-
Pemkot Pontianak memperpanjang masa sekolah daring hingga sepekan ke depan akibat kabut asap karhutla.
-
Kebijakan ini diambil untuk mencegah lonjakan kasus ISPA yang telah mencapai 300 penderita harian.
-
Status darurat asap telah ditetapkan sambil imbauan penggunaan masker terus digalakkan kepada warga.
Suara.com - Pemerintah Kota Pontianak menetapkan perpanjangan masa belajar daring hingga satu pekan mendatang untuk melindungi keselamatan para siswa. Keputusan mendesak ini diambil setelah ancaman racun kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan semakin membahayakan kesehatan masyarakat.
"Aktivitas belajar di lingkungan sekolah masih diliburkan dan belajar untuk saat ini secara daring, sampai cuaca membaik. Karena kabut asap sampai saat ini masih pekat," kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, di Pontianak, Minggu.
Langkah preventif ini langsung menyasar seluruh jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, hingga SMP di kawasan ibu kota Kalimantan Barat. Penutupan gedung sekolah menjadi pilihan rasional untuk membendung laju penderita infeksi saluran pernapasan akut yang memicu krisis kesehatan anak.
![Kabut asap menutupi Sungai Kapuas, di Pontianak akibat kebakaran hutan di Kalimantan Barat pada Agustus 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/24/96384-kebakaran-hutan-pontianak.jpg)
"Kita melihat ISPA di Pontianak terjadi 300 per hari, sehingga kita tidak ingin itu terjadi dan terus bertambah," ujar Edi.
Berdasarkan instruksi Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar per 29 Agustus 2026, siswa SMA sederajat juga harus mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh. Ketetapan ini menandai bahwa proses belajar-mengajar dari rumah di wilayah Pontianak telah melampaui kurun waktu tiga pekan selama bulan Agustus.
Mengapa Pemkot Pontianak Memilih Perpanjang Sekolah Daring?
Meskipun aktivitas sekolah tatap muka dihentikan total, jajaran aparatur sipil negara di lingkungan pemkot tetap diwajibkan memberikan pelayanan publik. Pengaturan kerja khusus hanya diberlakukan bagi pegawai yang mengalami gangguan kesehatan atau sakit akibat kondisi udara yang buruk.
"Kita pasti memberikan pelayanan di Pemkot. Tapi kan kita di ruangan. Kalau yang sakit ya melalui WFH," ujarnya.
Pemerintah daerah resmi menaikkan respons penanganan menjadi status darurat asap guna mempercepat mobilisasi pemadaman karhutla di lapangan. Selain itu, warga diminta mengurangi interaksi fisik di tempat terbuka serta selalu menggunakan alat pelindung pernapasan saat beraktivitas di luar rumah.
"Masyarakat juga diimbau harus membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik, dan menggunakan masker jika terpaksa harus ke luar," tuturnya.
Di sisi lain, penerapan sistem pembelajaran jarak jauh yang berlangsung terlalu lama memicu keluhan dari para tenaga pengajar. Keterbatasan ruang interaksi digital dinilai menurunkan kualitas penyerapan materi pelajaran bagi anak didik.
"Aktivitas belajar jadi sangat terbatas, dan kurang efektif. Kita berharap Kota Pontianak dan sekitarnya segera hujan secara merata, dan pemerintah daerah juga dapat lebih memperkuat penanganan karhutla agar aktivitas dapat berjalan kembali normal," kata dia.
Dukungan penuh justru datang dari kalangan orang tua murid yang khawatir atas dampak buruk pencemaran udara terhadap paru-paru anak-anak mereka. Pengetatan aktivitas di dalam rumah dianggap sebagai pilihan paling aman selama kabut selimut racun belum terurai.
"Tentu khawatir kabut asap ini yang masih pekat. Anak memang di rumah saja selama ada kabut asap," kata dia.
Bencana kabut asap di Kalimantan Barat merupakan dampak berulang dari kebakaran hutan dan lahan yang saban tahun melanda wilayah lahan gambut. Fenomena ini rutin memicu krisis lingkungan, melumpuhkan sektor pendidikan, serta mengancam kesehatan pernapasan puluhan ribu warga Kota Pontianak.