Di Balik Pengalaman Relaksasi, Spa Menyimpan Jejak Karbon yang Tak Terlihat

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:55 WIB
Di Balik Pengalaman Relaksasi, Spa Menyimpan Jejak Karbon yang Tak Terlihat
Spa ternyata bisa bikin meningkatkan jejak karbon (dok.Unsplash/Alan Caishan)

Suara.com - Di balik suasana tenang dan rileks, aktivitas di spa ternyata menyimpan jejak karbon yang cukup banyak. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa satu kali kunjungan ke spa dapat memproduksi emisi hingga kurang lebih lima kilogoram CO2e, bergantung pada ukuran dan fasilitas yang digunakan.

Berdasarkan studi yang terbit di Communications Sustainability, para peneliti dari University of Surrey dan Therme Group memperkenalkan inovasi baru, yakni Dynamic Emissions Calculator for Spa and Wellness Centres (SPA-DEC). Teknologi yang dirancang khsusus untuk menghitung jejak karbon fasilitas spa dan pusat kebugaran.

Dalam mengembangkan inovasinya, para peneliti ini mengkombinasikan data penggunaan energi dan air yang diukur secara langsung dengan estimasi emisi dari limbah serta perjalanan staf, sehingga total emisi gas rumah kaca dapat dihitung untuk setiap kunjungan berdasarkan Scopes 1, 2, 3 dari Greenhouse Gas Protocol.

Untuk menguji tingkat keakuratannya, kalkulator tersebut diuji dengan menggunakan data dar dua lokasi yang berbeda, Therme Bucharest dan Taman Olahraga di University of Surrey.

Hasil dari pengujian di dua lokasi berbeda itu memperlihatkan bahwa rata-rata satu kali kunjungan di fasilitas spa berskala besar dapat menghasilkan sekitar lima kilogram setara dengan karbon dioksida (CO2e). Sementara itu, pada fasilitas dengan skala kecil mampu menghasilkan sekitar 3,5 kilogram karbon dioksida untuk satu kali kunjungan.

Tak hanya itu, para peneliti turut menyoroti terhadap penggunaan energi terbarukan yang dapat memangkas emisi karbon masing-masing sekitar 33 persen pada fasilitas berskala besar dan 14 persen pada fasilitias kecil selama tahun 2024.

Penelitian ini dengan khusus merancang SPA-DEC untuk digunakan pada fasilitas data terukur dan operasional yang sudah ada. Para peneliti mengatakan bahwa sistem ini dapat diterapkan langsung oleh operator dengan ukuran apapun tanpa perlu pengembangan lebih lanjut.

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Therme Group, Dr. Robert Hanea, mengatakan bahwa SPA-DEC merupakan kalkulator jejak karbon pertama di dnia yang dikembangkan khusus untuk industri spa dan pusat kebugaran.

“SPA-DEC kami adalah yang pertama di dunia. Industri kami sekarang memiliki kalkulator jejak karbon sendiri yang telah ditinjau sejawt, bekerja secara real-time, dinamis, dan menggunakan pendekatan bottom-up. Alat ini memungkinkan spa, pusat kebugaran, hingga taman hiburan, baik skala kecil maupun besar, dapat mengelola karbon sebagai aset dan menyusun startegi berkelanjutan dengan mengintegrasikan perhitungan karbon ke dalam operasional sehari-hari,” ujar Hanea.

baca juga

Lebih lanjut, Profesor Teknik Lingkungan, Energi, dan Kimia, Jhuma Sadhukhan, menjelaskan bahwa penilaian siklus hidup merupakan metode penting dalam merancang sistem teknik dan mendukung pengambilan keputusan. Namun, menurutnya, dengan menghitung jejak karbon dari setiap kunjungan ke spa membutuhkan pendekatan yang berbeda dari metode penilaian siklus hidup pada biasanya.

“Menemukan cara untuk membagi emisi seluruh bangunan secara adil kepada setiap pengunjung secara real-time  menjadi hal yang membuat penelitian ini penting dan relevan untuk diaplikasikan di dunia nyata,” paparnya.

