Suara.com - Emisi metana dari tempat pembuangan akhir (TPA) di Amerika Serikat diperkirakan jauh lebih tinggi dibandingkan angka yang selama ini digunakan pemerintah. Temuan peneliti dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Universitas Columbia, menunjukkan pengukuran emisi secara berkelanjutan dapat memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan metode yang digunakan saat ini.
Metana menjadi perhatian karena merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki kemampuan kuat dalam memerangkap panas di atmosfer. Satu ton metana memiliki potensi pemanasan sekitar 28 kali lebih besar dibandingkan jumlah karbon dioksida (CO2) yang sama dalam jangka waktu 100 tahun.
Di TPA, metana terutama terbentuk ketika sampah organik membusuk dan menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme penghasil gas tersebut.
Berdasarkan data pemerintah Amerika Serikat pada 2022, sektor sampah menyumbang sekitar 17% emisi metana negara itu. Emisi tersebut setara dengan sekitar 12% dari total emisi gas rumah kaca AS.
Namun, penelitian yang dilakukan tim dari Lamont-Doherty Earth Observatory menunjukkan angka tersebut kemungkinan belum menggambarkan kondisi sebenarnya.
Perkiraan dinilai terlalu rendah
Selama ini, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menggunakan metode utama bernama LandGEM (Landfill Gas Emissions Model) untuk memperkirakan jumlah emisi metana yang dihasilkan TPA.
Peneliti kemudian membandingkan hasil perhitungan tersebut dengan pengukuran menggunakan teknologi penginderaan jauh, termasuk citra satelit dan pengukuran dari pesawat.
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar.
"Jika Anda mempertimbangkan semua bukti, cukup jelas bahwa perkiraan EPA terlalu rendah," kata Andrew Hallward-Driemeier, peneliti di Lamont-Doherty Earth Observatory sekaligus kandidat PhD Ilmu Bumi dan Lingkungan, yang menjadi penulis utama penelitian dalam jurnal Environmental Science & Technology.
Menurut para peneliti, masing-masing metode memiliki keterbatasan.
Pengamatan melalui satelit atau pesawat, misalnya, dapat terganggu oleh awan dan uap air sehingga tidak selalu mampu menangkap emisi secara akurat.
Sementara itu, pengukuran dari permukaan tanah hanya mencakup area tertentu. Metode tersebut berisiko melewatkan bagian TPA yang memiliki konsentrasi emisi metana lebih tinggi.
Karena itu, para peneliti ingin mengembangkan metode yang dapat mengukur emisi secara terus-menerus.
"Kami ingin meningkatkan metode yang digunakan untuk mengukur secara berkelanjutan guna memberikan perkiraan emisi sepanjang tahun," ujar Hallward-Driemeier.
Pengukuran selama dua setengah tahun
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, tim peneliti menggunakan data pengukuran metana selama sekitar dua setengah tahun.
Data tersebut berasal dari pengukuran di puncak sebuah menara yang dilakukan Universitas Rutgers di dekat TPA di East Brunswick, New Jersey.
Hasil pengukuran tersebut kemudian dibandingkan dengan data emisi yang diperoleh melalui dua penerbangan pesawat.
Para peneliti menemukan hasil yang sejalan antara pengukuran dari menara dan pesawat. Namun, pemantauan dalam jangka panjang memberikan informasi tambahan mengenai bagaimana emisi metana berubah dari waktu ke waktu.
"Kami bisa lihat apa yang terjadi dalam skala waktu yang jauh lebih panjang daripada yang mampu dilakukan oleh pihak lain," kata Róisín Commane, peneliti di Lamont sekaligus profesor madya Ilmu Bumi dan Lingkungan.
Pengukuran tersebut juga membantu peneliti melihat pengaruh kondisi lingkungan terhadap pelepasan metana.
Salah satu faktor yang diperhatikan adalah suhu. Ketika suhu menjadi lebih rendah, mikroorganisme di lapisan tanah TPA yang biasanya mengonsumsi metana dapat menjadi kurang aktif.
Di sisi lain, lapisan TPA yang lebih dalam cenderung tetap lebih hangat. Kondisi ini memungkinkan proses biologis yang menghasilkan metana tetap berlangsung.
Emisi lima kali lebih tinggi
Temuan terbaru ini melanjutkan penelitian tim yang sama pada 2023.
Saat itu, mereka menemukan emisi metana dari TPA yang diteliti mencapai sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa hasil tersebut belum tentu berlaku untuk seluruh TPA.
Commane mengatakan masih diperlukan pengukuran di lebih banyak lokasi untuk mengetahui seberapa luas perbedaan antara estimasi dan kondisi sebenarnya.
"Saya lebih berhati-hati dalam mengatakan seberapa luas hasil ini mungkin terjadi karena kita belum dapat melakukannya di tempat pembuangan sampah lainnya," ujarnya.
Para peneliti mendorong pengelola TPA dan pihak terkait melakukan pengukuran metana secara rutin pada berbagai musim. Dengan begitu, perubahan emisi sepanjang tahun dapat dipahami dengan lebih baik.
Mereka juga menyarankan pengelola TPA meningkatkan sistem pemompaan metana pada waktu yang tepat.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah tekanan udara. Pada kondisi tekanan tinggi, metana dapat terperangkap di dalam TPA karena lebih sulit keluar. Ketika tekanan udara kemudian turun, gas tersebut berpotensi dilepaskan dalam jumlah lebih besar.
"Jika Anda tahu itu akan terjadi, Anda bisa saja memompanya keluar dengan lebih efisien pada waktu tekanan itu belum turun," kata Hallward-Driemeier, seperti dikutip Phys.org, Senin (10/8).
Penulis: Chairunisa