Analis: Iran Ubah Strategi Perang, Serangan Kunci Paksa Amerika Serikat ke Perundingan

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:19 WIB
Analis: Iran Ubah Strategi Perang, Serangan Kunci Paksa Amerika Serikat ke Perundingan
Rudal Iran (Tasnimnews)
baca 10 detik
  • Iran mengubah doktrin militer dari aksi balasan menjadi serangan ofensif guna memecah kebuntuan diplomasi.

  • Penguasaan Selat Hormuz dimanfaatkan Teheran untuk menekan harga energi dan memaksa Amerika Serikat bernegosiasi.

  • Pergeseran strategi ini berisiko mempercepat eskalasi konflik serta memperburuk stabilitas keamanan regional Timur Tengah.

Suara.com - Iran secara resmi mengalihkan doktrin militernya dari aksi balasan menjadi operasi serangan terbuka untuk memecahkan kebuntuan diplomasi dengan Amerika Serikat. Langkah strategis ini diambil setelah enam bulan konflik bersenjata yang melumpuhkan sebagian jalur perdagangan energi global.

Penguasaan penuh atas Selat Hormuz kini dijadikan alat tawar utama Teheran untuk menekan Washington agar mau menerima syarat-syarat negosiasi baru. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan telah merombak jajaran pimpinan militer untuk memperkuat daya tangkal dan menyiapkan serangan berskala besar.

Pendekatan baru ini menandai babak baru eskalasi di Timur Tengah yang berisiko memicu bentrokan lebih tajam. Pihak Iran menilai kepemimpinan militer Amerika Serikat tidak lagi memiliki dominasi mutlak dalam mengendalikan intensitas konflik di kawasan tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Amerika Serikat saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. [Istimewa]
Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Amerika Serikat saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. [Istimewa]

Perubahan pimpinan militer Iran berfokus pada memperkuat daya tangkal maksimal dan bersiap melaksanakan operasi ofensif berskala besar terhadap musuh. Kebijakan tersebut disampaikan langsung oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei saat mengumumkan konsolidasi komando pasukan bulan ini.

Sejalan dengan arahan tersebut, wakil komandan Garda Revolusi Iran mengonfirmasi bahwa penyesuaian doktrin militer kini menempatkan operasi ofensif sebagai prioritas strategis utama.

Analis dari Center for International Policy, Sina Toossi, menilai perubahan arah kebijakan militer Teheran bukan berarti Iran mengadopsi doktrin perang pencegahan.

Menurut Toossi, Teheran menyimpulkan bahwa jika konfrontasi menjadi tak terhindarkan, Iran harus meningkatkan eskalasi lebih awal dan lebih keras daripada menunggu Amerika Serikat atau Israel untuk menentukan syarat-syarat konflik.

Sementara itu, pakar hubungan internasional asal Teheran, Ahmad Zeidabadi, berpendapat bahwa pergeseran strategi ini lahir dari penilaian Iran terhadap niat hakiki Washington.

"Republik Islam meyakini bahwa Amerika Serikat kemungkinan besar telah mengesampingkan opsi perang dan kini berupaya melanggengkan status quo, termasuk blokade angkatan laut AS dan tekanan ekonomi," ujar Zeidabadi kepada AFP.

baca juga

Upaya diplomatik kedua negara terhenti total sejak kesepakatan gencatan senjata 17 Juni lalu runtuh akibat sanksi minyak dan blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat.

"Masyarakat Iran meyakini bahwa diplomasi pasti akan gagal dalam situasi saat ini dan bahwa pihak Amerika tidak akan menerima syarat-syarat mereka."

"Akibatnya, mereka mungkin merasa terdorong untuk mengambil tindakan ofensif guna memaksa AS menerima syarat-syarat Iran... dan memulai babak baru perundingan," lanjut Zeidabadi.

Meski sempat mengalami kerugian besar di awal perang—termasuk gugurnya Ayatullah Ali Khamenei dan kehancuran ekonomi—sistem politik Iran terbukti tetap bertahan utuh.

Kini konflik meluas ke Laut Merah dan melibatkan bentrokan sekutu Iran di Yaman, sementara Selat Hormuz diperketat dengan aturan izin transit dan tarif berlayar dari Teheran.

"Tehran increasingly believes that American military superiority does not give Washington escalation dominance," kata Toossi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Donald Trump Ancam Hukuman Ekonomi Berat Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

Donald Trump Ancam Hukuman Ekonomi Berat Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 12:49 WIB

Harga Minyak Dunia Makin Sulit Ditebak, Pasar 'Wait and See' Momentum Perang AS - Iran

Harga Minyak Dunia Makin Sulit Ditebak, Pasar 'Wait and See' Momentum Perang AS - Iran

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:50 WIB

Kata Damai AS - Iran Main Jauh, Donald Trump Putus Komunikasi soal Selat Hormuz

Kata Damai AS - Iran Main Jauh, Donald Trump Putus Komunikasi soal Selat Hormuz

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:02 WIB

Terkini

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Teluk Popoh, Polisi Telusuri Petunjuk Tas Berisi Identitas

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Teluk Popoh, Polisi Telusuri Petunjuk Tas Berisi Identitas

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:28 WIB

Kabut Asap Palembang, Pesawat dari Malaysia Gagal Mendarat hingga Penumpang Rekam Momen Putar Balik

Kabut Asap Palembang, Pesawat dari Malaysia Gagal Mendarat hingga Penumpang Rekam Momen Putar Balik

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:15 WIB

Tangis Mahathir Mohamad Pecah di Pusara Siti Hasmah, Kenangan 70 Tahun Bersama Berakhir Pilu

Tangis Mahathir Mohamad Pecah di Pusara Siti Hasmah, Kenangan 70 Tahun Bersama Berakhir Pilu

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Asap Karhutla Mengepung Palembang, Keluhan Pernapasan Memburuk pada Pasien Rentan

Asap Karhutla Mengepung Palembang, Keluhan Pernapasan Memburuk pada Pasien Rentan

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:55 WIB

Feng Shui Arah Rumah Berdasarkan Tanggal Lahir, Begini Cara Menghitungnya

Feng Shui Arah Rumah Berdasarkan Tanggal Lahir, Begini Cara Menghitungnya

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:51 WIB

Lagu 'Bahagia Lagi' Mengingatkan bahwa Gagal Tak Berarti Kehilangan Harapan

Lagu 'Bahagia Lagi' Mengingatkan bahwa Gagal Tak Berarti Kehilangan Harapan

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:50 WIB

4 Bedak Tabur Waterproof yang Tidak Mudah Luntur Saat Hujan

4 Bedak Tabur Waterproof yang Tidak Mudah Luntur Saat Hujan

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?

Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Masihkah Ia Seorang Pengkritik Kekuasaan?

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:15 WIB

6 Urutan Zodiak dari yang Paling Dewasa sampai Paling Childish Saat Pacaran

6 Urutan Zodiak dari yang Paling Dewasa sampai Paling Childish Saat Pacaran

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:13 WIB

WiFi Publik Apakah Aman? Ini Cara Mengaktifkan Privasi Agar Tak Dipantau

WiFi Publik Apakah Aman? Ini Cara Mengaktifkan Privasi Agar Tak Dipantau

Tekno | Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:13 WIB

×