- Gapoktan Sari Tani di Desa Gentan Sukoharjo melaksanakan panen raya padi pada Juni 2026.
- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan produksi padi 10,5 juta ton pada tahun 2026.
- Pemprov Jateng mendistribusikan bantuan irigasi perpompaan dan alsintan untuk meningkatkan produktivitas petani Rembang.
“Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” Karyono, anggota Kelompok Tani Budi Luhur.
Selain bantuan benih dan irigasi, modernisasi pertanian terus diperluas. Salah satunya melalui pola mekanisasi terintegrasi yang dikenal sebagai “sistem sepur”. Mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam bekerja secara berurutan, sehingga lahan dapat segera ditanami kembali setelah panen.
Untuk lahan seluas dua hektare, pekerjaan yang secara manual membutuhkan waktu hingga 10 hari dapat diselesaikan dalam satu hari. Percepatan tersebut membuka peluang peningkatan indeks pertanaman sekaligus menghemat waktu dan tenaga petani.
Penguatan produksi juga ditopang melalui rehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier dan pembangunan 75 paket irigasi perpipaan. Distribusi alat pertanian mencakup 100 unit mesin penanam padi, 86 traktor crawler, 30 traktor roda empat, 100 pompa air, 10 combine harvester, serta puluhan unit cultivator dan traktor tangan.
Perlindungan terhadap risiko usaha tani juga disiapkan. Pemprov Jateng mengalokasikan program Asuransi Usaha Tani Padi untuk lahan seluas 10.449 hektare serta subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani. Perlindungan tersebut diperlukan agar petani tidak menanggung sendiri seluruh kerugian ketika lahannya terdampak bencana atau mengalami gagal panen.
Gubernur Luthfi menegaskan, peningkatan produksi pangan membutuhkan keterlibatan seluruh kabupaten dan kota, terutama dalam menjaga lahan pertanian, memperkuat mekanisasi, dan mendampingi kelompok tani.

“Gapoktan kita openi, dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” katanya.
Walakin, tantangan belum selesai. Perubahan musim, ancaman kekeringan, alih fungsi lahan, dan distribusi hasil panen masih harus dihadapi. Karena itu, pemetaan wilayah rawan kekeringan, pipanisasi, sumurisasi, pemanfaatan sumber air baku, hingga penyaluran pompa terus dilakukan. Jawa Tengah juga telah menerima sekitar 17 ribu pompa untuk didistribusikan sesuai kebutuhan daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengingatkan bahwa produksi yang melimpah perlu diimbangi dengan distribusi yang merata.
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi, agar surplus ini bisa merata dan menjaga stabilitas harga,” kata dia.
Di usia ke-81, Jawa Tengah meneguhkan perannya: merawat petani, menjaga sawah, dan terus menjadi salah satu lumbung pangan bagi negeri.