Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 22:46 WIB
Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa
Foto udara asap mengepul dari kebun kelapa sawit dan pinang yang terbakar di Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU]
baca 10 detik
  • Dosen UGM Dwi Sendi Priyono menyatakan restorasi karhutla harus memprioritaskan konektivitas habitat satwa berbasis data lapangan pada Jumat (28/8/2026).
  • Pemulihan ekosistem wajib didukung restorasi hidrologi gambut agar lanskap tidak kering dan berulang kali mengalami kebakaran setiap musim kemarau.
  • Ukuran keberhasilan penanganan karhutla harus berfokus pada keterhubungan populasi satwa serta viabilitas genetik alih-alih luas wilayah semata.

Suara.com - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup hanya berorientasi pada luas wilayah yang berhasil dipadamkan maupun direstorasi. Pemulihan ekosistem harus memastikan habitat satwa tetap terhubung agar populasi tidak terisolasi dan kehilangan keragaman genetik.

Dosen Fakultas Biologi UGM sekaligus Anggota Society for Wildlife Forensic Science (SWFS), Dwi Sendi Priyono, mengatakan restorasi seharusnya memprioritaskan konektivitas antarkawasan.

"Prioritas restorasi harus berbasis konektivitas, bukan cuma luas. Sering yang direstorasi itu area yang gampang diakses, padahal secara ekologis yang paling genting adalah patch-patch sempit yang menghubungkan dua blok besar," kata Sendi kepada Suara.com, dikutip Jumat (28/8/2026).

Menurut Sendi, pendekatan yang hanya melihat luasan restorasi berisiko mengabaikan persoalan fragmentasi habitat. Satwa mungkin masih memiliki kawasan untuk hidup, tetapi kehilangan jalur untuk berpindah, mencari makan, berkembang biak, dan bertukar gen dengan populasi lain.

Maka dari itu, penentuan koridor satwa tidak cukup hanya mengandalkan peta kesesuaian habitat. Diperlukan data lapangan untuk memastikan kawasan yang ditetapkan sebagai koridor memang digunakan oleh satwa.

"Penentuan koridor harus pakai data. Sekarang penentuan koridor sering masih berbasis kesesuaian habitat di atas peta, padahal habitat yang keliatan cocok belum tentu benar-benar dilewati satwa," tandasnya.

Ia menjelaskan perilaku satwa di lapangan, kondisi pascakebakaran, gangguan manusia, hingga perubahan lanskap dapat membuat koridor yang secara teoritis sesuai justru tidak berfungsi.

Foto udara bekas tebangan kayu yang terbakar di Tenam, Batang Hari, Jambi, Jumat (21/8/2026). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU]
Foto udara bekas tebangan kayu yang terbakar di Tenam, Batang Hari, Jambi, Jumat (21/8/2026). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/YU]

Selain konektivitas habitat, kata Sendi, kondisi genetik populasi perlu dijadikan salah satu indikator keberhasilan pemulihan setelah karhutla. Pemantauan genetik dinilai penting karena dapat menunjukkan tekanan terhadap populasi sebelum penurunan jumlah individu terlihat secara kasatmata.

"Monitoring genetik jadi indikator pasca-karhutla. Ini yang bisa kasih peringatan dini sebelum populasi kolaps, karena penurunan genetik selalu mendahului penurunan jumlah individu yang terlihat," ujarnya.

baca juga

Namun, persoalan mendasar juga berada pada kondisi lanskap, khususnya ekosistem gambut. Menurutnya, restorasi koridor satwa tidak akan banyak berarti jika gambut tetap dalam kondisi kering dan mudah terbakar setiap musim kemarau.

"Ini paling mendasar, restorasi hidrologi gambut. Selama kanal drainase masih terbuka, gambut akan tetap kering dan tetap terbakar. Koridor secanggih apapun percuma kalau lanskapnya masih flammable tiap kemarau," tegasnya.

Selain pemulihan lanskap, pemantauan fauna setelah kebakaran harus terus diperkuat. Ia secara khusus menyoroti fauna akuatik gambut yang dapat terdampak perubahan kualitas dan kondisi ekosistem akibat kebakaran.

"Monitoring pasca-kebakaran, terutama buat fauna akuatik gambut. Ini perlu buat tahu spesies apa yang masih tersisa," tandasnya.

Pada akhirnya, Sendi mendorong perubahan indikator keberhasilan penanganan karhutla.

Ukuran keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada jumlah hektare yang berhasil dipadamkan atau direstorasi.

"Intinya, ke depan kita perlu geser cara mengukur keberhasilan. Jangan cuma 'berapa hektare yang dipadamkan dan direstorasi', tapi 'apakah populasi satwa di dalamnya masih saling terhubung dan masih viable secara genetik'," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenang Korban, Massa Gelar Aksi 'Agustus Gelap' di UGM: Menolak Lupa Kekerasan Aparat

Kenang Korban, Massa Gelar Aksi 'Agustus Gelap' di UGM: Menolak Lupa Kekerasan Aparat

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 20:54 WIB

Panglima Jilah Temui Prabowo di Istana, Bahas Solusi Karhutla dan Nasib Masyarakat Adat

Panglima Jilah Temui Prabowo di Istana, Bahas Solusi Karhutla dan Nasib Masyarakat Adat

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 20:22 WIB

BRIN Belum Pastikan Efektivitas Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla

BRIN Belum Pastikan Efektivitas Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:23 WIB

Kabut Asap Karhutla Kepung Palangka Raya

Kabut Asap Karhutla Kepung Palangka Raya

Foto | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 17:36 WIB

Tersangka Karhutla Naik Jadi 89 Orang, Polri Mulai Bidik Jejak Keterlibatan Korporasi

Tersangka Karhutla Naik Jadi 89 Orang, Polri Mulai Bidik Jejak Keterlibatan Korporasi

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 16:46 WIB

Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla Dinilai Sangat Memungkinkan

Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla Dinilai Sangat Memungkinkan

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 15:55 WIB

BEI Peringatkan Efek Karhutla: Pasokan Unit Karbon Bisa Menyusut

BEI Peringatkan Efek Karhutla: Pasokan Unit Karbon Bisa Menyusut

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 14:35 WIB

Sekolah Diliburkan karena Asap Karhutla, KPAI Ingatkan Negara Tak Boleh Lepas Tangan dari Anak

Sekolah Diliburkan karena Asap Karhutla, KPAI Ingatkan Negara Tak Boleh Lepas Tangan dari Anak

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 13:45 WIB

Karhutla Mulai Mengusik Hak Anak: Kesehatan, Pendidikan hingga Lingkungan Terdampak

Karhutla Mulai Mengusik Hak Anak: Kesehatan, Pendidikan hingga Lingkungan Terdampak

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 13:24 WIB

Malaysia Darurat Asap Kebakaran Hutan Kalimantan, Infeksi ISPA hingga Diterjang Super El Nino

Malaysia Darurat Asap Kebakaran Hutan Kalimantan, Infeksi ISPA hingga Diterjang Super El Nino

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 12:52 WIB

Terkini

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 21:52 WIB

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:24 WIB

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:23 WIB

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jatim | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

×