- Kebakaran melanda permukiman Desa Adat Sade di Lombok Tengah pada 22 Agustus 2026 dan berdampak pada 320 jiwa.
- Program GROW with RupiahCepat menyalurkan bantuan logistik, pendidikan, dan air bersih kepada warga terdampak pada 28 Agustus.
- Penyaluran bantuan tersebut bertujuan untuk membantu pemulihan awal warga, anak-anak, serta kelangsungan aktivitas budaya masyarakat Sasak.
Suara.com - Pemulihan warga Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terus menjadi perhatian setelah kebakaran melanda kawasan permukiman adat tersebut pada Sabtu (22/8/2026).
Sedikitnya 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa terdampak akibat kebakaran tersebut. Kondisi ini membuat kebutuhan warga tidak hanya berkaitan dengan tempat tinggal, tetapi juga kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, perlengkapan bayi, hingga akses air bersih.
Desa Adat Sade memiliki arti penting bagi masyarakat Sasak karena menjadi salah satu kawasan yang masih mempertahankan tradisi secara turun-temurun. Selain sebagai tempat tinggal, Sade juga dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Lombok Tengah.
Kebakaran turut berdampak pada sejumlah rumah tradisional, artshop, peralatan tenun, perlengkapan kesenian, benda pusaka, hingga naskah lontar. Karena itu, proses pemulihan masyarakat tidak hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga keberlangsungan aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya.
Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah memastikan anak-anak tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari setelah terdampak kebakaran. Bantuan perlengkapan sekolah, pakaian, serta kebutuhan bayi dan keluarga menjadi bagian dari dukungan yang disalurkan kepada warga.
Pada Jumat (28/8), bantuan untuk masyarakat terdampak disalurkan melalui program GROW with RupiahCepat. Penyaluran tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan Chili House Foundation untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang paling mendesak dan belum terpenuhi.
Bantuan yang diberikan mencakup pakaian dan pakaian dalam untuk anak maupun dewasa, perlengkapan bayi seperti baju, minyak telon, kaus kaki, dan popok. Untuk mendukung kebutuhan pendidikan, bantuan juga berupa buku, alat tulis, dan kaus kaki.
Selain itu, warga menerima bahan pokok berupa beras, gula, dan minyak, kebutuhan perempuan berupa pembalut, serta dua tandon air untuk mendukung ketersediaan air bersih.
Direktur Utama PT Kredit Utama Fintech Indonesia, Balandina Siburian, mengatakan kebutuhan masyarakat tetap berlanjut setelah masa tanggap darurat berakhir. Menurutnya, anak-anak perlu kembali bersekolah, sementara keluarga harus kembali memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami turut prihatin atas musibah yang dialami masyarakat Desa Adat Sade. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan warga tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Anak-anak perlu kembali bersekolah, keluarga perlu memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan masyarakat perlu perlahan kembali menjalankan aktivitasnya,” ujar Balandina.
Ia berharap bantuan yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan warga selama tahap awal pemulihan, terutama anak-anak, perempuan, dan keluarga yang terdampak.
“Melalui GROW with RupiahCepat, kami ingin hadir dengan kontribusi yang sederhana tetapi relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Kami berharap dukungan ini dapat membantu meringankan beban warga, khususnya anak-anak, perempuan, dan keluarga terdampak, sekaligus menjadi bagian dari semangat bersama untuk membantu masyarakat Sade bangkit,” lanjutnya.
Wakil Kepala Dusun Sade, Desa Rembitan, sekaligus Koordinator Posko Bantuan, Medal, mengapresiasi dukungan yang diberikan kepada warga.
“Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak-anak setelah kebakaran. Kami berharap dukungan seperti ini dapat membantu warga melewati masa pemulihan dan kembali menjalankan aktivitas seperti sebelumnya,” ujarnya.
Pemulihan Desa Adat Sade menjadi tantangan tersendiri karena masyarakat tidak hanya perlu kembali memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjaga keberlangsungan aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak secara turun-temurun.