El Nino Berpotensi Jadi Bencana Iklim Terhebat Sepanjang Sejarah hingga Awal Tahun 2027, Kenapa?

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:20 WIB
El Nino Berpotensi Jadi Bencana Iklim Terhebat Sepanjang Sejarah hingga Awal Tahun 2027, Kenapa?
Ilustrasi El Nino. (BMKG)
baca 10 detik
  • NOAA memprediksi 69 persen peluang terjadinya El Nino terkuat dalam sejarah hingga tahun 2027.

  • Fenomena ini memicu kekeringan parah di Indonesia serta potensi banjir besar di benua Amerika.

  • Pemanasan global memperkuat intensitas El Nino, namun kesiapsiagaan mitigasi dunia kini jauh lebih baik.

Suara.com - Fenomena El Nino terkuat dalam sejarah modern diprediksi melanda bumi hingga awal tahun 2027. Gelombang panas Pasifik ini berpotensi memicu kekeringan parah, banjir bandang, hingga kebakaran hutan di berbagai belahan dunia.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memproyeksikan peluang sebesar 69 persen bagi kemunculan El Nino historis pada periode Oktober hingga Desember. Kekuatan fenomena ini diperkirakan melampaui rekor intensitas tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 1950.

Eskalasi suhu permukaan laut yang ekstrem di wilayah Pasifik menjadi pemicu utama ancaman krisis iklim global ini. Peningkatan volume air panas di Pasifik Timur telah melampaui seluruh ambang batas pemantauan historis sebelumnya.

Ilustrasi El Nino 2026 dan Kekeringan. [Suara.com/Syahda]
Ilustrasi El Nino 2026 dan Kekeringan. [Suara.com/Syahda]

“Mulai bulan April, peristiwa ini sudah melampaui peristiwa-peristiwa sebelumnya yang paling banyak diamati,” kata Paul Roundy, profesor ilmu atmosfer dan lingkungan dari State University of New York di Albany, dikutip dari Explainer Anadolu, Kamis (20/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa model simulasi numerik terus menunjukkan peningkatan kekuatan fenomena ini secara konstan dari prediksi awal. Lonjakan massa air hangat di wilayah Pasifik Timur tercatat menjadi yang terbesar dalam sejarah pemantauan manusia.

Mengapa El Nino Kali Ini Sangat Mengkhawatirkan?

"Menurut saya, angka 69% itu konservatif, mengingat peristiwa ini telah melampaui intensitas peristiwa terkuat pada abad ke-20 berdasarkan tolok ukur terbaik yang kita miliki," ujar Roundy.

Kepanikan peneliti didasari oleh tingginya kepastian data iklim yang belum pernah terjadi pada generasi sebelumnya. Satu-satunya variabel yang belum pasti adalah durasi ketahanan sinyal panas tersebut selama musim dingin di Belahan Bumi Utara.

“Saat ini, tingkat keyakinan untuk prakiraan musiman mungkin lebih tinggi daripada yang pernah kita lihat dalam lebih dari satu masa hidup,” tambah Roundy.

baca juga

Secara mekanis, El Nino terjadi akibat kenaikan suhu permukaan air laut di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Melemahnya angin sakal menghentikan dorongan air hangat ke Asia, lalu menyebarkannya kembali ke arah benua Amerika.

Anomali suhu bawah permukaan air laut di Pasifik timur bahkan telah menembus angka 10 derajat Celsius di atas normal. Perubahan aliran panas dan kelembapan atmosfer ini secara langsung mengacaukan pola cuaca serta rantai makanan hayati laut.

Kapan Puncak Dampak Bencana Iklim Ini Terjadi?

“Intensitas puncaknya sangat dibatasi oleh siklus musiman, yakni antara bulan November dan Januari,” jelas Roundy.

Ia juga mengingatkan bahwa gelombang dampaknya akan terus berlanjut hingga musim semi tahun 2027. Durasi pengakhiran fenomena ini sangat bergantung pada dinamika pergerakan pola angin global selanjutnya.

“Beberapa kejadian di masa lalu bahkan berlanjut hingga musim panas, namun waktu berakhirnya sangat tidak pasti karena bergantung pada kondisi angin,” imbaunya.

Kondisi kekeringan ekstrim serta ancaman kebakaran hutan berpotensi menghantam wilayah Indonesia dan kawasan Amazon bawah. Sebaliknya, wilayah Afrika Timur dan Argentina diproyeksikan menerima curah hujan berlimpah yang menguntungkan sektor pertanian.

Kawasan Pantai Barat Amerika Serikat seperti California berisiko diterjang rekor curah hujan yang sangat tinggi. Kendati demikian, NOAA menggarisbawahi bahwa dampak cuaca di tiap kawasan masih memiliki tingkat ketidakpastian.

Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Fenomena Ini?

“Tingkat curah hujan yang tinggi di wilayah Pasifik timur khatulistiwa,” tutur Roundy terkait pemicu utama sirkulasi iklim global tersebut.

Pemanasan global akibat aktivitas manusia turut memperkuat pasokan air hangat yang memicu fenomena El Nino. Namun, pemanasan yang merata di seluruh samudera juga mereduksi kontras suhu antilintang secara bersamaan.

“Perubahan iklim telah menghangatkan air sumber di Pasifik barat, sehingga memungkinkan peristiwa tersebut menjadi sedikit lebih kuat,” tegas Roundy.

Perubahan iklim bekerja dua arah dengan memperkuat sumber panas sekaligus mengurangi intensitas disparitas suhu antarwilayah. Kondisi ini memaksa para pakar oseanografi menggunakan indeks relatif baru untuk mengukur dampaknya.

"Perubahan iklim kemungkinan bekerja dalam dua arah: memperparah dampak dengan meningkatkan suhu air sumber El Niño, namun juga mengurangi dampak dengan memperkecil perbedaan suhu," paparnya.

Suhu samudera Pasifik tropis tercatat naik secara drastis sejak pertengahan tahun ini akibat hembusan angin barat. Pelemahan proses upwelling air dingin kaya nutrisi kini mengancam kelangsungan fitoplankton serta ekosistem perikanan dunia.

“Namun, peristiwa tersebut tetaplah masif, bahkan dalam indeks-indeks itu,” tegas Roundy.

Meski ancaman bencana sangat nyata, kesiapsiagaan infrastruktur dan mitigasi bencana global saat ini dinilai jauh lebih baik. Ketersediaan pemodelan data yang presisi memberi ruang bagi setiap negara untuk mengantisipasi krisis pangan dan energi lebih awal.

"Dunia kini lebih siap menghadapi dampak peristiwa El Niño ekstrem dibandingkan masa lalu," pungkas Roundy.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:40 WIB

Di Balik El Nino 2026: Mengapa Indonesia Terancam Krisis Air dan Pangan?

Di Balik El Nino 2026: Mengapa Indonesia Terancam Krisis Air dan Pangan?

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:55 WIB

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Your Say | Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:34 WIB

Terkini

Kevin Diks Bawa Kabar Sedih dari Jay Idzes Jelang Timnas Indonesia vs Thailand

Kevin Diks Bawa Kabar Sedih dari Jay Idzes Jelang Timnas Indonesia vs Thailand

Bola | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:54 WIB

Prabowo Minta Bakom Buka Telinga Lebar-lebar, Keluhan Rakyat Harus Sampai ke Istana

Prabowo Minta Bakom Buka Telinga Lebar-lebar, Keluhan Rakyat Harus Sampai ke Istana

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:30 WIB

Mici Dewi Paramita: Glow Up Bukan Berarti Harus Jadi Orang Lain

Mici Dewi Paramita: Glow Up Bukan Berarti Harus Jadi Orang Lain

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:13 WIB

WALHI dan Eiger Bicara soal Menjaga Alam, dari Kritik hingga Kolaborasi

WALHI dan Eiger Bicara soal Menjaga Alam, dari Kritik hingga Kolaborasi

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, 31 Penerbangan di SMB II Terganggu hingga Kuala Lumpur

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, 31 Penerbangan di SMB II Terganggu hingga Kuala Lumpur

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:58 WIB

Rutan Depok Laporkan Dugaan Keterlibatan Petugas ke Polisi, 22 Warga Binaan Turut Diperiksa

Rutan Depok Laporkan Dugaan Keterlibatan Petugas ke Polisi, 22 Warga Binaan Turut Diperiksa

Jabar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:36 WIB

Geger Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, Barang Terlarang Lolos Masuk Sel

Geger Video Diduga Pesta Narkoba di Rutan Depok, Barang Terlarang Lolos Masuk Sel

Jabar | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:27 WIB

Polisi Masih Selidiki Kematian Siswa SD di Pemalang, Autopsi Telah Dilakukan

Polisi Masih Selidiki Kematian Siswa SD di Pemalang, Autopsi Telah Dilakukan

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:10 WIB

Warga OKI Ditemukan Meninggal di Tengah Karhutla, Diduga Terjebak Asap dan Api

Warga OKI Ditemukan Meninggal di Tengah Karhutla, Diduga Terjebak Asap dan Api

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:06 WIB

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Palmex Medan 2026 Kembali Digelar, 250 Perusahaan Akan Pamerkan Inovasi dan Teknologi Terkini

Sumut | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:52 WIB

×