Bagi Wawan, pengetahuan ekologi tradisional merupakan salah satu aset yang dapat mendukung keberlanjutan sumber daya hayati.
Masyarakat terdahulu, kata dia, telah mengembangkan sistem pengelolaan ruang dan sumber daya alam yang mempertimbangkan fungsi ekologis, sosial dan budaya.
“Pengetahuan ekologi tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi merupakan sumber pengetahuan yang telah teruji dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” katanya.
Karena itu, pengetahuan tersebut perlu didokumentasikan dan dikembangkan, sekaligus dipadukan dengan penelitian ilmiah modern.
Tantangannya, pengetahuan tersebut menghadapi risiko tergerus perubahan pola konsumsi dan perkembangan pembangunan.
Pergeseran preferensi masyarakat terhadap pangan modern menjadi salah satu persoalan. Di sisi lain, dokumentasi pengetahuan lokal masih terbatas, sementara kebijakan, penelitian dan hilirisasi pangan lokal dinilai belum berkembang secara optimal.
Pembangunan di sejumlah wilayah juga berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya hayati yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Jika akses tersebut hilang, pengetahuan yang diwariskan antargenerasi juga berisiko ikut menghilang.
Pangan lokal membutuhkan kerja bersama
Karena itu, Wawan mendorong kolaborasi antara berbagai pihak untuk mengembangkan pangan lokal.
Periset dan akademisi dapat memperkuat basis pengetahuan dan riset. Pemerintah berperan menciptakan kebijakan yang mendukung pemanfaatan pangan lokal. Pelaku usaha dapat mendorong inovasi dan hilirisasi, sementara komunitas memiliki peran dalam mempertahankan pengetahuan dan praktik yang telah berkembang di tingkat lokal.
Media juga dinilai memiliki peran dalam memperkenalkan keragaman pangan Nusantara kepada masyarakat.
Bagi Wawan, pengembangan pangan lokal pada akhirnya bukan hanya persoalan diversifikasi makanan.
Di dalam pangan lokal terdapat keanekaragaman hayati, identitas budaya, sumber daya genetik, kesehatan masyarakat dan masa depan ketahanan pangan Indonesia.
Karena itu, pemanfaatannya tidak cukup dilakukan sebagai proyek sektoral, melainkan perlu ditempatkan sebagai agenda bersama untuk membangun sistem pangan yang lebih beragam, tangguh dan berkelanjutan.
Penulis: Chairunisa