-
Iran menolak membuka Selat Hormuz sampai Amerika Serikat menghentikan perang dan mencabut blokade.
-
Penutupan jalur maritim vital ini memicu kenaikan harga energi dan pupuk di pasar internasional.
-
Amerika Serikat dianggap melanggar kesepakatan Juni sehingga Iran memberlakukan kembali pembatasan pelayaran.
Suara.com - Iran menetapkan posisi tawar keras dengan mengunci Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan agresi militer di Asia Barat. Langkah tegas ini memicu lonjakan harga komoditas energi serta pupuk global secara signifikan.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru, Mohsen Rezaei, menyampaikan penegasan tersebut langsung kepada Duta Besar Tiongkok Zong Piyu. Kebijakan blocking pelayaran internasional ini menjadi penentu utama stabilitas ekonomi dunia saat ini.
Ketergantungan pasar global terhadap jalur maritim vital ini dimanfaatkan Teheran untuk menekan Amerika Serikat. Lewat negosiasi tidak langsung, beberapa poin krusial telah dikirimkan kepada pihak Washington melalui mediator internasional.
![Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz [Rusen dengan penyesuaian oleh Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/23/12907-selat-bab-al-mandeb-dan-selat-hormuz.jpg)
Pemerintah Iran memisahkan urusan transit lokal dengan keputusan geopolitik penutupan perairan strategis tersebut. Kesepakatan bilateral dengan Oman mengenai rute pelayaran tidak akan mengikis keputusan Teheran terkait penutupan jalur.
"Selama AS tidak mengubah perilakunya dan menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali," kata Rezaei, dikutip dari Mehrnews, Rabu (12/8/2026).
Mengapa Amerika Serikat Mendesak Pembukaan Selat Hormuz?
Krisis pasokan bahan bakar dunia memaksa Gedung Putih merayu Iran melalui pihak ketiga agar segera memulihkan lalu lintas laut. Tekanan ekonomi global akibat pembatasan maritim ini menjadi alasan utama kepanikan sekutu barat.
Padahal, kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu untuk memulihkan navigasi secara bertahap. Kesepakatan itu mensyaratkan Amerika Serikat menghapus sanksi ekonomi dan membebaskan blokade terhadap wilayah Iran.
Kebijakan pembukaan kembali terpaksa dibatalkan setelah Washington dituduh merusak wewenang pengelolaan kawasan maritim Iran. Pelanggaran kesepakatan MoU oleh Amerika Serikat memicu Teheran menerapkan kembali pembatasan ketat di Selat Hormuz.
Langkah diplomatik Beijing yang menolak draf resolusi PBB garapan Amerika Serikat dan Israel mendapat apresiasi tinggi dari Teheran. Kemitraan strategis melalui BRICS dan Shanghai Cooperation Organization dinilai memperkuat posisi tawar Iran di tingkat internasional.
“Kami meyakini bahwa Iran, selain memiliki kekuatan, juga memiliki sikap bijaksana dan kearifan, serta mampu mengelola situasi tersebut,” ujar Zong Piyu.
Apa Saja Tuntutan Utama Iran Kepada Amerika Serikat?
Duta Besar Tiongkok menegaskan kembali penolakan negaranya terhadap serangan militer yang dilancarkan pihak Amerika Serikat dan Israel. Beijing mendorong empat poin inisiatif perdamaian untuk meredakan ketegangan geopolitik yang terus membara di kawasan tersebut.
Melalui unggahan resmi di platform X, Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran merinci tuntutan mutlak yang wajib dipenuhi Washington. Iran menuntut penghentian perang, pencabutan blokade, pembebasan aset negara yang dibekukan, hingga gencatan senjata menyeluruh.
“Pesan Iran jelas: Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai AS mengakhiri perang dan blokade, mencairkan aset Iran yang dibekukan, serta menyetujui gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon dan Gaza,” tegas Rezaei.