- Krisis pakan hijauan saat kemarau disebabkan oleh keterbatasan air bagi tanaman.
- Guru Besar UGM Widodo menegaskan pemerintah wajib membangun infrastruktur pengairan jangka menengah agar beban biaya tidak ditanggung peternak.
- Peternak disarankan menyiapkan cadangan pakan melalui fermentasi sebagai solusi jangka pendek menghadapi musim kemarau.
Suara.com - Krisis pakan hijauan yang kembali menghantui peternak setiap musim kemarau dinilai bukan semata-mata akibat kurangnya persiapan peternak. Persoalan itu justru berakar pada keterbatasan air yang membuat rumput dan tanaman pakan sulit tumbuh.
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Widodo, mengatakan persoalan tersebut terus berulang setiap musim kemarau, terutama pada peternakan yang mengandalkan pakan hijauan.
"Sebenarnya permasalahan ini kan permasalahan yang selalu eksis ya di setiap musim kemarau. Utamanya untuk pakan yang berbasis hijauan," kata Widodo, Rabu (19/8/2026).
Menurut Widodo, kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian pemerintah karena ketersediaan pakan berkaitan langsung dengan keberlangsungan usaha peternakan.
Salah satu solusi yang perlu disiapkan adalah membangun infrastruktur pengairan yang mampu menjamin ketersediaan air sepanjang tahun.
Infrastruktur tersebut dapat berupa saluran irigasi, embung, hingga fasilitas penyimpanan air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian dan tanaman pakan.
"Jangka menengah tentu saja adalah bagaimana kita menyiapkan lahan-lahan pertanian itu yang sustainable keberadaan airnya. Saluran irigasi ya, atau penggunaan embung, penyimpanan air untuk kembali irigasi," ujarnya.
Beban Jangan Dialihkan ke Peternak
Widodo menilai kebutuhan infrastruktur air semakin mendesak di daerah yang memiliki keterbatasan sumber air saat musim kemarau.
Di wilayah seperti Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, pemompaan air dapat menjadi alternatif untuk menjaga ketersediaan air.
Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya besar. Karena itu, Widodo menegaskan pembangunan infrastruktur dasar tidak seharusnya dibebankan kepada peternak maupun kelompok peternak.
"Itu harusnya bebannya pada negara, bukan pada pribadi peternak atau kelompok peternak. Kalau dibebankan mereka mahal sekali. Jalan, infrastruktur, saluran air itu harusnya tugas negara," tegasnya.
Jika kebutuhan dasar produksi justru harus ditanggung sendiri, keuntungan peternak dikhawatirkan terkuras hanya untuk memenuhi kebutuhan pengairan dan pakan.
"Keuntungan dari usaha ternak berpotensi habis untuk memenuhi kebutuhan dasar produksi," imbuhnya.
Peternak Perlu Siapkan Cadangan Pakan
Selain pembangunan infrastruktur, Widodo mendorong peternak memperkuat perencanaan pakan. Salah satunya dengan mengawetkan hijauan melalui proses fermentasi atau membuat silase saat ketersediaan rumput masih melimpah.
Namun, langkah tersebut hanya dapat menjadi solusi jangka pendek.
Menurut Widodo, cadangan pakan tidak akan menyelesaikan persoalan apabila sistem pengairan tetap tidak memadai.
Sementara untuk kondisi darurat, peternak memang dapat membeli pakan.
Masalahnya, harga pakan yang meningkat saat kemarau justru dapat semakin menekan biaya produksi.
"Kalau untuk tataran peternak, yang pragmatis ya beli. Cuma sekali lagi, dalam kondisi kayak gini kemungkinan biaya untuk beli juga sangat terbatas," ucapnya.
Karena itu, penanganan krisis pakan perlu dilakukan dari dua sisi.
Pemerintah harus memastikan tersedianya infrastruktur air dan sistem pendukung produksi, sementara peternak perlu memperkuat perencanaan serta cadangan pakan.
Dengan begitu, persoalan kekurangan pakan tidak terus menjadi siklus tahunan setiap kali musim kemarau datang.