-
Intelijen Ukraina mengungkap dokumen perekrutan setidaknya delapan warga negara Indonesia oleh militer Rusia.
-
Rusia mengeksploitasi WNI dengan janji gaji tinggi namun mengirim mereka sebagai tentara depan.
-
Lebih dari 1.500 warga asing dari 48 negara tercatat bergabung dengan militer Rusia.
Suara.com - Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina membocorkan dokumen resmi yang membongkar keterlibatan setidaknya delapan warga negara Indonesia dalam jajaran tentara bayaran Rusia. Langkah Moskow menyasar warga asing ini diambil demi menutupi krisis personel militer lokal di tengah merosotnya dukungan publik terhadap invasi tersebut.
Pemerintah Kremlin memanfaatkan kehadiran personel asing dari Asia Tenggara sebagai bahan propaganda untuk mengklaim adanya dukungan global atas aksi militernya. Taktik ini sengaja dijalankan guna menghindari potensi gejolak sosial akibat gelombang mobilisasi paksa terhadap warga Rusia sendiri.
Fenomena keterlibatan warga Indonesia ini menandai babak baru keterlibatan militer asing non-Eropa yang terseret langsung dalam pusaran konflik bersenjata terbesar di Eropa modern. Moskow menyasar negara berkembang dengan mengeksploitasi impian perbaikan ekonomi para imigran atau pencari kerja asing.

Agen perekrut Rusia menjanjikan gaji fantastis, iming-iming posisi di luar zona bahaya, kemudahan izin tinggal, hingga jaminan tunjangan hidup menggiurkan. Padahal janji manis tersebut hanyalah jebakan diplomatis untuk menjerumuskan mereka ke titik pertempuran paling mematikan.
Para rekrutan asing baru menyadari penipuan ini setelah mereka dipaksa mengangkat senjata tanpa kesiapan tempur. Fakta lapangan menunjukkan sebagian besar dari mereka langsung diterjunkan ke garis terdepan beberapa hari setelah tiba di wilayah Rusia.
Ukraina secara terbuka mengecam skema perekrutan terstruktur yang dirancang pemerintah Rusia untuk mencari personel tempur baru dari kawasan kepulauan Indonesia.
"Di tengah masalah sosial-ekonomi negara, perang, dan kemungkinan adanya gelombang mobilisasi baru, ketidakpuasan publik di Rusia terus meningkat," menurut intelijen Ukraina.
"Kremlin sedang mencari 'umpan meriam' baru di kepulauan Indonesia," tambah pernyataan itu.
Model perekrutan manipulatif ini sebelumnya telah memakan puluhan korban jiwa dari negara-negara berkembang seperti Nepal, Kuba, Kenya, hingga India.
"Namun, mereka yang direkrut sering kali tidak menyadari bahwa pada akhirnya mereka bisa saja dikirim ke garis depan pertempuran," klaim laporan tersebut.
Banyak di antara rekrutan lintas benua tersebut langsung terbunuh di medan tempur dalam hitungan minggu akibat ketiadaan pelatihan taktis dasar.
"Beberapa di antaranya tewas hanya dalam beberapa minggu first," tambah laman tersebut lagi.
Perekrutan warga Indonesia merupakan bagian kecil dari jaringan global tentara bayaran yang dibangun Rusia sejak pertengahan 2023. Kebocoran data Sistem Informasi dan Analisis Medis Terpadu Rusia mengungkap ada warga dari 48 negara yang mendaftar ke angkatan bersenjata Moskow.
Di wilayah ibu kota Moskow saja, tercatat lebih dari 1.500 warga negara asing telah ditandatangani kontrak militernya dalam rentang April 2023 hingga Mei 2024. Hal ini membuktikan bahwa strategi berburu personel asing dilakukan secara masif dan terstruktur oleh otoritas Rusia.
Latar belakang maraknya penggunaan tentara asing berakar pada besarnya angka kehilangan prajurit Rusia sejak dimulainya invasi penuh pada 2022. Kesulitan menggalang rekrutmen domestik memaksa otoritas militer menyasar warga dari negara-negara yang mengalami masalah ekonomi.
Pemerintah Ukraina mengonfirmasi telah menangkap ratusan personel militer asing dari berbagai negara yang bertempur demi membela kepentingan militer Kremlin. Otoritas di Kyiv mencatat sedikitnya 300 tentara bayaran asing kini berada dalam penahanan resmi pihak Ukraina.