-
Iran menolak keras klaim Amerika Serikat yang ingin menguasai penuh Selat Hormuz.
-
Donald Trump menegaskan akan memberlakukan blokade total lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
-
Militer Iran memastikan tidak ada kapal melintas di Selat Hormuz tanpa izin Teheran.
Suara.com - Iran menentang keras klaim sepihak Amerika Serikat atas penguasaan jalur perairan strategis Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan militer kedua negara.
Anggota parlemen Teheran bahkan memberi peringatan menohok kepada Donald Trump agar sang presiden tidak berakhir bersembunyi di dalam truk makanan.
Gertakan tajam tersebut meluncur tak lama setelah Washington menyatakan ambisinya untuk menguasai total kawasan perbatasan air tersebut.
![Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka kemungkinan untuk mencalonkan diri dalam Pilpres AS 2028. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/12/99651-donald-trump.jpg)
Pernyataan kontroversial Trump mengemuka saat dirinya menyambangi fasilitas kepolisian anyar di wilayah New York.
Dalam pidato tersebut, ia memproklamirkan niatnya menyita penuh akses maritim itu setelah mengalahkan armada Iran.
"Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," tegas Trump saat berbicara dalam kunjungan ke Akademi Kepolisian Nassau County yang baru di Garden City, New York, pada Jumat (14/8).
Pemerintah AS bertekad menutup rapat pintu masuk perairan vital tersebut bagi kapal asing tanpa persetujuan mereka.
"tidak ada kapal yang bisa melintasi kecuali jika kita mengizinkannya," ujar Trump mematok ancaman blokade laut.
Mengapa Selat Hormuz Menjadi Rebutan Utama AS dan Iran?
Upaya negosiasi diplomatik guna meredam ketegangan di kawasan strategis dunia ini berkali-kali menemui jalan buntu.
Pihak Teheran menolak keras melunak selama armada militer AS terus mengisolasi wilayah laut mereka secara sepihak.
Pemerintah Iran menilai Washington telah melanggar kesepakatan tertulis yang pernah disetujui bersama sebelumnya.
Klaim sepihak Trump yang merasa memegang kontrol mutlak atas Selat Hormuz langsung memicu bantahan sengit dari pihak militer Iran.
Juru bicara komando terpadu militer Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari, menegaskan kepemilikan sah atas perairan tersebut.
"Tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran," tegasnya.
Perselisihan atas Selat Hormuz ini memperpanjang jejak perseteruan panjang antara Washington dan Teheran di kawasan Timur Tengah.
Akses laut ini memiliki nilai geopolitik serta ekonomi yang sangat krusial bagi lalu lintas perdagangan minyak dunia.