- Kebangkrutan perusahaan di Jepang melampaui 1.000 kasus selama dua bulan berturut-turut pada Juli.
- Kelangkaan pekerja dan biaya bahan baku akibat pelemahan yen menjadi pemicu utama kebangkrutan.
- Usaha kecil dengan utang di bawah 100 juta yen mendominasi angka kebangkrutan tersebut.
Suara.com - Laju kebangkrutan perusahaan di Jepang terus membengkak hingga menembus angka 1.028 kasus sepanjang bulan Juli 2026. Fenomena ini menandai bulan kedua secara berturut-turut di mana angka kegagalan bisnis di negara tersebut berada di atas level seribu.
Pemicu utamanya bukan sekadar penurunan permintaan pasar, melainkan kombinasi fatal antara krisis jumlah pekerja dan lonjakan biaya operasional. Usaha skala kecil menjadi kelompok paling rentan yang gagal bertahan di tengah tekanan ekonomi ini.
Total kewajiban finansial dari seluruh perusahaan yang gulung tikar tersebut melesat 41,4 persen dibanding tahun lalu hingga menyentuh 236,3 miliar yen. Lonjakan nilai utang ini didorong secara signifikan oleh bangkrutnya penyedia sistem transaksi kartu kredit asal Osaka, Zentoshin.

Perusahaan yang memfasilitasi pencairan cepat bagi pemilik restoran tersebut ambruk dengan beban utang mencapai 115,16 miliar yen. Kasus Zentoshin ini berpotensi menjadi kebangkrutan dengan nilai liabilitas terbesar di Jepang sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, kelangkaan tenaga kerja mencatatkan rekor kasus tertinggi yang memaksa 63 perusahaan berhenti beroperasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36 kasus dipicu oleh ketidakmampuan perusahaan menanggung lonjakan biaya gaji pegawai.
"Kenaikan gaji tidak bisa dihindari untuk mengamankan pekerja, tetapi perusahaan memperburuk arus kas mereka dengan menaikkan upah di luar kemampuan ketika mereka tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup," ujar seorang pejabat dari lembaga riset tersebut, dikutip dari JapanToday, Rabu (19/8/2026).
Mengapa Pelemahan Mata Uang Makin Memperberat Beban Bisnis?
Tekanan harga bahan baku yang kian mahal akibat melemahnya nilai tukar yen juga menyeret 93 perusahaan ke jurang kebangkrutan. Angka ini menjadi rekor tertinggi untuk kategori kebangkrutan akibat inflasi sejak dua tahun terakhir.
Dampak krisis ini menjalar ke hampir seluruh urat nadi perekonomian dengan lonjakan kasus di tujuh dari sepuluh sektor industri utama. Sektor konstruksi, perdagangan eceran, dan transportasi menjadi bidang yang mengalami penurunan paling kentara.
Sektor informasi dan komunikasi mendapati angka kebangkrutan melonjak tajam hingga 62,5 persen secara tahunan. Penurunan ini banyak dialami oleh pengembang perangkat lunak yang terdisrupsi oleh pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan.
Sektor jasa menyumbang jumlah kegagalan bisnis terbanyak secara keseluruhan dengan total 342 kasus. Fakta ini menegaskan bahwa bisnis berbasis pelayanan sangat rentan terhadap dinamika kenaikan upah pekerja.
Usaha berskala kecil dengan nilai utang di bawah 100 juta yen mendominasi hampir 80 persen dari keseluruhan kasus yang tercatat. Hal ini membuktikan bahwa daya tahan finansial pengusaha kecil sangat rapuh saat berhadapan dengan gelombang inflasi.
Bagaimana Asal-usul Kebangkrutan Korporasi Ini Bermula?
Kondisi ekonomi Jepang dalam beberapa tahun terakhir terus dibayangi oleh krisis demografi yang memicu kelangkaan tenaga kerja secara terstruktur. Hal tersebut memaksa sektor bisnis menaikkan penawaran gaji demi mempertahankan operasional harian mereka.
Di saat yang sama, pelemahan mata uang yen terhadap dolar AS melipatgandakan beban impor untuk pasokan energi dan bahan baku mentah. Kombinasi beban gaji dan biaya produksi yang tinggi ini akhirnya menggerus margin keuntungan bisnis secara drastis.