- Gempa magnitudo 5,2 mengguncang Ruteng, Manggarai, NTT, pada Senin, 24 Agustus 2026 pagi.
- BNPB mencatat 91 orang meninggal dunia dan 1.286 warga mengalami luka-luka akibat rangkaian besar yang melanda NTT sebelumnya.
- Sebanyak 5.688 gempa susulan terjadi di wilayah NTT dan diperkirakan masih berlangsung beberapa pekan.
Suara.com - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (24/8/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Gempa terjadi sekitar pukul 04.20 WIB. Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada di titik koordinat 8,30 Lintang Selatan dan 120,62 Bujur Timur atau sekitar 38 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Gempa tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer.
"Tidak berpotensi tsunami," tulis BMKG melalui akun resmi X.
Gempa terbaru ini terjadi di tengah rangkaian aktivitas seismik yang masih berlangsung di wilayah NTT pascagempa besar yang sebelumnya mengguncang kawasan Flores.
91 Orang Meninggal, Ribuan Warga Terluka
Sebelumnya, jumlah korban meninggal akibat gempa di NTT terus bertambah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Minggu (23/8/2026), sedikitnya 91 orang meninggal dunia, bertambah empat orang dibandingkan laporan sehari sebelumnya.
Korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten/kota. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 32 orang. Disusul Manggarai Timur dengan 31 korban dan Nagekeo sebanyak 14 orang.
Selain itu, enam korban meninggal tercatat di Sikka, lima orang di Ngada, dua orang di Ende, dan satu orang di Manggarai Barat.
Dari total korban meninggal, 40 orang merupakan laki-laki dan 48 perempuan. Sementara tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi.
Gempa juga menyebabkan sedikitnya 1.286 orang mengalami luka-luka.
Berdasarkan kelompok usia, korban meninggal terdiri atas 39 lansia, empat batita, satu balita, 12 anak dan remaja, serta 35 orang dewasa.
BNPB mencatat sebagian besar korban meninggal akibat dampak langsung gempa, termasuk tertimpa bangunan yang roboh. Sementara sisanya meninggal akibat dampak tidak langsung.