- Dua diaspora Indonesia, Salsa Erwina dan Sindi Wulandari, tetap mempertahankan status WNI setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri.
- Salsa Erwina tinggal di Denmark dan Sindi Wulandari menetap di Australia untuk bekerja serta membangun karier profesional.
- Kedua diaspora tersebut menilai kritik terhadap pemerintah dan kecintaan mendalam terhadap Indonesia tidak saling bertentangan.
Suara.com - Bagi sebagian orang Indonesia yang memilih menetap di luar negeri, kewarganegaraan mungkin pada akhirnya menjadi persoalan administratif. Namun bagi dua diaspora asal Indonesia, menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Salsa Erwina telah menjalani kehidupan sebagai diaspora selama sekitar satu dekade. Empat tahun ia habiskan di Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum kemudian pindah ke Aarhus, Denmark, pada 2020.
Sementara Sindi Wulandari sudah 13 tahun tinggal di Sydney, Australia. Sebagian besar kehidupan dewasanya justru ia jalani di negeri kanguru tersebut.
Keduanya telah membangun karier dan kehidupan di negara yang berbeda. Mereka mengenal sistem sosial yang berbeda, bekerja dengan orang dari berbagai latar belakang, serta memiliki kesempatan untuk melihat Indonesia dari jarak ribuan kilometer.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah: keduanya masih memilih Indonesia sebagai identitas dan mempertahankan status sebagai WNI.
Pilihan itu menjadi menarik ketika Indonesia tengah menghadapi berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah dan tata kelola negara yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Bagi Salsa dan Sindi, kritik tersebut tidak otomatis membuat kecintaan terhadap Indonesia menghilang. Justru dari kejauhan, rasa memiliki terhadap Indonesia terkadang terasa semakin kuat.
Sepuluh Tahun Merantau, Semakin Jauh Justru Semakin Dekat dengan Indonesia
Salsa meninggalkan Indonesia pada 2016, ketika baru sekitar satu setengah tahun bekerja setelah lulus kuliah.
Ia memilih mencari kesempatan kerja di Kuala Lumpur. Di Malaysia, karier profesionalnya berkembang dari Content Marketing Executive hingga menduduki posisi Head of Business Development.
Pada 2020, Salsa pindah ke Aarhus, Denmark. Setelah sempat bekerja secara remote untuk perusahaan pendidikan di Indonesia, ia kemudian bergabung dengan Vestas, perusahaan energi terbarukan asal Denmark, sebagai Agile Portfolio Specialist.
Sepuluh tahun hidup sebagai diaspora membuatnya memiliki perspektif yang berbeda terhadap Indonesia.
Menurut Salsa, tinggal di luar negeri membuat seseorang dapat melihat cara institusi bekerja, pemerintah memberikan pelayanan, pajak dikembalikan kepada masyarakat, hingga bagaimana akuntabilitas dijalankan.
Dari kesadaran itu kemudian muncul pertanyaan yang membuatnya teringat dengan negaranya sendiri.
"Kenapa hal yang sama tidak bisa kita perjuangkan untuk Indonesia?" tutur Salsa saat dihubungi suara.com.
Daya kritis yang telah ia asah sejak berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) justru menguat selama dirinya menjadi diaspora. Sikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang ditunjukkan di media sosial, Salsa tegaskan sebagai bentuk kepedulian terhadap tanah airnya sendiri.
Ada rasa rindu, sayang, sekaligus frustrasi ketika melihat Indonesia yang memiliki potensi besar tetapi belum mampu memberikan kehidupan yang layak bagi sebanyak mungkin masyarakatnya.
Karena itu, meski secara administratif ia sudah memiliki permanent resident atau izin tinggal tetap di Denmark dan kewarganegaraan Denmark mungkin menjadi kemungkinan di masa depan, Salsa mengaku belum siap mengganti kewarganegaraan.
"Bicara mengganti kewarganegaraan, sampai sekarang secara emosional itu masih terasa berat buatku," ucapnya.
Baginya, tinggal di luar negeri merupakan perjalanan untuk berkembang, membangun karier, memperluas perspektif, dan menyelami dunia. Di dalam dirinya masih selalu ada kemungkinan untuk pulang kembali ke Indonesia, negara yang masih ia anggap sebagai rumah.
Sindi: 13 Tahun di Sydney, Tetap Bangga Mengatakan "I'm Indonesian"
Pengalaman serupa dirasakan Sindi Wulandari.
Sejak 2013, Sydney menjadi tempatnya menjalani kehidupan dewasa. Ia belajar hidup mandiri, bekerja, bertemu orang dari berbagai negara, hingga membangun kehidupan di sana.
Saat ini Sindi bekerja di sebuah perusahaan travel retail di Sydney International Airport di bidang learning and development, khususnya training.
Lingkungan pekerjaannya membuat Sindi setiap hari bertemu orang dengan latar belakang berbeda.
Ketika memberikan orientasi kepada karyawan baru, ia kerap bertanya dari mana mereka berasal. Jawabannya beragam, mulai dari negara, suku, ras, bahasa, dan budaya.
