-
Iran menuntut perundingan berbasis kesetaraan dan penghormatan sebagai jalan tunggal perdamaian dengan AS.
-
Menlu Iran menyebut sanksi ekonomi Amerika Serikat sebagai bentuk keputusasaan strategi politik Washington.
-
Konflik berlanjut tanpa konfrontasi militer langsung setelah nota kesepahaman penghentian permusuhan Juni lalu gagal.
Langkah agresif tersebut diambil AS guna mengajak koalisi global membatasi kemitraan komersial dengan industri-industri kunci Iran.
Namun, kebijakan pengasingan pasar ini dinilai banyak pihak hanya memperdalam jarak komunikasi antar kedua negara yang telah memanas sejak awal tahun.
Eskalasi perselisihan kedua negara melonjak tajam sejak akhir Februari lalu pasca aksi saling serang militer yang melibatkan infrastruktur strategis.
Ketegangan antara AS dan Iran dimulai pada 28 Februari saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang pihak lawan.
Aksi balasan beruntun tersebut memicu kerusakan signifikan pada pusat-pusat vital manufaktur dan eksplorasi energi Iran.
Kemudian, Maret, AS dan Israel menyerang sasaran di ladang gas South Pars serta kawasan industri Assaluyeh di Iran selatan.
Serangan ke pusat pemrosesan energi Assaluyeh semakin memperkeruh peta keamanan di teluk strategis kawasan tersebut.
Apakah Kesepakatan Damai Masih Memiliki Peluang?
Meski sempat ada titik terang melalui kesepakatan formal perhentian konflik, komitmen tersebut runtuh dalam hitungan hari akibat ketidakpercayaan kedua pihak.
Pada pertengahan Juni lalu, Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman mengenai penghentian permusuhan. Namun, tidak lama kemudian, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.
Konflik tersebut hingga kini belum terselesaikan. Konfrontasi bersenjata secara langsung kini beralih menjadi perang gesekan lewat instrumen sanksi dan isolasi ekonomi jangka panjang.
Meski demikian, kedua pihak tidak sedang bertempur secara langsung, sementara AS mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran.