-
Ledakan gas metana di tambang batu bara Balochistan menewaskan sedikitnya 32 penambang.
-
Mayoritas tambang di Pakistan beroperasi tanpa ventilasi udara dan sistem pemantau gas layak.
-
Kemiskinan ekstrem memaksa ribuan warga Balochistan bertahan bekerja di tambang batu bara berbahaya.
Suara.com - Akumulasi gas metana memicu ledakan dahsyat yang merenggut sedikitnya 32 nyawa penambang di kawasan Sorange, Balochistan. Musibah ini kembali menyingkap tabir kelam minimnya standar keselamatan kerja pada industri batubara Pakistan.
Upaya pencarian yang berlangsung lebih dari 12 jam kini berada di titik krusial dengan harapan menemukan korban selamat yang kian menipis. Tim penyelamat terus menyisir reruntuhan lorong tambang yang hancur akibat ledakan dahsyat pada Kamis tersebut.
Tragedi mematikan ini berakar dari kerapuhan pengawasan keselamatan di wilayah yang mengandalkan batubara sebagai penopang hidup warga. Impitan ekonomi memaksa para pekerja terus mempertaruhkan nyawa di bawah ancaman bahaya gas beracun.
Otoritas penanggulangan bencana daerah mengonfirmasi sebagian besar korban jiwa telah berhasil dievakuasi dari dalam lorong. Penyelamat masih berjuang keras mengeluarkan sisa jenazah yang terjebak di kedalaman tambang.
"Kami telah menemukan 29 jenazah sejauh ini. Tim penyelamat kami telah menemukan tiga jenazah lagi di dalam tambang dan sedang berusaha mengevakuasi mereka," kata seorang pejabat Badan Penanggulangan Bencana Provinsi dikutip dari Al Jazeera, Jumat (31/7/2026).
Kepala Inspektur Tambang Provinsi, Muhammad Atif, menyebutkan ada 36 pekerja yang berada di dalam lorong saat ledakan terjadi. Jumlah tersebut memperjelas skala bahaya yang dihadapi para penambang saat bencana melanda.
Dampak ledakan diketahui sangat masif hingga merusak dua lokasi penambangan yang saling berdekatan. Kerusakan struktur lorong memperlambat proses evakuasi yang dilakukan tim tanggap darurat.
Pejabat senior pemerintah bidang pertambangan daerah, Abdul Ghani Baloch, menyatakan bahwa "dua tambang yang berdekatan rusak akibat ledakan kuat tersebut." Kondisi ini memperparah kerusakan di area bencana.
Operasi penyelamatan terus berjalan intensif meski peluang menemukan pekerja yang masih hidup sangat kecil. Petugas bekerja penuh risiko di tengah sisa-sisa gas beracun yang membahayakan.
Tim gabungan bencana terus memacu waktu sebelum kondisi di dalam tanah semakin memburuk. Setiap detik menjadi sangat berharga bagi evakuasi seluruh korban terperangkap.
Kecelakaan kerja mematikan sudah menjadi realitas berulang dalam industri penambangan batubara di Pakistan, khususnya di wilayah Balochistan. Banyak lokasi tambang beroperasi tanpa fasilitas sistem pemantauan gas yang memadai.
Selain itu, keterbatasan saluran ventilasi udara yang buruk memperbesar risiko ledakan akibat penumpukan gas berbahaya. Kondisi kerja ekstrem ini terus memicu insiden fatal dari tahun ke tahun.
Serikat pekerja dan kelompok buruh telah lama mengkritik para pemilik tambang yang mengabaikan regulasi keselamatan. Mereka menilai pengusaha kerap gagal menyediakan perlengkapan pelindung diri yang layak bagi pekerja.
Meskipun dibayang-bayangi bahaya maut dan upah yang sangat murah, ribuan penambang tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Industri batubara menjadi satu-satunya tumpuan mata pencaharian utama warga setempat.
Sebagai provinsi terluas namun paling tertinggal di Pakistan, Balochistan terus dibelit masalah kemiskinan dan pengangguran tinggi. Realitas pahit inilah yang memaksa ribuan warga terus menggantungkan hidup di kedalaman tambang batubara.