Guru Besar UGM Kritik Penanganan Karhutla: Negara Baru Kompak Saat Api Membesar

Muhamad Yasir, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Guru Besar UGM Kritik Penanganan Karhutla: Negara Baru Kompak Saat Api Membesar
Petugas Manggala Agni Daops Pekanbaru dan personel TNI menarik selang saat berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut yang meluas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (19/8/2026). [ANTARA FOTO/Rony Muharrman/tom]
baca 10 detik
  • Guru Besar UGM Priyono Suryanto mengkritik pemerintah karena penanganan karhutla masih terlalu mengandalkan respons saat api membesar.
  • BNPB mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hingga Minggu 22 Agustus 2026 telah mencapai 72.798 hektare.
  • Priyono mendorong perubahan paradigma penanganan karhutla dari reaktif menjadi sistem penjagaan lingkungan secara berkelanjutan dan antisipatif.

Suara.com - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilakukan pemerintah masih terlalu mengandalkan respons ketika api sudah membesar.

Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Priyono Suryanto mengkritik pola tersebut karena upaya pencegahan belum berjalan sebagai sistem penjagaan yang berkelanjutan.

Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu (22/8/2026) menunjukkan luas karhutla di Indonesia telah mencapai 72.798 hektare.

Priyono menilai berbagai institusi memang mampu menunjukkan solidaritas ketika bencana terjadi. Namun, kekuatan tersebut belum selalu hadir dalam menjaga hutan dan lahan ketika situasi kembali normal.

"Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu bertahan dengan kekuatan yang sama ketika hutan sedang tidak terbakar," kata Priyono dikutip, Senin (24/8/2026).

Menurut Priyono, persoalan karhutla bukan semata-mata karena negara tidak memiliki program pencegahan. Masalahnya terletak pada keberlanjutan program dan kemampuan menjaga kerentanan di lapangan agar tidak berkembang menjadi kebakaran.

Kondisi gambut, perubahan penggunaan lahan, aktivitas ekonomi, faktor iklim, hingga dinamika sosial menjadi sejumlah faktor yang terus membentuk risiko karhutla.

"Padahal risiko kebakaran tidak pernah benar-benar hilang. Kerentanan terus berkembang melalui kondisi gambut, aktivitas ekonomi, perubahan penggunaan lahan, iklim, dan dinamika sosial. Karena itu pencegahan harus menjadi ekosistem penjagaan yang berkelanjutan," ungkapnya.

Priyono mendorong perubahan paradigma dari gotong royong yang hanya muncul saat krisis menjadi gotong royong untuk menjaga hutan secara permanen.

baca juga

Pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga aparat keamanan harus terhubung dalam satu sistem yang terus memantau risiko dan melakukan intervensi sejak dini.

"Kekuatan yang biasanya muncul ketika adanya kebakaran harus tetap hidup ketika hutan sedang tidak terbakar. Disitulah pergeseran penting dari gotong royong krisis menjadi gotong-royong penjagaan hutan," tegasnya.

Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kedua kiri) meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kawasan Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung penanganan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan secara optimal dan cepat. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nym.
Presiden Prabowo Subianto (ketiga kanan) bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kedua kiri) meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kawasan Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung penanganan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan secara optimal dan cepat. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nym.

Jangan Biarkan Pengetahuan BRGM Hilang

Priyono juga menyoroti keberlanjutan pengetahuan dan pengalaman yang pernah dibangun Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Menurutnya, pengalaman lapangan, teknologi pembasahan gambut, serta model pemberdayaan masyarakat yang telah dikembangkan harus tetap menjadi aset nasional dan tidak hilang akibat perubahan kelembagaan.

"Karena itu, persoalannya bukan perlu atau tidak menghidupkan kembali BRGM, tetapi keberlanjutan asetnya," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sumatra Dikepung 2.894 Hotspot! Prabowo Turun ke Riau Pimpin Penanganan Karhutla

Sumatra Dikepung 2.894 Hotspot! Prabowo Turun ke Riau Pimpin Penanganan Karhutla

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 09:59 WIB

Negara Tetangga Belum Kirim Nota Protes Meski Karhutla Kian Meluas

Negara Tetangga Belum Kirim Nota Protes Meski Karhutla Kian Meluas

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 09:41 WIB

17 Pesawat dan 1.500 Prajurit Tambahan Dikerahkan Tangani Karhutla Kalimantan

17 Pesawat dan 1.500 Prajurit Tambahan Dikerahkan Tangani Karhutla Kalimantan

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 07:43 WIB

Terkini

Rayakan 10 Tahun di Indonesia, Big Bad Wolf Kembali Hadir 24 Jam di ICE BSD

Rayakan 10 Tahun di Indonesia, Big Bad Wolf Kembali Hadir 24 Jam di ICE BSD

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 00:03 WIB

Spill Lagunya di SNADA Indonesia 2026, Anggun Dukung Inisiatif Sosial 3T: Mereka Tidak Sendiri

Spill Lagunya di SNADA Indonesia 2026, Anggun Dukung Inisiatif Sosial 3T: Mereka Tidak Sendiri

Entertainment | Kamis, 08 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Rumah Perwira TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Rumah Perwira TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Video | Kamis, 08 Oktober 2026 | 23:05 WIB

RUU Pemilu 2029 Mulai Dibahas, DPR Buka Pintu Masukan Publik

RUU Pemilu 2029 Mulai Dibahas, DPR Buka Pintu Masukan Publik

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Imigrasi Sumut Petakan Risiko Hukum Penanganan Pengungsi

Imigrasi Sumut Petakan Risiko Hukum Penanganan Pengungsi

Sumut | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Reses Bukan Hambatan DPR Tindaklanjuti Putusan MK soal Gibran

Reses Bukan Hambatan DPR Tindaklanjuti Putusan MK soal Gibran

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:53 WIB

2.399 Unit Huntap untuk Korban Bencana di Aceh Tamiang Ditargetkan Rampung 2026

2.399 Unit Huntap untuk Korban Bencana di Aceh Tamiang Ditargetkan Rampung 2026

Sumut | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kebakaran di Kawasan Pemukiman Padat Penduduk Kramat Pulo, 30 Mobil Damkar Dikerahkan

Kebakaran di Kawasan Pemukiman Padat Penduduk Kramat Pulo, 30 Mobil Damkar Dikerahkan

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:42 WIB

Tak Perlu Angket, DPR Bisa Gunakan Putusan MK sebagai Dasar Pemakzulan Gibran

Tak Perlu Angket, DPR Bisa Gunakan Putusan MK sebagai Dasar Pemakzulan Gibran

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:34 WIB

Essential Oil Indonesia Dibawa ke Pasar Beauty Timur Tengah

Essential Oil Indonesia Dibawa ke Pasar Beauty Timur Tengah

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:24 WIB

×