- Menteri AHY menekankan pentingnya ketahanan air dalam pembangunan nasional saat membuka Indo Water 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
- Pemerintah memerlukan kolaborasi lintas sektor bersama daerah, akademisi, serta industri guna memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri.
- Pameran yang diselenggarakan PT Napindo tersebut diikuti oleh 700 peserta dari 23 negara di JIExpo Kemayoran.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya ketahanan air sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.
Hal itu disampaikan AHY saat membuka rangkaian pameran Indo Water 2026 Expo & Forum yang digelar bersamaan dengan Indo Waste & Recycling, Indo Renergy & Electric, Indo Security, Indo Firex, serta Indonesia International Smart City 2026 Expo & Forum di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut AHY, persoalan air tidak dapat dipandang sebagai isu yang berdiri sendiri. Pemerintah menempatkan ketahanan air bersama pangan dan energi sebagai bagian dari prioritas pembangunan.
“Kami merasa senang karena tahun ini dapat hadir langsung dalam acara strategis seperti ini, dalam konteks isu ketahanan air untuk menghadirkan Indonesia yang semakin sejahtera dan berkelanjutan,” kata AHY.

Ia mengatakan ketahanan air atau water security perlu diwujudkan dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya menjadi visi pembangunan.
“Water security bukan hanya menjadi visi, tapi menjadi realitas yang bisa kita nikmati sebagai bangsa yang semakin maju dan sejahtera,” ujarnya.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri
AHY mengatakan pemerintah membutuhkan kerja sama dengan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan industri untuk menghadapi persoalan ketahanan air.
Menurut dia, pameran dan forum seperti Indo Water dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak dengan teknologi dan solusi yang telah tersedia.
“Pemerintah tidak mungkin sendirian, perlu adanya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, bersama dengan kalangan akademisi, dan industri bisnis,” kata AHY.
Ia mengatakan kerja sama tersebut dapat diarahkan pada penelitian bersama hingga pengembangan teknologi di dalam negeri.
“Ketika kita punya masalah atau tantangan, kita bisa mencari solusi dengan sejumlah teknologi yang sudah available, yang sudah tersedia di sini. Kita bisa melakukan joint research, joint production,” ujarnya.
Menurut AHY, teknologi yang belum dapat langsung diterapkan tetap dapat dikembangkan melalui penelitian bersama. Tujuannya, kata dia, adalah memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri.
700 peserta dari 23 negara
Pameran yang diselenggarakan PT Napindo Media Ashatama (Napindo) tersebut mencakup sejumlah sektor, mulai dari air dan air limbah, pengelolaan sampah dan daur ulang, energi dan kelistrikan, keamanan, proteksi kebakaran, hingga teknologi kota pintar.
Area pameran seluas sekitar 20.000 meter persegi diisi lebih dari 700 peserta dari 23 negara.
Managing Director PT Napindo Media Ashatama, Arya Seta Wiriadipoera, mengatakan penyelenggaraan Indo Water tahun ini sekaligus menandai 25 tahun pameran tersebut.
“Selama 25 tahun, Indo Water telah menjadi pionir pameran internasional industri air dan air limbah di Indonesia. Namun, perjalanan ini bukan hanya tentang apa yang telah kita capai, melainkan tentang kolaborasi, inovasi, dan peluang yang dapat kita ciptakan bersama,” kata Arya.
Menurut Arya, penyelenggaraan sejumlah pameran secara bersamaan dimaksudkan untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor.
“Melalui penyelenggaraan Indo Water yang bersamaan dengan Indo Waste & Recycling, Indo Renergy & Electric, Indo Security, Indo Firex, dan Indonesia International Smart City, kami ingin menghadirkan platform terintegrasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk berbagi pengetahuan, memperluas jejaring, serta membuka peluang bisnis dan investasi di berbagai sektor strategis,” ujarnya.
Selain pameran, hari pertama kegiatan diisi sejumlah forum dan pelatihan, termasuk seminar “Indonesia Roadmap for Water Resilience and Sustainability”, pelatihan IdWA, serta berbagai sesi presentasi teknologi.
Pameran tersebut juga menghadirkan Coaching Clinic oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan demonstrasi penanganan kebakaran oleh Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta.
Rangkaian kegiatan akan berlanjut hingga Rabu (12/8), antara lain melalui Waste to Energy Forum bersama Kementerian Dalam Negeri, The ASEAN Recycling Summit 3.0, pelatihan IdWA, serta sejumlah forum dan presentasi teknologi.
Di tengah agenda tersebut, isu ketahanan air menjadi salah satu perhatian utama. Bagi pemerintah, tantangannya bukan hanya memastikan ketersediaan air, tetapi juga mempertemukan kebijakan, teknologi, investasi, dan kapasitas daerah agar ketahanan air dapat menjadi bagian dari pembangunan jangka panjang.