- BMKG mencabut peringatan dini tsunami di Laut Flores, NTT, setelah tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang membahayakan.
- Gubernur NTT Melki Laka Lena menyatakan korban meninggal dunia akibat gempa bertambah menjadi lima orang.
- Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar melaporkan situasi berangsur normal setelah warga sempat mengungsi akibat guncangan kuat.
Suara.com - BMKG mencabut peringatan dini tsunami setelah hasil pemantauan menunjukkan tak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan pascagempa magnitudo 7,7 di Laut Flores, NTT, Sabtu (15/8/2026).
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan, berdasarkan pemantauan hingga pukul 07.07 WIB, terjadi 37 gempa susulan dengan magnitudo 3,2 hingga 6,2.
Namun, hanya satu gempa susulan yang dirasakan.
“Dengan memperhatikan kondisi terkini terkait dengan hasil observasi di wilayah terdampak, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan,” kata Nelly dalam konferensi pers BMKG yang ditayangkan secara daring, Sabtu (15/8/2026).
Atas hasil observasi tersebut, BMKG kemudian mencabut peringatan dini tsunami. Meski demikian, pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan dan perubahan muka air laut tetap dilakukan.
Nelly mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa serta tetap mewaspadai kemungkinan gempa susulan.

Korban Gempa Bertambah Jadi Lima Orang
Di tengah pencabutan peringatan tsunami, jumlah korban meninggal akibat gempa NTT, dilaporkan bertambah menjadi lima orang.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan dua korban meninggal berada di Maumere, Kabupaten Sikka, sedangkan tiga lainnya tercatat di Kabupaten Manggarai.
“Berdasarkan informasi yang saya terima saat ini, jumlah korban meninggal sudah lima orang,” katanya.
Para korban diduga meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa mengguncang Flores. Namun, pemerintah masih memastikan penyebab kematian masing-masing korban.
“Kami akan pastikan lagi penyebabnya karena apa,” ujarnya.
Melki mengatakan pendataan korban jiwa, korban luka, dan kerusakan masih berlangsung.
Dia juga dijadwalkan menuju Flores untuk melihat langsung kondisi di sejumlah wilayah terdampak.
“Siang nanti kami akan berangkat ke Flores dan sore nanti kami sampaikan update-nya lagi, mulai dari korban jiwa serta kerusakan,” ungkapnya.
Di sisi lain, gempa juga berdampak pada infrastruktur. Sejumlah ruas jalan di Flores dilaporkan putus dan mengalami longsor.

Warga Sempat Mengungsi ke Tempat Tinggi
Guncangan kuat gempa M7,7 turut memicu kepanikan warga di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Warga sempat bergerak menuju lokasi yang lebih tinggi setelah merasakan guncangan kuat dan melihat perubahan muka air laut secara tiba-tiba.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar Achmad Alfianto mengatakan kondisi mulai berangsur normal dan belum ada laporan kerusakan bangunan yang berarti.
"Hingga laporan sementara yang kami terima dari para camat melalui sambungan telepon, belum ada laporan kerusakan bangunan yang berarti di wilayah Selayar," kata Achmad.
Hoaks Gempa Susulan Besar
Pasca-gempa, informasi palsu mengenai prediksi gempa susulan besar pada Sabtu pukul 09.00 WITA juga sempat beredar di media sosial.
BMKG NTT memastikan informasi tersebut merupakan hoaks.
Gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara tepat berdasarkan waktu, lokasi, maupun kekuatannya.
Gempa utama M7,7 sebelumnya memicu peringatan dini tsunami. Sejumlah gempa susulan juga tercatat, termasuk dua gempa berkekuatan M6,2 pada pukul 05.13 WIB dan 05.28 WIB.
Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah Flores, Sumba, Adonara, Solor, hingga Bima, Nusa Tenggara Barat, serta sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Tim gabungan BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri dikerahkan untuk mengevakuasi dan menangani warga terdampak.
Meski peringatan tsunami telah dicabut, masyarakat tetap diminta menjauhi bangunan yang retak atau rusak dan mengikuti informasi serta arahan resmi petugas di lapangan.