- Arab Saudi berhasil mengalihkan ekspor minyak ke Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz.
- Uni Emirat Arab dan negara Teluk lain masih rentan terhadap ancaman serangan militer.
- Pembangunan rute pipa baru membutuhkan biaya sangat mahal dan waktu bertahun-tahun.
Suara.com - Pengalihan jalur ekspor minyak oleh Arab Saudi terbukti meredam krisis energi akibat blokade Selat Hormuz. Namun, mayoritas produsen minyak di teluk lain masih terjebak tanpa jalur darurat yang memadai.
Keberhasilan pemindahan pasokan via Laut Merah menegaskan bahwa infrastruktur darat menjadi penentu ketahanan energi di masa perang. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas cadangan negara tetangga memperjelas betapa rapuhnya rantai pasok global.
Strategi diversifikasi rute pipa minyak kini bukan lagi sekadar pilihan efisiensi, melainkan kebutuhan hidup mati bagi ekonomi Teluk. Namun, risiko serangan nirawak tetap membayangi pelabuhan di luar jalur utama tersebut.
![Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, pada 21 Juni. [West Asia News Agency/via Reuters]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/27/92283-selat-hormuz.jpg)
Arab Saudi memanfaatkan Pipa Timur-Barat untuk mengalirkan minyak mentah dari ladang timur menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah strategis ini membuat Kerajaan mampu menjaga kelancaran pengiriman tanpa menyentuh Selat Hormuz.
Data IMF PortWatch mencatat volume pengiriman Saudi dari pantai Teluk merosot dari 47,5 juta ton menjadi 6,3 juta ton pada April dan Mei. Pada periode yang sama, pasokan lewat Laut Merah melesat dari 29,6 juta ton menjadi 54,8 juta ton.
Bagaimana Nasib Uni Emirat Arab di Tengah Krisis Rute Laut?
Peningkatan ekspor sebesar 25,2 juta ton tersebut berhasil menggantikan sekitar 61 persen volume minyak yang hilang di kawasan Teluk Persia. Kenaikan pasokan ini membuktikan pipa darat berfungsi efektif sebagai sarana pengiriman utama saat krisis.
Sebaliknya, Uni Emirat Arab menghadapi kendala besar meskipun memiliki jalur Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi. Jalur tersebut mengalirkan minyak dari Habshan menuju Fujairah di luar Selat Hormuz.
Pelabuhan Fujairah dan wilayah sekitarnya yang berada di luar selat ternyata tetap berada dalam jangkauan serangan rudal serta drone. Selama pertempuran berlangsung, kapal dan fasilitas di pantai timur Uni Emirat Arab turut menjadi sasaran tembak.
Lalu lintas kapal di pantai Teluk Persia milik Uni Emirat Arab anjlok dari 68,5 juta ton menjadi 12 juta ton. Pengiriman dari pelabuhan alternatif mereka juga ikut merosot dari 13,7 juta ton menjadi 6,3 juta ton.
Penurunan tersebut terjadi karena kapasitas fisik Fujairah belum mampu menandingi pelabuhan raksasa seperti Jebel Ali. Selain itu, tingginya risiko perang membuat perusahaan asuransi dan pemilik kapal enggan merapat.
Mampukah Pipa Baru Menjadi Solusi Instan Pasar Energi?
Para pakar dan pemerintah mulai memperbincangkan rencana pembangunan jaringan pipa lintas negara yang jauh lebih besar. Ekonom Hassan Mansour menyebutkan wacana koneksi pipa dari Irak menuju Oman dan Yordania, serta rute melingkari benua Afrika.
Proyek besar tersebut membutuhkan biaya sangat fantastis dan waktu pengerjaan yang memakan tahunan. Mansour memperkirakan pipa Basra-Aqaba memerlukan waktu lima hingga tujuh tahun dengan biaya 8 hingga 10 miliar dolar AS.
Pembangunan pipa Basra-Oman diproyeksikan menelan dana 10 hingga 15 miliar dolar AS. Di samping itu, pengalihan rute kapal membentangi Tanjung Harapan bakal membengkakkan biaya transportasi ratusan ribu dolar per pelayaran.
"Intinya adalah proyek-proyek ini tidak dapat menyelesaikan masalah mendesak di pasar minyak," kata Mansour. Selain faktor biaya, jalur Laut Merah juga menghadapi ancaman keamanan di Selat Bab al-Mandab akibat serangan kelompok Houthi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyuarakan perlunya jalur alternatif alih-alih melewati titik kemacetan Selat Hormuz dan Selat Bab-al-Mandab agar aliran minyak tetap berjalan.
Menurut laporan The Times of Israel, ia mengusulkan pipa minyak, pipa gas yang menuju ke barat melintasi Semenanjung Arab hingga ke Israel, tepat sampai ke pelabuhan Laut Tengah kami.
Mengapa Negara Kecil Teluk Sangat Tergantung pada Hormuz?
Netanyahu meyakini jaringan pipa melintasi Semenanjung Arab membuat negara-negara baru saja menghilangkan titik kemacetan untuk selamanya dan menegaskan gagasan tersebut pasti memungkinkan. Namun, pengamat politik Tehran Rahman Ghahremanpour menilai pipa alternatif tetap memiliki celah keamanan fatal di masa perang.
"Pipa-pipa ini dapat mengurangi dampak Selat Hormuz, tetapi di masa perang pipa-pipa itu sendiri rentan," kata Ghahremanpour kepada DW.
Ia menambahkan bahwa drone Iran maupun Houthi dapat menjangkau Fujairah hingga Laut Merah.
Kondisi ini menempatkan Qatar, Kuwait, dan Bahrain dalam posisi yang sangat rentan.
"Tidak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mereka tidak memiliki garis pantai di luar Teluk Persia. Setiap rute alternatif memerlukan kerja sama dengan negara lain, berpotensi melibatkan Irak, Suriah, Yordania, atau Israel," kata Ghahremanpour.
Akibat ketiadaan garis pantai luar, ketiga negara tersebut dipastikan tetap bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz dalam jangka pendek. Padahal sebelum konflik pecah, sekitar 20 juta barel minyak dan produk olahannya melintasi selat ini setiap hari.
Ghahremanpour mengingatkan bahwa pipa saja tidak dapat menyelesaikan masalah karena pelabuhan, terminal, dan pipa juga bisa diserang. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan militer Amerika Serikat telah mengamankan rute navigasi.
"Kami telah membersihkan ranjau di seluruh selat," kata Donald Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Bagaimana Konflik Hormuz Memengaruhi Posisi Tawar Iran?
Penutupan selat dalam jangka panjang justru bisa berbalik merugikan posisi diplomatik dan keamanan Iran sendiri. Ghahremanpour menilai penutupan yang terlalu lama akan memicu terbentuknya koalisi internasional yang jauh lebih luas untuk melawan Tehran.
"Jika Iran menjaga Hormuz tetap tertutup terlalu lama, asumsi bahwa gangguan ini bersifat sementara bisa lenyap dan koalisi internasional yang jauh lebih luas dapat terbentuk melawan Tehran," ujar Ghahremanpour. Oleh karena itu, tujuan Iran adalah mencegah terbentuknya koalisi semacam itu.
Krisis Selat Hormuz dipicu oleh eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan kekuatan regional Teluk. Ketegangan meningkat setelah pejabat Iran menutup selat dan menuntut AS mematuhi kesepakatan serta memberikan ganti rugi.