Suara.com - Indonesia memiliki sumber daya laut yang besar, tetapi nilai ekonomi yang dihasilkan dari sektor perikanan dinilai masih jauh dari potensinya. Pemerintah menyebut nilai ekonomi perikanan Indonesia mencapai sekitar US$34 miliar per tahun. Namun, baru sebagian kecil dari potensi tersebut yang berhasil dinikmati.
Dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI, Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia perlu memperkuat sektor perikanan, termasuk melalui modernisasi armada penangkapan ikan.
“Nilai perikanan Indonesia setiap tahun sekitar 34 miliar dollar, namun baru 5 persen yang dapat kita nikmati.”
Prabowo juga menyoroti praktik penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing serta kebutuhan Indonesia untuk membangun armada perikanan modern dalam jumlah besar.
Namun, membangun lebih banyak kapal dan infrastruktur perikanan saja belum cukup. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai pengembangan ekonomi kelautan perlu berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan energi, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan.
“Modernisasi sektor kelautan perlu dibarengi penguatan ketahanan energi di wilayah pesisir,” kata Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa.
Energi Menentukan Produktivitas Perikanan
Aktivitas perikanan modern membutuhkan energi di hampir setiap rantai produksinya. Pelabuhan, tempat pelelangan ikan, mesin pendingin, cold storage, hingga fasilitas pengolahan hasil laut membutuhkan pasokan listrik yang stabil.
Tanpa energi yang andal, hasil tangkapan ikan berisiko mengalami penurunan kualitas sebelum sampai ke konsumen. Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap bahan bakar minyak untuk kapal dan aktivitas produksi dapat meningkatkan biaya operasional nelayan serta pelaku usaha.
Karena itu, menurut IESR, pengembangan energi terbarukan di kawasan pesisir dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi kelautan.
Energi surya, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan produktif di wilayah pesisir. Mengutip kajian Solar Archipelago, IESR menyebut integrasi program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) dengan sektor produktif berpotensi menjadi penggerak baru perekonomian daerah.
Pendekatan tersebut tidak hanya relevan untuk kawasan industri atau perkotaan, tetapi juga sentra perikanan dan wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi tantangan akses energi.
Ketahanan Energi dan Pangan Laut
Hubungan antara energi dan perikanan sering kali luput dari pembahasan ketika pemerintah berbicara tentang potensi ekonomi laut.
Padahal, peningkatan produksi perikanan tanpa perencanaan energi dapat menciptakan persoalan baru. Ketika kebutuhan bahan bakar meningkat, misalnya, biaya produksi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil juga berpotensi ikut meningkat.
Sebaliknya, pasokan energi yang lebih bersih dan terjangkau dapat membantu mengurangi biaya operasional sekaligus menekan emisi dari aktivitas ekonomi di pesisir.