Ke depannya, para peneliti berencana untuk mengembangkan kalkulator emisi ini untuk berbagai subsektor pariwisata, termasuk akomodasi, makanan, dan minuman, sekaligus meeting, insentive, conference, and exhibiton (MICE). Dengan pengembangan rangkaian alat tersebut diharapkan mampu memberikan standar penghitungan jejak karbon berbasis sains yang diaplikasikan secara meluas di seluruh sektor pariwisata.

Melalui pendekatan ini, para pelaku usaha diharapkan bisa memantau emisi yang diproduksi dari berbagai aktivitas operasional secara lebih akurat. Di samping itu, dapat menjadikan data tersebut sebagai panduan dalam Menyusun kebijakan dan strategi menuju industri pariwisata yang lebih rendah emisi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bisakah Label dan Pajak Karbon pada Pangan Tekan Emisi Tanpa Bebani Konsumen? Peneliti Ungkap Ini

Bisakah Label dan Pajak Karbon pada Pangan Tekan Emisi Tanpa Bebani Konsumen? Peneliti Ungkap Ini

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 13:05 WIB

Piala Dunia 2026: Mengapa Turnamen ini Disebut berpotensi Jadi yang Paling Tinggi Emisinya?

Piala Dunia 2026: Mengapa Turnamen ini Disebut berpotensi Jadi yang Paling Tinggi Emisinya?

News | Senin, 20 Juli 2026 | 17:55 WIB

Terkini

MA Tolak Kasasi, Advokat Marcella Santoso Tetap Dihukum 15 Tahun Penjara

MA Tolak Kasasi, Advokat Marcella Santoso Tetap Dihukum 15 Tahun Penjara

News | Senin, 14 September 2026 | 20:47 WIB

Piala Saja Tidak Cukup! Ini Kunci Sukses Pelajar Indonesia Menembus Panggung Dunia

Piala Saja Tidak Cukup! Ini Kunci Sukses Pelajar Indonesia Menembus Panggung Dunia

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 20:46 WIB

Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan

Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 20:45 WIB

Kronologi Konser Kotak Mendadak Dihentikan: Bau Menyengat di Lagu ke-10, Tantri Sampai Sesak Napas

Kronologi Konser Kotak Mendadak Dihentikan: Bau Menyengat di Lagu ke-10, Tantri Sampai Sesak Napas

News | Senin, 14 September 2026 | 20:36 WIB

Bahas RUU Perampasan Aset Habiburokhman 'Ditodong' Pukat UGM: Buka Drafnya, Biar Kami Bedah!

Bahas RUU Perampasan Aset Habiburokhman 'Ditodong' Pukat UGM: Buka Drafnya, Biar Kami Bedah!

News | Senin, 14 September 2026 | 20:36 WIB

Dari Anak Sekolah hingga Orang Dewasa, 330 Warga Tangerang Dapat Akses Pendidikan

Dari Anak Sekolah hingga Orang Dewasa, 330 Warga Tangerang Dapat Akses Pendidikan

Banten | Senin, 14 September 2026 | 20:29 WIB

Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu

Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 20:21 WIB

Nikmati Cashback 20% Pakai QRIS BRImo di Cafe Kissa

Nikmati Cashback 20% Pakai QRIS BRImo di Cafe Kissa

Bri | Senin, 14 September 2026 | 20:18 WIB

Malam Ini, Kualitas Udara di Pekanbaru Sangat Tidak Sehat

Malam Ini, Kualitas Udara di Pekanbaru Sangat Tidak Sehat

Riau | Senin, 14 September 2026 | 20:17 WIB

Besok Sekolah Palembang Masuk atau Masih Daring? Ini Patokan ISPU untuk Tatap Muka

Besok Sekolah Palembang Masuk atau Masih Daring? Ini Patokan ISPU untuk Tatap Muka

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 20:16 WIB

×