- Lulusan sarjana sulit mendapat kerja karena minim keterampilan praktis.
- Teknologi baru dan tekanan industri membuat perusahaan mengurangi tenaga kerja serta mencari pekerja yang menguasai keterampilan praktis.
- Pemerintah disarankan memperbanyak pusat pelatihan keterampilan alih-alih mendirikan perguruan tinggi baru untuk mengatasi pengangguran terdidik.
"Seharusnya perlu pendirian pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja," ujarnya.
Pengangguran Terdidik Tak Bisa Diatasi dengan Kampus Baru
Tadjuddin juga mengkritik rencana pemerintah mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI).
Menurutnya, membangun perguruan tinggi baru bukan jawaban atas persoalan pengangguran terdidik yang membutuhkan solusi cepat.
Mencetak lulusan dari kampus baru membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara persoalan pengangguran sudah dihadapi lulusan yang tersedia saat ini.
"Bangsa ini sedang menghadapi pengangguran terdidik, itu tidak dapat diatasi dengan mendirikan perguruan tinggi," tegasnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah dan perguruan tinggi memperkuat pusat pelatihan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri. Kurikulum pelatihan juga harus dibuat responsif terhadap perubahan teknologi dan permintaan pasar kerja.
Para sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan, menurut dia, perlu segera dibekali keterampilan praktis yang memiliki nilai jual tinggi di industri.
"Kalau itu dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua atau lima tahun dapat menciptakan mungkin satu sampai dua juta penyerap pengangguran terdidik," tandasnya.