- Guru Besar UGM Priyono Suryanto mengkritik pemerintah karena penanganan karhutla masih terlalu mengandalkan respons saat api membesar.
- BNPB mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hingga Minggu 22 Agustus 2026 telah mencapai 72.798 hektare.
- Priyono mendorong perubahan paradigma penanganan karhutla dari reaktif menjadi sistem penjagaan lingkungan secara berkelanjutan dan antisipatif.
Ia menyebut setidaknya ada tiga perubahan yang perlu dilakukan negara.
Pertama, mengubah gotong royong saat krisis menjadi ekosistem penjagaan permanen. Kedua, menjadikan pengalaman lapangan sebagai memori strategis nasional. Ketiga, menggeser pola penanganan dari reaktif menjadi antisipatif.
Menurut Priyono, ketangguhan negara dalam menghadapi karhutla tidak seharusnya diukur dari seberapa besar operasi pemadaman yang dapat dikerahkan ketika api sudah membesar.
Bagi Priyono, indikator keberhasilan justru ketika operasi pemadaman berskala besar semakin jarang dibutuhkan karena kawasan hutan dan gambut telah dijaga sebelum api muncul.
"Keberhasilan tertinggi justru tercapai ketika operasi pemadaman besar semakin jarang diperlukan karena bentang alam telah dijaga sebelum api datang," pungkasnya.