Lebih dari Sepekan Pascagempa Flores, Anak-Anak Hadapi Ancaman Berlapis

Vania Rossa

Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:06 WIB
Lebih dari Sepekan Pascagempa Flores, Anak-Anak Hadapi Ancaman Berlapis
Kondisi di pengungsian pascagempa Flores NTT (dok. Plan Indonesia)
baca 10 detik
  • Gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 menyebabkan 161.084 orang mengungsi dan 91 korban meninggal dunia.
  • Anak-anak di pengungsian menghadapi risiko kesehatan fisik akibat minimnya fasilitas sanitasi serta ancaman tekanan psikologis mendalam.
  • Plan Indonesia menyalurkan bantuan darurat serta memberikan layanan dukungan psikososial dan perlindungan bagi kelompok rentan terdampak.

Suara.com - Lebih dari sepekan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, anak-anak terdampak masih menghadapi berbagai risiko di lokasi pengungsian.

Berdasarkan pembaruan situasi hingga Minggu (23/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 161.084 orang masih mengungsi. Sementara itu, 91 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) juga mencatat 48 korban meninggal yang sebelumnya terdata merupakan anak dan perempuan dewasa.

Plan Indonesia menilai kondisi pengungsian yang masih serba terbatas dapat meningkatkan kerentanan anak. Keterbatasan selimut, air bersih, sanitasi, serta fasilitas dasar lainnya membuat keluarga harus bertahan dalam kondisi yang kurang layak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebelumnya melaporkan dua anak meninggal dunia setelah mengalami sakit yang diperparah oleh kondisi di pengungsian.

Kepadatan pengungsian dan minimnya fasilitas sanitasi juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan infeksi kulit.

Distribusi air bersih bagi warga pascagempa Flores NTT (dok. Plan Indonesia)
Distribusi air bersih bagi warga pascagempa Flores NTT (dok. Plan Indonesia)

Selain ancaman kesehatan fisik, anak-anak juga menghadapi tekanan psikologis. Kehilangan rumah, terganggunya rutinitas, serta berada jauh dari lingkungan yang familiar dapat memengaruhi rasa aman mereka.

Kondisi tersebut diperparah dengan masih terjadinya gempa susulan. Hingga Minggu (23/8), tercatat 5.688 gempa susulan. Situasi ini dinilai dapat kembali memicu rasa takut dan kecemasan pada anak-anak serta menghambat pemulihan mereka.

“Kematian anak di lokasi pengungsian adalah alarm keras bagi penanganan darurat bencana ini. Bagi anak-anak, ancaman tidak selesai saat guncangan gempa berakhir. Ketika mereka terpaksa bertahan di tempat pengungsian yang dingin, berimpitan, dan minim air bersih, hak-hak mereka terancam,” kata Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti dalam keterangan tertulis, Senin (24/8).

baca juga

Dini mendesak bantuan dasar untuk para pengungsi segera dipenuhi secara menyeluruh. Menurutnya, kebutuhan seperti selimut, terpal, tikar atau alas, pembatas tenda, penahan angin malam, hingga air bersih harus menjadi prioritas.

Dia juga menyoroti aspek keamanan dan perlindungan bagi anak serta perempuan di lokasi pengungsian. Minimnya penerangan di sekitar tenda dan akses toilet yang tidak aman dinilai dapat meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender maupun gangguan keamanan terhadap anak perempuan.

Karena itu, Plan Indonesia meminta lokasi pengungsian memastikan aspek keamanan, privasi, perlindungan, serta akses yang inklusif bagi anak dan kelompok rentan.

Sejak hari pertama setelah gempa, Plan Indonesia telah mengerahkan 16 anggota Emergency Response Team ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Nagekeo.

Tim tersebut melakukan kaji cepat kebutuhan dengan fokus pada penyediaan air bersih, sanitasi dan kebersihan (WASH), pendidikan dalam situasi darurat, serta perlindungan anak.

Plan Indonesia juga telah menyalurkan ribuan paket bantuan awal berupa terpal, tikar atau matras, selimut, paket kebersihan keluarga, paket kebersihan menstruasi, serta air siap minum. Distribusi air bersih juga dilakukan di sejumlah titik pengungsian.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Risiko Hipotermia dan Kekerasan Terhadap Anak di Pengungsian Gempa NTT

Risiko Hipotermia dan Kekerasan Terhadap Anak di Pengungsian Gempa NTT

News | Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:36 WIB

Gempa Flores, Perusahaan Tambang Ini Kirim Bantuan Logistik

Gempa Flores, Perusahaan Tambang Ini Kirim Bantuan Logistik

Bisnis | Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Gempa 5,9 Magnitudo Sebabkan Pipa Bawah Tanah Pecah, Bagaimana Kondisi PLTN Jepang?

Gempa 5,9 Magnitudo Sebabkan Pipa Bawah Tanah Pecah, Bagaimana Kondisi PLTN Jepang?

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 20:14 WIB

Terkini

Survei Tempo Data Science: Kepuasan Publik Terhadap Prabowo-Gibran Anjlok Jadi 37 Persen

Survei Tempo Data Science: Kepuasan Publik Terhadap Prabowo-Gibran Anjlok Jadi 37 Persen

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:09 WIB

Bela Istri yang Ditendang, Pria di Cibinong Tewas Ditikam Saat Beli Gorengan

Bela Istri yang Ditendang, Pria di Cibinong Tewas Ditikam Saat Beli Gorengan

Bogor | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:07 WIB

Sempat Jadi Omongan, Ternyata Ini Alasan Presiden Prabowo Baru Tiba di NTT 11 Hari Pascagempa

Sempat Jadi Omongan, Ternyata Ini Alasan Presiden Prabowo Baru Tiba di NTT 11 Hari Pascagempa

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:06 WIB

Komisi III dan Polisi Sepakat Buka Rekening Supriyono alias Botok Hari Ini

Komisi III dan Polisi Sepakat Buka Rekening Supriyono alias Botok Hari Ini

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:05 WIB

Raih Hibah United Board 2026, UAJY dan AMSI Kolaborasi Kuatkan Jurnalisme Biodiversitas

Raih Hibah United Board 2026, UAJY dan AMSI Kolaborasi Kuatkan Jurnalisme Biodiversitas

Jogja | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:05 WIB

Zaahira, Anak Istimewa yang Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

Zaahira, Anak Istimewa yang Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:02 WIB

Soal Tarif Parkir Naik Sampai Rp60 Ribu, Dishub DKI Tegaskan Masih Usulan dan Belum Diputuskan

Soal Tarif Parkir Naik Sampai Rp60 Ribu, Dishub DKI Tegaskan Masih Usulan dan Belum Diputuskan

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:01 WIB

Review Sore: Istri dari Masa Depan, Cinta, Pilihan, dan Kesempatan Kedua

Review Sore: Istri dari Masa Depan, Cinta, Pilihan, dan Kesempatan Kedua

Your Say | Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:00 WIB

Masterpiece yang Carut Marut: Kelebihan dan Kekurangan Film Snake Eyes: G.I. Joe Origins

Masterpiece yang Carut Marut: Kelebihan dan Kekurangan Film Snake Eyes: G.I. Joe Origins

Your Say | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:59 WIB

Minta Kader Tiru Gaya KDM, Herman Khaeron: Rakyat Jabar Memilih Pakai Hati

Minta Kader Tiru Gaya KDM, Herman Khaeron: Rakyat Jabar Memilih Pakai Hati

Jabar | Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:59 WIB

×