-
Krisis gas melumpuhkan enam pabrik pupuk dan ratusan industri tekstil utama di Bangladesh.
-
Penurunan produksi sumur tua dan terhambatnya impor memicu pemadaman listrik massal nasional.
-
Kurangnya investasi eksplorasi gas masa lalu menjadi pemicu utama keterpurukan energi Bangladesh.
Banyak keluarga, terutama di kawasan pedesaan, kini terpaksa beralih kembali menggunakan kompor kayu bakar untuk memasak harian. Gelombang pemadaman listrik yang sering terjadi di tengah suhu panas dan kelembapan tinggi kian memperberat beban hidup warga.
"Penderitaan kami tidak ada habisnya," kata Begum.
"Tidak ada jaminan ketersediaan listrik. Sekarang sangat panas. Tadi malam saja terjadi tiga atau empat kali pemadaman."
Protes sosial juga pecah di jalanan ketika para pengemudi riksya berbahan bakar gas memblokir jalan setelah mengantre berjam-jam tanpa mendapatkan bahan bakar.
Defisit energi yang parah ini sejatinya merupakan buah dari permasalahan struktural yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.
Padahal, Bangladesh sempat mencapai status mandiri gas bumi pada tahun 2018 sebelum produksi sumur-sumur lamanya terus merosot drastis.
Para pakar menilai kegagalan pemerintah terdahulu dalam menanamkan investasi eksplorasi sumur baru menjadi akar kehancuran pasokan energi nasional.
Menteri Energi Iqbal Hasan Mahmud Tuku menyalahkan pemerintahan mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina yang digulingkan pada revolusi 2024 atas pembiaran tersebut.
"Pemerintah sebelumnya menjauh dari eksplorasi gas," katanya dalam sebuah konferensi keamanan energi di Dhaka pada bulan Juli.
"Ketergantungan kita pada impor telah membawa kita ke titik ini."
Secara historis, Bangladesh mengandalkan pasokan gas dari lapangan-lapangan domestik seperti Titas serta pasokan impor LNG dari Qatar. Penurunan kapasitas sumur tua yang tidak diimbangi penemuan cadangan baru membuat ketergantungan impor berisiko tinggi saat terjadi gangguan pasokan global.