Namun ketika tiba gilirannya memperkenalkan diri, Sindi mengaku selalu bangga menyebut dirinya orang Indonesia.
"Setiap kali giliran saya memperkenalkan diri, saya selalu sangat bangga mengatakan, I’m Indonesian,'" katanya.
Sydney memang telah menjadi rumah dan bagian penting dari kehidupannya. Tetapi identitas sebagai orang Indonesia tidak pernah berkurang.
Sindi mengakui tinggal di Australia membuatnya memiliki perspektif berbeda ketika melihat persoalan di Indonesia. Ia pun tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi.
Ada saat ketika ia merasa sedih dan kecewa, bahkan mempertanyakan mengapa sejumlah persoalan masih terjadi di Indonesia. Namun semua itu tidak membuatnya ingin melepaskan Indonesia.
"Buat saya, Indonesia jauh lebih besar daripada persoalan yang sedang terjadi hari ini," kata Sindi.
Indonesia, baginya, adalah tempat lahir dan tumbuh, keluarga, bahasa pertama, makanan, budaya, tradisi, kenangan masa kecil, hingga nilai-nilai kecil yang tanpa sadar terus dibawa ke mana pun ia pergi.
Karena itu, kewarganegaraan tidak pernah ia lihat hanya sebagai persoalan paspor.
"Mungkin di atas kertas kewarganegaraan terlihat seperti sebuah paspor. Tapi bagi saya ada sesuatu yang jauh lebih emosional di baliknya. Ada rasa memiliki," ujarnya.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan
Bagi kedua diaspora tersebut, pengalaman hidup di negara lain juga membuat makna kemerdekaan menjadi lebih luas.
Salsa melihat kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai ketika penjajah meninggalkan Indonesia pada 1945. Baginya, kemerdekaan harus bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
"Bukan keadilan sosial bagi mereka yang punya uang. Bukan bagi mereka yang punya koneksi. Bukan bagi mereka yang dekat dengan kekuasaan. Tetapi seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
Ia menyoroti masih besarnya pekerjaan rumah Indonesia dalam persoalan korupsi dan ketimpangan.
Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2025 menempatkan Indonesia di skor 34 dari 100 dan peringkat 109 dari 182 negara. Angka itu turun tiga poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, Singapura berada di peringkat ketiga dengan skor 84, sedangkan Australia berada di peringkat ke-12 dengan skor 76.
Menurut Salsa, Indonesia memang sudah merdeka dari penjajahan bangsa asing. Namun generasi sekarang masih memiliki perjuangan lain.
"Menurutku perjuangan generasi kita adalah memerdekakan Indonesia dari bentuk penjajahan yang lain. Dari korupsi, dari penyalahgunaan kekuasaan, dari sistem yang membuat akses terhadap kesempatan sangat bergantung pada uang, koneksi, atau siapa yang kita kenal," katanya.
Bagi dia, mengkritik pemerintah atau institusi tidak bertentangan dengan mencintai Indonesia.
Sementara bagi Sindi, tinggal di Australia membuat makna kemerdekaan terasa lebih personal.
Kemerdekaan, menurutnya, adalah ketika seseorang memiliki kesempatan dan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri untuk belajar, bekerja, menyampaikan pendapat, mengejar mimpi, melihat dunia, dan menjadi versi terbaik dari dirinya.
Namun, hidup jauh dari Indonesia juga mengajarkannya satu hal: melihat dunia tidak berarti harus kehilangan akar.
"Saya bisa hidup di Australia, bekerja dengan orang dari berbagai negara dan belajar dari begitu banyak budaya, tetapi saya tetap bisa pulang ke rumah dan menjadi diri saya sendiri sebagai orang Indonesia," kata Sindi.
Indonesia Punya Kekayaan, Tapi Siapa yang Menikmatinya?
![Diaspora Indonesia, Sindi Wulandari. [Dok. Pribadi]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/08/13/43042-sindi-wulandari.jpg)
Salsa melihat pertanyaan besar mengenai masa depan Indonesia bukan lagi soal apakah negara ini memiliki modal untuk menjadi maju.
Menurutnya, Indonesia memiliki hampir semua yang dibutuhkan. Laut yang luas, tanah subur, hutan, mineral, biodiversitas, ribuan pulau, populasi besar, budaya yang beragam, hingga posisi geografis yang strategis.
"Jadi pertanyaan besar buatku sebenarnya bukan lagi, 'Apakah Indonesia punya cukup kekayaan?' Kita punya. Pertanyaannya adalah, siapa yang menikmati kekayaan itu?" ujarnya.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat data ketimpangan.
Badan Pusat Statistik mencatat, pada September 2025, 40 persen penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah hanya memiliki porsi 19,28 persen dari total pengeluaran masyarakat. Pada periode yang sama, Gini Ratio Indonesia berada di angka 0,363.
World Bank juga mencatat 68,3 persen penduduk Indonesia pada 2024 berada di bawah garis kemiskinan yang digunakan untuk negara berpendapatan menengah atas atau upper-middle income countries.
