- PT Mayawana Persada mengerahkan 170 personel, teknologi pemantauan, serta 74 sumber air untuk mengatasi karhutla di Ketapang dan Kayong Utara.
- Perusahaan mengelola tata air gambut melalui penutupan pintu kanal dan penjagaan ketinggian muka air guna mencegah kebakaran bawah permukaan.
- PT Mayawana Persada menyalurkan bantuan peralatan pemadam kepada Desa Padu Banjar untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendeteksi kebakaran.
Kesiapsiagaan karhutla juga tidak hanya mengandalkan tim pemadam. Kapasitas masyarakat di sekitar kawasan turut diperkuat melalui dukungan sarana dan prasarana pemadam kebakaran.
PT Mayawana Persada, melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR), menyalurkan bantuan peralatan pemadam kepada Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Desa tersebut berada di bentang alam Hutan Lindung Sungai Paduan.
Bantuan diterima Kepala Desa Padu Banjar Kasdy, didampingi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari Samsidar dan perwakilan Yayasan Palung Hendri Gunawan.
Langkah tersebut merupakan bagian dari kerja kolaboratif Working Group Landscape MATA PANDAWA, dengan harapan masyarakat dapat meningkatkan kemampuan mendeteksi dan menangani potensi karhutla di tingkat tapak.
Selain pencegahan dan pemadaman, pengelolaan ekosistem juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan jangka panjang. Program rehabilitasi gambut dilakukan melalui revegetasi menggunakan spesies pohon endemik rawa gambut yang dinilai mampu beradaptasi dengan kondisi lahan.
Asisten Sustainability PT Mayawana Persada Charia Salasari mengatakan bibit dikembangkan di Revegetation Nursery internal sebelum ditanam di kawasan hutan.
“Bibit dibudidayakan langsung di Revegetation Nursery internal di dalam kawasan hutan agar terbiasa dengan iklim setempat. Melalui pola tanam berjarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur berkala setiap enam bulan, tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) bibit revegetasi kami saat ini telah mencapai sekitar 80 persen,” terang Charia.
Perusahaan juga mengusulkan peningkatan alokasi kawasan konservasi dari 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU), termasuk penguatan perlindungan bentang alam di wilayah selatan konsesi.
Asisten Kepala Sustainability PT Mayawana Persada Muharjan mengatakan kawasan konservasi tersebut sekaligus berfungsi sebagai koridor bagi satwa.
“Kawasan konservasi berkanopi rapat ini menjadi koridor jelajah yang aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya sekaligus memberi jaminan kelestarian ekologis bagi masyarakat sekitar,” pungkas Muharjan.
Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan karhutla tidak berhenti pada pemadaman ketika api muncul. Deteksi dini berbasis teknologi, kesiapan personel dan sumber air, pengelolaan tata air gambut, hingga keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari pendekatan untuk mencegah kebakaran meluas dan menjaga ekosistem.