-
Perang Gaza menghancurkan fasilitas terapi dan memicu kejutan sensorik penderita autisme.
-
Kelangkaan obat saraf memperparah kejang dan kemunduran perilaku anak-anak berkebutuhan khusus.
-
Orang tua berjuang mandiri tanpa pendampingan medis pasca-hancurnya pusat pendidikan khusus Gaza.
"Ketika dipaksa tinggal di tenda di tengah ledakan yang terus-menerus, otak mereka menerima kejutan sensorik yang tidak dapat diproses. Ketakutan ini menjelma menjadi insomnia, masalah pencernaan, dan jeritan parah di mana anak kehilangan kendali sepenuhnya," tambah Abu Aoun.
Di kamp Nuseirat, Muneer al-Haj yang berusia 19 tahun mengepalkan tangan dan berjalan bolak-balik saat mendengar gempuran udara. Pemuda yang sebelumnya berbakat menggambar ini kini mengalami kejang dan jeritan histeris akibat pasokan obat penenang yang menipis.
Bagaimana Orang Tua Menghadapi Kemunduran Perilaku Anak?
Dosis obat Muneer terpaksa dipangkas menjadi setengah tablet sehari akibat blokade pasokan medis. Ayahnya, Abu Muneer, mengungkapkan betapa sulitnya menjaga stabilitas emosi sang anak dalam kondisi darurat.
"Dia dulunya berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya dengan jelas, tetapi perang menghabiskan segalanya… ruang aman ini larut menghadapi kesulitan dan ketakutan," kata Abu Muneer.
"Dia sekarang mengajukan pertanyaan mendesak yang tidak bisa kami jawab, memasuki serangan parah jika tidak terselesaikan. Kami mencoba menenangnkannya selama pengeboman dengan mengatakan 'Tuhan akan melindungi kita', tetapi dia menyadari apa yang terjadi, mengekspresikan penderitaannya dengan mengatakan: 'Saya tanpa tempat tinggal atau tanah air,'" ungkap Abu Muneer.
"Ketiadaan ruang aman dan habisnya obat penenang mengubah upaya kami untuk menenangkan anak-anak menjadi usaha individual yang sarat ketakutan dan kebingungan," tutur Abu Muneer.
Pemutusan obat psikiatri secara mendadak menimbulkan reaksi rebound berbahaya pada kimia otak anak. Abu Aoun memperingatkan bahwa hal tersebut memicu kejang keras dan meningkatkan dorongan menyakiti diri sendiri.
Mengapa Fasilitas Pendukung dan Alat Rehabilitasi Lenyap?
"Penghentian mendadak atau pengurangan paksa dosis obat psikiatri dan anti-kejang… menciptakan gangguan parah pada kimia otak," terang Abu Aoun.
"Ketika seorang anak dirampas obatnya atau hanya menerima setengah dosis, sistem saraf memasuki efek rebound yang parah. Kejang hebat dan konvulsi akut meningkat, mendorong tindakan menyakiti diri sendiri dan mencegah respons terhadap pelatihan perilaku," tegas Abu Aoun.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tidak ada peralatan rehabilitasi yang diizinkan masuk ke Gaza sejak Mei 2024 hingga April tahun ini. Keadaan makin memprihatinkan setelah Pusat Pendidikan Khusus Palestina hancur total dan mantan direkturnya, Arij Abu Sultan, gugur.
Kepala Program Autisme Organisasi Dolphins, Reem Jarour, menekankan bahwa rutinitas merupakan katup pengaman neurologis bagi penderita autisme. Pengungsian mendadak menghancurkan fondasi perilaku yang telah dibangun bertahun-tahun.
"Anak autis tidak dapat bertahan hidup tanpa ekosistem yang dapat diprediksi; rutinitas adalah katup pengaman neurologis," tegas Jarour.
"Apa yang kita saksikan hari ini di Gaza adalah kehancuran total fondasi perilaku yang dibangun selama bertahun-tahun. Pengungsian mendadak mengubah pemicu lingkungan menjadi ancaman akut, menyebabkan kemunduran masif dalam keterampilan berbahasa dan sosial," pungkas Jarour.
Konfrontasi bersenjata yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menelan lebih dari 73.380 korban jiwa di Gaza. Peristiwa ini menghancurkan infrastruktur sipil, termasuk fasilitas medis dan lembaga pendidikan khusus anak berkebutuhan khusus.