Namun, angka tersebut bukan berarti 68,3 persen masyarakat Indonesia dikategorikan miskin menurut ukuran resmi nasional. World Bank menjelaskan angka itu menggunakan garis kemiskinan internasional untuk perbandingan antarnegara, sementara garis kemiskinan nasional Indonesia tetap menjadi ukuran yang relevan untuk kebijakan dalam negeri.
Bagi Salsa, data tersebut menunjukkan masih panjangnya perjalanan Indonesia menuju kehidupan yang benar-benar sejahtera bagi seluruh masyarakat.
Ia membandingkannya dengan pengalaman melihat negara lain yang tidak selalu memiliki sumber daya alam sebesar Indonesia, tetapi mampu menyediakan pendidikan, transportasi publik, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan rasa aman bagi masyarakat.
Dari situlah keyakinannya terhadap Indonesia justru semakin kuat. Indonesia, menurutnya, tidak kekurangan potensi.
Yang menentukan adalah bagaimana kekayaan tersebut dikelola, bagaimana institusi dibangun, seberapa besar integritas orang-orang yang memegang kekuasaan, serta apakah keputusan politik benar-benar dibuat untuk kepentingan publik.
Ia membayangkan Indonesia sebagai negara tempat anak yang lahir dari keluarga miskin tetap memiliki kesempatan besar mengubah hidupnya.
Negara tempat seseorang tidak perlu memiliki "orang dalam" untuk mendapatkan haknya. Negara tempat seseorang tidak harus lahir dari keluarga tertentu untuk memperoleh pendidikan terbaik.
Dan negara tempat kekayaan alam tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi perusahaan atau elite, tetapi juga sekolah, rumah sakit, pekerjaan layak, lingkungan yang terjaga, dan kehidupan bermartabat bagi masyarakat di sekitarnya.
"Aku ingin sila kelima Pancasila tidak hanya menjadi sesuatu yang kita hafalkan sejak SD. Aku ingin kita benar-benar bisa merasakannya. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," harap Salsa.
Rindu Indonesia Justru Muncul dari Hal-Hal Sederhana
Sementara bagi Sindi, rasa memiliki terhadap Indonesia justru sering muncul dari hal-hal yang sederhana.
Ia merindukan keluarga, makanan Indonesia, suasana ramai, makanan pinggir jalan, bercanda tanpa perlu menjelaskan konteks, berkumpul bersama keluarga hingga sekadar duduk dan makan bersama.
Hal-hal yang dulu terasa biasa ketika masih tinggal di Indonesia justru terasa berharga setelah bertahun-tahun hidup jauh.
Ada pula kebiasaan kecil yang tanpa sadar tetap ia bawa di Sydney. Ketika seseorang mengucapkan terima kasih, misalnya, Sindi kerap meletakkan tangan di dada sebelah kiri sambil sedikit mengangguk.
Ketika menunjukkan arah, ia terbiasa menggunakan tangan terbuka, bukan menunjuk dengan satu jari.
Orang-orang yang bekerja bersamanya terkadang menyadari kebiasaan itu dan bertanya mengapa ia melakukannya.
Sindi pun dengan bangga menjawab, "Yes, it is. That's how we do it in Indonesia."
Baginya, kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa identitas tidak selalu sesuatu yang secara sadar dipertahankan. Budaya telah menjadi bagian dari diri seseorang.
Sydney memang telah menjadi rumah yang ia pilih saat ini. Tempatnya bekerja, tumbuh, dan membangun kehidupan. Tetapi Indonesia tetap menjadi tanah air yang telah membentuk diri dan membawanya hingga ke benua lainnya.
"Karena selama apa pun saya tinggal di luar negeri, ketika saya kembali ke Indonesia saya tidak pernah merasa sedang datang sebagai turis atau sekadar berkunjung. Saya merasa pulang," kata Sindi.
Pergi Sejauh Mungkin, Tetap Punya Tempat untuk Pulang
Cerita Salsa dan Sindi memperlihatkan bahwa menjadi diaspora tidak selalu berarti semakin jauh dari Indonesia.
Sebaliknya, jarak dapat memberikan perspektif baru tentang apa yang ingin dipertahankan, apa yang perlu dikritik, dan seperti apa Indonesia yang mereka harapkan.
Keduanya tidak menutup mata terhadap persoalan di tanah air. Mereka melihat kritik terhadap pemerintah, persoalan ketimpangan, korupsi, kesempatan yang belum merata, dan berbagai persoalan tata kelola sebagai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Namun, rasa kecewa tidak membuat mereka berhenti merasa sebagai bagian dari Indonesia.
Sindi bahkan tidak berharap Indonesia menjadi seperti Australia. Ia ingin Indonesia maju dengan identitasnya sendiri.
Salsa pun masih menyimpan kemungkinan untuk suatu hari pulang, meski belum mengetahui seperti apa bentuk kepulangannya.
Pada akhirnya, bagi dua diaspora ini, kemerdekaan bukan tentang memilih antara Indonesia atau dunia.
Mereka justru memilih untuk pergi sejauh mungkin, belajar sebanyak mungkin, membangun kehidupan di tempat lain, namun tetap membawa Indonesia di dalam diri.