Di Balik El Nino 2026: Mengapa Indonesia Terancam Krisis Air dan Pangan?

Bella, Lilis Varwati

Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:55 WIB
Di Balik El Nino 2026: Mengapa Indonesia Terancam Krisis Air dan Pangan?
Ilustrasi El Nino 2026 dan Kekeringan. [Suara.com/Syahda]
baca 10 detik
  • BMKG melaporkan fenomena El Niño kuat memperparah puncak musim kemarau di Indonesia pada Agustus 2026.
  • Kondisi kering ini mengancam ketersediaan air, menurunkan produksi tanaman pangan, tetapi menguntungkan produksi garam.
  • Kementerian Kehutanan mencatat 202.004 hektare lahan terdampak karhutla akibat cuaca ekstrem hingga Juli 2026.

Suara.com - Indonesia memasuki puncak musim kemarau 2026 di tengah penguatan fenomena El Niño. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi atmosfer semakin mendukung cuaca kering, sementara risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah wilayah.

BMKG menyebut pada Dasarian I Agustus 2026, curah hujan di Indonesia didominasi kategori rendah. Kondisi tersebut berlangsung ketika El Niño terus menguat di tengah musim kemarau.

Ancaman tersebut bukan hanya berkaitan dengan berkurangnya hujan. Kekeringan juga berpengaruh terhadap ketersediaan air, pertanian, produksi pangan, hingga risiko karhutla.

El Niño Menguat di Tengah Musim Kemarau

El Niño merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur.

Perubahan tersebut memengaruhi pola atmosfer dan dapat berdampak terhadap pola hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Nilai indeks Niño 3.4 dasarian sebesar +2,26 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28,2 menandakan berlangsungnya El Niño kuat yang diprakirakan masih dapat mengalami penguatan.

Dalam situsnya, BMKG menerangkan bahwa fenomena tersebut berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di berbagai wilayah.

Kondisi ini tercermin dalam prakiraan Dasarian I Agustus 2026, di mana curah hujan kategori rendah terjadi di sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia, sementara 8,57 persen lainnya berada pada kategori menengah.

Dalam informasi indeks El Niño yang diperbarui 17 Agustus 2026, BMKG mencatat nilai indeks pada Juli masih dalam kisaran +2,20, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat.

baca juga

Kekeringan Mengancam Air dan Produksi Pangan

Infografis El Nino 2026 dan dampaknya bagi Indonesia. [Suara.com/Syahda]
Infografis El Nino 2026 dan dampaknya bagi Indonesia. [Suara.com/Syahda]

Penguatan El Niño berlangsung ketika sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. BMKG mencatat pada akhir Juli 2026 sebanyak 516 Zona Musim (ZOM), atau 73,8 persen wilayah Indonesia, telah memasuki musim kemarau.

Pada kondisi tersebut, dampak kekeringan mulai dirasakan sektor pertanian. Laporan Reuters mengungkapkan bahwa kekeringan yang dipicu El Niño berdampak buruk bagi petani tanaman pangan di Indonesia, sementara petani garam justru memperoleh keuntungan dari kondisi kering.

Di Cirebon, Jawa Barat, produksi garam pada Juli mencapai hampir 600 ton, meningkat jauh dibandingkan produksi sekitar 25-30 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi kering yang berkepanjangan menguntungkan produksi garam karena proses penguapan air laut membutuhkan cuaca kering.

Namun, kondisi yang sama menjadi tantangan bagi petani tanaman pangan. Otoritas pertanian mendorong penyesuaian jadwal tanam menghadapi kondisi yang lebih panas dan kering.

Di Indonesia, salah satu komoditas yang disebut terdampak juga industri kopi robusta. Reuters melaporkan panas dan kekeringan mengancam produksi robusta di Vietnam dan Indonesia, yang secara bersama-sama menyumbang sekitar setengah produksi global.

Karhutla Meluas, El Niño Diperkirakan Bertahan

Selain pertanian dan pangan, kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BMKG pada akhir Juli mencatat ribuan titik panas di sejumlah wilayah Indonesia. Titik panas tersebut dominan di wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Perkembangan karhutla kemudian menunjukkan peningkatan luas lahan terdampak. Data Kementerian Kehutanan mencatat total lahan yang terdampak kebakaran sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 202.004 hektare.

Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dalam satu bulan, karena pada periode Januari-Juni sebelumnya tercatat 107.465 hektare lahan yang terbakar.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut indeks El Niño pada pertengahan Agustus telah melampaui level pada 2015, ketika Indonesia mengalami El Niño kuat. Meski demikian, luas lahan terdampak pada Januari-Juli 2026 masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2015.

Sementara itu, El Niño diperkirakan belum segera berakhir. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut Indonesia menghadapi periode kemarau ketika El Niño berada pada intensitas sangat kuat.

"Perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” ungkap Ardhasena.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gempa Susulan di Flores Masih Akan Berlangsung 30 Hari ke Depan, Frekuensi Menurun

Gempa Susulan di Flores Masih Akan Berlangsung 30 Hari ke Depan, Frekuensi Menurun

Tekno | Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:52 WIB

3.055 Gempa Susulan Guncang NTT, Masyarakat Diminta Tetap Tenang dan Waspada

3.055 Gempa Susulan Guncang NTT, Masyarakat Diminta Tetap Tenang dan Waspada

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:08 WIB

Waduk Manggar Kian Surut, 3 Bulan Lagi Balikpapan Terancam Kekurangan Air

Waduk Manggar Kian Surut, 3 Bulan Lagi Balikpapan Terancam Kekurangan Air

Foto | Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:59 WIB

Bukan Modifikasi Cuaca, BMKG Jelaskan Penyebab Hujan yang Guyur Jakarta Hari Ini

Bukan Modifikasi Cuaca, BMKG Jelaskan Penyebab Hujan yang Guyur Jakarta Hari Ini

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:00 WIB

Peringatan Dini Tsunami Flores Keluar Dua Menit, Apakah Cukup?

Peringatan Dini Tsunami Flores Keluar Dua Menit, Apakah Cukup?

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:57 WIB

Karhutla 1.120 Hektare Padam, Bromo Tengger Semeru Kembali Dibuka 20 Agustus

Karhutla 1.120 Hektare Padam, Bromo Tengger Semeru Kembali Dibuka 20 Agustus

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:33 WIB

Mitigasi Karhutla Perlu Diperkuat! Pemerintah Tak Boleh Kalah Cepat dengan Titik Api

Mitigasi Karhutla Perlu Diperkuat! Pemerintah Tak Boleh Kalah Cepat dengan Titik Api

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:31 WIB

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Your Say | Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:34 WIB

Miris! Potret Upacara HUT RI di Tengah Kepungan Karhutla Sumsel

Miris! Potret Upacara HUT RI di Tengah Kepungan Karhutla Sumsel

Foto | Senin, 17 Agustus 2026 | 15:50 WIB

Gempa Dahsyat NTT, BMKG: Baru Terjadi Lagi Setelah 30 Tahun Silam

Gempa Dahsyat NTT, BMKG: Baru Terjadi Lagi Setelah 30 Tahun Silam

Video | Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Terkini

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Sumut | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:52 WIB

Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Teroris di Enam Provinsi, Termasuk Riau

Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Teroris di Enam Provinsi, Termasuk Riau

Riau | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:49 WIB

Aaliyah Massaid Punya Kebiasaan Bersihkan Wajah Sebelum Bertemu Anak

Aaliyah Massaid Punya Kebiasaan Bersihkan Wajah Sebelum Bertemu Anak

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:44 WIB

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla, 800 Ribu Hektar Hutan Terbakar: Ke Mana Orangutan Pergi?

Kalbar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:24 WIB

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:13 WIB

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:07 WIB

Memilih Produk untuk Anak, Orang Tua Perlu Melihat Lebih dari Sekadar Label

Memilih Produk untuk Anak, Orang Tua Perlu Melihat Lebih dari Sekadar Label

Health | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:06 WIB

Analis Politik Ungkap Peluang Besar Dedi Mulyadi Menuju Pilpres 2029

Analis Politik Ungkap Peluang Besar Dedi Mulyadi Menuju Pilpres 2029

Video | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:05 WIB

Membangun Literasi Finansial Sejak Dini Melalui BRImo Junior

Membangun Literasi Finansial Sejak Dini Melalui BRImo Junior

Bri | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:54 WIB

Kabut Asap Sumsel Tak Hanya Bikin Sesak, Akademisi Soroti 'Empathy Gap' Kepala Daerah

Kabut Asap Sumsel Tak Hanya Bikin Sesak, Akademisi Soroti 'Empathy Gap' Kepala Daerah

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:37 WIB

×