Punya Potensi Besar, Mengapa Ketahanan Pangan Indonesia Belum Optimal?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:55 WIB
Punya Potensi Besar, Mengapa Ketahanan Pangan Indonesia Belum Optimal?
ilustrasi umbi-umbian talas.[Pixabay.com]

Bagi Wawan, pengetahuan ekologi tradisional merupakan salah satu aset yang dapat mendukung keberlanjutan sumber daya hayati.

Masyarakat terdahulu, kata dia, telah mengembangkan sistem pengelolaan ruang dan sumber daya alam yang mempertimbangkan fungsi ekologis, sosial dan budaya.

“Pengetahuan ekologi tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi merupakan sumber pengetahuan yang telah teruji dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” katanya.

Karena itu, pengetahuan tersebut perlu didokumentasikan dan dikembangkan, sekaligus dipadukan dengan penelitian ilmiah modern.

Tantangannya, pengetahuan tersebut menghadapi risiko tergerus perubahan pola konsumsi dan perkembangan pembangunan.

Pergeseran preferensi masyarakat terhadap pangan modern menjadi salah satu persoalan. Di sisi lain, dokumentasi pengetahuan lokal masih terbatas, sementara kebijakan, penelitian dan hilirisasi pangan lokal dinilai belum berkembang secara optimal.

Pembangunan di sejumlah wilayah juga berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya hayati yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Jika akses tersebut hilang, pengetahuan yang diwariskan antargenerasi juga berisiko ikut menghilang.

Pangan lokal membutuhkan kerja bersama

Karena itu, Wawan mendorong kolaborasi antara berbagai pihak untuk mengembangkan pangan lokal.

baca juga

Periset dan akademisi dapat memperkuat basis pengetahuan dan riset. Pemerintah berperan menciptakan kebijakan yang mendukung pemanfaatan pangan lokal. Pelaku usaha dapat mendorong inovasi dan hilirisasi, sementara komunitas memiliki peran dalam mempertahankan pengetahuan dan praktik yang telah berkembang di tingkat lokal.

Media juga dinilai memiliki peran dalam memperkenalkan keragaman pangan Nusantara kepada masyarakat.

Bagi Wawan, pengembangan pangan lokal pada akhirnya bukan hanya persoalan diversifikasi makanan.

Di dalam pangan lokal terdapat keanekaragaman hayati, identitas budaya, sumber daya genetik, kesehatan masyarakat dan masa depan ketahanan pangan Indonesia.

Karena itu, pemanfaatannya tidak cukup dilakukan sebagai proyek sektoral, melainkan perlu ditempatkan sebagai agenda bersama untuk membangun sistem pangan yang lebih beragam, tangguh dan berkelanjutan.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hilirisasi Ubi Kayu Mulai Berjalan, Tak Hanya Buat Pangan, Tapi untuk Bioetanol

Hilirisasi Ubi Kayu Mulai Berjalan, Tak Hanya Buat Pangan, Tapi untuk Bioetanol

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 08:50 WIB

BRIN Ungkap Peran Katalis dalam Mendorong Efisiensi Industri, Benarkah Bisa Hemat Energi?

BRIN Ungkap Peran Katalis dalam Mendorong Efisiensi Industri, Benarkah Bisa Hemat Energi?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:15 WIB

BRIN Kaji Panel Surya Generasi Baru untuk Dorong Kemandirian Energi Indonesia

BRIN Kaji Panel Surya Generasi Baru untuk Dorong Kemandirian Energi Indonesia

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 10:50 WIB

Terkini

KPK Bongkar Jejak Restitusi Pajak Rp 48,3 Miliar dalam Kasus Suap KPP Banjarmasin

KPK Bongkar Jejak Restitusi Pajak Rp 48,3 Miliar dalam Kasus Suap KPP Banjarmasin

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:58 WIB

Punya Potensi Besar, Mengapa Ketahanan Pangan Indonesia Belum Optimal?

Punya Potensi Besar, Mengapa Ketahanan Pangan Indonesia Belum Optimal?

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:55 WIB

Prabowo Kecam Keras Korupsi MBG, Sebut Pelakunya Orang-Orang Biadab

Prabowo Kecam Keras Korupsi MBG, Sebut Pelakunya Orang-Orang Biadab

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:53 WIB

Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan

Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan

Your Say | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:50 WIB

Susunan Acara Malam Tirakatan 17 Agustus, Lengkap dan Mudah Dipraktikkan

Susunan Acara Malam Tirakatan 17 Agustus, Lengkap dan Mudah Dipraktikkan

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:50 WIB

SBY Absen di Sidang Tahunan 2026, AHY Ungkap Kondisi Kesehatan Sang Ayah di Luar Negeri

SBY Absen di Sidang Tahunan 2026, AHY Ungkap Kondisi Kesehatan Sang Ayah di Luar Negeri

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:47 WIB

Prabowo: Indonesia Anggota G20, Tak Pantas Masih Ada Rakyat yang Lapar

Prabowo: Indonesia Anggota G20, Tak Pantas Masih Ada Rakyat yang Lapar

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:45 WIB

Hadapi Demokrasi Mahal dan Krisis Iklim, DPD Usung Gagasan Green Democracy

Hadapi Demokrasi Mahal dan Krisis Iklim, DPD Usung Gagasan Green Democracy

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:45 WIB

Beda Sepeda Frame Alloy dan Hi-Ten Steel: Mana yang Lebih Ringan dan Tangguh?

Beda Sepeda Frame Alloy dan Hi-Ten Steel: Mana yang Lebih Ringan dan Tangguh?

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:43 WIB

Kinerja Mentereng Bawa BBRI Raih Peringkat Tinggi di Fortune 100

Kinerja Mentereng Bawa BBRI Raih Peringkat Tinggi di Fortune 100

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:41 WIB

×