- Kamboja menutup lebih dari 700 markas penipuan siber dan mendeportasi 58.266 warga asing.
- Hampir 30.000 tersangka ditangkap, termasuk 15 pejabat tinggi serta aparat penegak hukum Kamboja.
- Sindikat penipuan kini mengubah taktik menjadi jaringan kecil yang bersembunyi di pemukiman umum.
Suara.com - Pemerintah Kamboja berhasil meratakan lebih dari 700 kompleks penipuan siber dan mendeportasi 58.266 warga negara asing sepanjang tahun lalu. Langkah drastis ini menandai pergeseran besar strategi keamanan Kamboja dalam membersihkan citra negara dari pusat kejahatan digital global.
Pemberantasan masif ini menjaring hampir 30.000 tersangka, termasuk 15 pejabat tinggi pemerintah serta aparat penegak hukum setempat. Pengkambinghitaman sistemik yang melibatkan orang dalam birokrasi mulai terbongkar secara terbuka ke publik.
Sebanyak 3.400 tersangka dari 29 kewarganegaraan—termasuk warga negara Tiongkok, Vietnam, Australia, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Thailand—saat ini mendekam di tahanan untuk menunggu proses peradilan. Operasi ini membuktikan skema penipuan siber Kamboja telah menjerat korban dan pelaku dari berbagai belahan dunia.
![Dokumentasi: Personel militer China dan Kamboja dalam latihan militer Naga Emas di desa Svay Chok, provinsi Kampong Chhnang, utara Phnom Penh Kamboja, Kamis, 30 Mei 2024 [Suara.com/VOA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/28/42975-tentara-kamboja.jpg)
Jaringan kejahatan transnasional menjadikan negara di Asia Tenggara ini sebagai sarang utama pengoperasian manipulasi asmara palsu dan investasi kripto bodong. Para pelaku lapangan di dalamnya terdiri dari kombinasi antara individu yang bekerja secara sukarela hingga korban tindak pidana perdagangan orang.
Tekanan politik yang kian memuncak dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok memaksa aparat Kamboja mengambil tindakan represif. Penutupan ratusan tempat operasi penipuan ini menjadi respons nyata atas desakan internasional tersebut.
Bagaimana Pola Kejahatan Siber Kamboja Berubah Sekarang?
Pembersihan besar-besaran di lokasi utama nyatanya tidak mendistorsi niat para pelaku kejahatan untuk terus beroperasi. Kelompok kriminal kini mengubah strategi secara cerdik agar tetap terlepas dari pantauan aparat penegak hukum.
"Meskipun lokasi berskala besar telah dibersihkan sepenuhnya, kelompok kriminal telah mengubah taktik mereka menjadi kegiatan berskala kecil yang terdesentralisasi, bersembunyi di wisma, kondominium, rumah sewa, kendaraan, dan kedai kopi," kata pemerintah Kamboja, dikutip dari CNA, Minggu (30/8/2026).
Perubahan pola operasi dari kompleks terisolasi menjadi sel-sel kecil di tengah pemukiman warga menyulitkan pelacakan berkala. Aparat kini harus menyisir kawasan komersial hingga tempat tinggal sipil untuk mengendus sisa-sisa sindikat.
Sebagai bentuk komitmen global, Kamboja telah mengestradisi tokoh kunci kejahatan siber bernama Chen Zhi ke Tiongkok pada Januari lalu. Pria kelahiran Tiongkok yang memimpin konglomerat Prince Holding Group ini sebelumnya telah dijatuhi sanksi resmi oleh pemerintah Amerika Serikat dan Inggris.
Pemerintah Kamboja melanjutkan tindakan tegasnya pada April dengan menyerahkan Li Xiong, mantan pimpinan Huione Group, kepada otoritas Beijing. Li Xiong dituduh oleh Tiongkok memegang peranan vital dalam jaringan perjudian serta penipuan lintas negara berskala raksasa.
Pertumbuhan pesat kompleks penipuan siber di Kamboja berakar dari menjamurnya kawasan kasino dan pembangunan properti tak terawasi selama beberapa tahun terakhir. Celah hukum serta lemahnya pengawasan dimanfaatkan oleh kelompok kriminal internasional untuk mendirikan markas peretasan dan penipuan berbasis komputer.
Perkembangan jaringan kejahatan ini kian memprihatinkan karena memicu maraknya praktik perdagangan manusia dari berbagai negara untuk dipekerjakan secara paksa. Penindakan tegas yang beruntun dalam setahun terakhir menjadi momentum penting bagi Kamboja untuk memulihkan kedaulatan hukum dan citra wilayahnya.