik tersebut, Clinton berseloroh soal peran baru yang ingin diambilnya setelah kepemimpinan Trump berakhir.
"Bukankah itu ide yang bagus? Menteri pembersihan, perbaikan," seloroh Clinton.
Clinton menyatakan kesiapannya jika harus mengemban tugas khusus sebagai "Menteri Copot Emas" guna merestorasi Gedung Putih.
Kritik tajam Hillary Clinton terhadap perubahan Gedung Putih berakar dari pengalamannya sendiri saat mendampingi Bill Clinton sebagai Ibu Negara. Kala itu, Clinton bertanggung jawab penuh memimpin proyek restorasi historis Ruang Biru (Blue Room) Gedung Putih.
Rekam jejak tersebut membuatnya sangat sensitif terhadap perubahan struktural bangunan yang dinilainya merusak warisan publik. Clinton menegaskan bahwa Gedung Putih merupakan aset milik seluruh rakyat Amerika Serikat, bukan milik pribadi presiden yang sedang menjabat.
Perdebatan ini mencerminkan benturan estetik sekaligus politik antara standar pemeliharaan warisan sejarah dan gaya kepemimpinan personal Trump.