DPR Desak Polisi Usut Peran Ormas di Balik Pengeroyokan Maut Warga Pejompongan

Muhamad Yasir, Bagaskara Isdiansyah

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:20 WIB
DPR Desak Polisi Usut Peran Ormas di Balik Pengeroyokan Maut Warga Pejompongan
Situasi rumah duka Bambang Setiawan di Pejompongan Raya, Jumat (28/8/2026). [Suara.com/Faqih]
baca 10 detik
  • Anggota DPR Abdullah mendesak Polri menangkap dalang pengeroyokan Bambang Setyawan di Pejompongan.
  • Keluarga menolak autopsi jenazah Bambang yang tewas usai menjadi korban pengeroyokan saat kerusuhan demonstrasi.
  • Kericuhan di Pejompongan terjadi karena perluasan bentrokan pascademonstrasi di depan Gedung DPR RI.

Suara.com - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB Abdullah mendesak Polri membongkar dalang di balik pengeroyokan yang menewaskan Bambang Setyawan (60), warga Pejompongan, Jakarta Pusat.

Abdullah meminta penyidik tak berhenti mengejar orang-orang yang melakukan kekerasan di lapangan. Menurutnya, polisi juga harus menelusuri siapa yang menggerakkan massa hingga terjadinya pengeroyokan pada Kamis (27/8/2026) malam tersebut.

"Ini yang harus dibongkar oleh polisi. Siapa mereka, dari mana mereka datang, siapa yang menggerakkan, apa tujuannya, dan apakah ada yang memberikan perintah? Jangan berhenti hanya pada orang yang melakukan kekerasan di lapangan,” tegas Abdullah dalam keterangannya kepada Suara.com, Senin (31/8/2026).

Bambang dilaporkan menjadi korban pengeroyokan saat hendak mengecek lampu tokonya yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Berdasarkan rekaman video dan keterangan saksi, korban diduga diseret dari sebuah gang ke jalan raya sebelum mengalami kekerasan hingga tak sadarkan diri.

Abdullah menilai seluruh pihak yang terbukti terlibat harus diproses secara hukum. Bahkan, dia meminta penyidik mendalami kemungkinan adanya unsur perencanaan dalam peristiwa tersebut.

"Ini berpotensi dijerat pasal pembunuhan berencana. Tetapi tentu harus dibuktikan terlebih dahulu apakah memang terdapat unsur perencanaan untuk menghilangkan nyawa korban,” kata Abduh.

Legislator dari Dapil VI Jawa Tengah itu juga mengingatkan agar kasus tersebut diusut secara transparan. Menurutnya, pembiaran justru dapat memperbesar ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan Polri.

"Sampai muncul tudingan bahwa pemerintah atau Polri memanfaatkan sekelompok massa untuk melakukan kekerasan dan melanggar hukum serta HAM terhadap pendemo maupun masyarakat di sekitar lokasi demonstrasi. Ini bahaya dan merugikan,” ujar Abduh.

Dia meminta polisi membuktikan ada atau tidaknya keterlibatan pihak tertentu dalam pengerahan massa. Hal itu dinilai penting agar tudingan mengenai adanya kelompok yang digunakan untuk melakukan kekerasan tidak berkembang tanpa kepastian hukum.

baca juga

Abdullah juga mendesak seluruh pelaku yang terlibat ditangkap. Jika dalam penyidikan ditemukan bukti keterlibatan ormas dalam pengerahan massa, dia meminta aparat tidak ragu mengambil tindakan sesuai hukum.

"Jangan sampai negara dan pemerintah dinilai tidak mampu menjaga ketertiban dan keamanan hingga tugas pokok dan fungsinya seolah-olah digantikan oleh orang-orang yang melakukan kekerasan dengan cara preman,” pungkasnya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto. [Suara.com/Humas Polda Metro]
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto. [Suara.com/Humas Polda Metro]

Keluarga Tolak Autopsi

Hingga kekinian penyebab pasti kematian Bambang belum dapat dipastikan polisi. Keluarga menolak autopsi terhadap korban yang ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di kawasan Pejompongan setelah kerusuhan pascademonstrasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto sebelumnya menjelaskan korban ditemukan tim Dokkes Polda Metro Jaya saat melakukan evakuasi. Bambang kemudian dibawa ke RS Mintohardjo untuk mendapat penanganan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Jenazah korban selanjutnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. Polisi sempat menawarkan autopsi guna mengetahui penyebab kematian, tetapi keluarga menolak dan telah membuat surat pernyataan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Grib Jaya Akui Hercules Hadir di Titik Ricuh Demo 27 Agustus: Pantau dan Jaga Kondusivitas

Grib Jaya Akui Hercules Hadir di Titik Ricuh Demo 27 Agustus: Pantau dan Jaga Kondusivitas

News | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:19 WIB

Isu Hercules Muncul di Tengah Kericuhan 27 Agustus, Polda Metro: Masih Didalami

Isu Hercules Muncul di Tengah Kericuhan 27 Agustus, Polda Metro: Masih Didalami

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 21:22 WIB

Tidak Sampai Dibakar, Lima Unit Truk yang Angkut Ormas Grib Jaya Dirusak Massa 27 Agustus

Tidak Sampai Dibakar, Lima Unit Truk yang Angkut Ormas Grib Jaya Dirusak Massa 27 Agustus

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 11:55 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×