-
Kapal MV Tihamah diserang drone di Pelabuhan Bab Al-Mandeb, berdampak pada tiga ABK WNI.
-
Kemlu RI memverifikasi laporan satu ABK tewas serta memastikan dua WNI lainnya mendapatkan perawatan.
-
KBRI Muscat memberikan bantuan hukum, perlindungan medis, dan menyiapkan skema pemulangan para pelaut Indonesia.
Suara.com - Serangan drone secara mendadak menghantam kapal MV Tihamah saat selesai melintas di Selat Bab Al-Mandeb, Yaman, pada Selasa (11/8/2026). Dua awak kapal WNI Indonesia lainnya dipastikan selamat, di mana 1 orang memerlukan rawat inap dan 1 lagi hanya menderita luka ringan.
Insiden berdarah di kawasan Selat Bab Al-Mandeb tersebut berdampak langsung pada 3 warga negara Indonesia yang bekerja sebagai anak buah kapal. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri kini bergerak cepat memverifikasi kabar tewasnya seorang pelaut tanah air dalam peristiwa itu.
Serangan udara di jalur pelayaran vital Laut Merah ini menyoroti kembali besarnya risiko keselamatan pelaut domestik di wilayah konflik Timur Tengah. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengungkapkan bahwa para WNI tersebut merupakan awak kapal MV Tihamah yang diserang drone saat bersandar di Pelabuhan Bab Al-Mandeb.
![Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz [Rusen dengan penyesuaian oleh Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/23/12907-selat-bab-al-mandeb-dan-selat-hormuz.jpg)
Keterangan resmi ini sekaligus memperjelas identitas armada laut yang menjadi target tembakan hulu ledak udara tersebut.
“Dari tiga ABK WNI, satu ABK mengalami luka ringan akibat serpihan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, sementara satu ABK lainnya mengalami luka dan telah mendapat perawatan di rumah sakit,” ucap Heni dalam pernyataan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Selasa Malam.
“Satu ABK WNI lainnya diberitakan oleh sejumlah media internasional meninggal dunia dalam insiden tersebut. Namun, informasi tersebut masih dalam proses verifikasi,” tambah Heni.
Kementerian Luar Negeri terus menyinkronkan data lapangan bersama perwakilan diplomatik guna memastikan kondisi mutakhir seluruh awak.
Bagaimana Langkah Diplomatik Indonesia Mengawal Keselamatan Para Pelaut?
Perwakilan RI di Oman langsung membangun saluran komunikasi intensif dengan para pelaut yang berada di atas kapal kargo tersebut.
Kapal dagang MV Tihamah sendiri berlayar dengan memboyong 11 orang personel, mencakup delapan warga negara Pakistan dan tiga pelaut Indonesia.
Otoritas diplomatik memastikan koordinasi lintas lembaga terus berjalan untuk mengumpulkan kejelasan informasi mengenai nasib korban.
“KBRI Muscat juga tengah berkomunikasi dengan otoritas terkait untuk memperoleh konfirmasi resmi mengenai kondisi dan keberadaan ABK WNI yang bersangkutan,” kata dia.
Pemerintah berjanji memberikan pendampingan penuh serta bantuan kedaruratan bagi para pekerja migran sektor bahari tersebut.
Langkah pemulangan atau repatriasi menuju tanah air siap dilakukan apabila situasi keamanan di perairan Yaman sudah memungkinkan.
“KBRI Muscat turut mempertimbangkan fasilitasi kepulangan para ABK WNI ke tanah air jika kondisi dan situasi memungkinkan,” demikian Heni.