-
Trump menuntut ganti rugi dari Iran atas tewasnya ribuan prajurit AS dan warga sipil.
-
Tuntutan AS dilayangkan untuk membalas syarat pembukaan Selat Hormuz yang diajukan pihak Iran.
-
AS kini memperlambat negosiasi militer dan fokus menekan ekonomi Iran yang terhimpit inflasi.
Suara.com - Presiden Donald Trump menegaskan pemerintah Amerika Serikat menuntut ganti rugi perang dari Iran atas seluruh korban tewas dan luka berat akibat aksi militer negara tersebut. Langkah ini menjadi serangan balik strategis Washington terhadap Teheran yang sebelumnya meminta kompensasi atas kerusakan wilayah mereka selama perang.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada 10 Agustus. Respon ini muncul setelah Iran mengajukan syarat ganti rugi dalam perundingan bersama Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz.
"Ini adalah gagasan yang menarik karena sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran," ujar Trump dikutip dari USA Today, Selasa (11/8/2026).
![Harga minyak dunia, termasuk di Indonesia terancam naik akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran di Teluk, yang membuat jalur perdangan minyak dunia di Selat Hormuz tak bisa dilewati. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/02/68097-perang-iran-selat-hormuz-dan-harga-minyak-dunia.jpg)
Trump menyebut pembayaran tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban atas banyaknya nyawa yang hilang akibat bom tepi jalan dan berbagai konflik yang melibatkan Iran. Ia secara spesifik menyebut serangan kapal USS Cole tahun 2000 oleh kelompok Al Qaeda serta ribuan orang lainnya yang tewas dalam pertempuran.
Mengapa Trump Menuntut Ganti Rugi Perang dari Iran?
Selain korban militer, Trump mendesak Teheran memberikan kompensasi kepada keluarga demonstran tidak bersalah yang tewas di tangan rezim penguasa selama setengah abad terakhir. Tuntutan finansial ini kini menjadi syarat mutlak bagi AS dalam setiap pembicaraan diplomatik mendatang.
"Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk memasukkan hal ini dengan tegas ke dalam setiap, dan seluruh, negosiasi di masa depan," kata presiden.
Data mencatat sedikitnya 18 anggota militer Amerika Serikat tewas di Timut Tengah dalam serangan yang berkaitan dengan peperangan melawan Iran sejak Februari lalu. Pertikaian bersenjata antara kedua negara tersebut kini telah melampaui usia lima bulan.
Pernyataan tegas ini menyusul wawancara telepon Trump dengan Axios pada 9 Agustus yang mengindikasikan AS akan menahan aksi militer baru. Washington memilih memantau dampak tekanan ekonomi yang kini tengah mencekik Teheran.
Bagaimana Perubahan Taktik Negosiasi Amerika Serikat Terhadap Iran?
Langkah baru ini menandai pergeseran gaya diplomasi yang signifikan setelah Trump sempat mengancam akan melakukan pancungan jika Iran menolak kesepakatan damai pada 3 Agustus lalu. Kini AS mengubah pendekatan dengan memanfaatkan krisis internal yang dialami musuhnya.
"Kami melakukannya secara tenang," kata Trump kepada Axios, seraya mengisyaratkan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan damai telah melambat.
"Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang," lanjutnya.
Sebelumnya, Trump terus mendorong terwujudnya kesepakatan damai yang dapat menghentikan ambisi dan kemampuan nuklir Iran. Namun, nota kesepahaman yang sempat dicapai kedua negara pada Juni lalu mendadak runtuh tanpa menunjukkan kemajuan berarti hingga saat ini.
Ketegangan geopolitik ini berakar dari eskalasi militer AS-Iran yang membara sejak awal Februari dan melumpuhkan Stabilitas kawasan. Penutupan akses Selat Hormuz oleh Iran serta kehancuran ekonomi domestik Teheran kini menjadi titik krusial yang menyandera proses diplomasi kedua pihak.