-
Kebakaran hutan Sumatra memicu kabut asap pekat yang merusak kesehatan dan melumpuhkan ekonomi warga.
-
Pendapatan pedagang dan pekerja informal di Palembang merosot tajam akibat sepinya aktivitas masyarakat.
-
Pemerintah menyediakan fasilitas pengobatan gratis di tengah ancaman kemarau panjang akibat super-El Nino.
Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan pekat di Sumatra memangkas pendapatan harian pekerja informal di Palembang hingga 75 persen akibat sepinya aktivitas warga. Kualitas udara yang menembus level sangat tidak sehat memicu lonjakan kasus ISPA sekaligus menghentikan roda perekonomian rakyat kecil.
Penurunan drastis pendapatan harian dirasakan langsung oleh Kholidi, seorang pengayuh becak berusia 60 tahun yang kehilangan seluruh pelanggan sekolah dan pasar. Situasi sulit ini memaksa warga berjuang di tengah paparan racun udara demi memenuhi kebutuhan harian keluarga.
“Kemarin saya tidak membawa pulang uang sepeser pun, dan sepertinya hari ini pun akan sama,” kata Kholidi, seperti dikutip CNA, Senin (21/9/2026).
![Warga mengendarai sepeda motor saat melintas di samping api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/10/95269-karhutla-di-palangka-raya-ilustrasi-karhutla-kebakaran-hutan-dan-lahan.jpg)
Ratusan ribu titik panas terpantau membakar kawasan hutan, semak belukar, dan lahan gambut kering di wilayah Sumatra serta Kalimantan. Kementerian Kehutanan Indonesia mencatat 4.169 dari total 5.983 titik panas di Sumatra terpusat di Provinsi Sumatra Selatan.
Pencemaran udara berbahaya ini menyebar hingga ribuan kilometer ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Indeks Kualitas Udara (AQI) di Kota Palembang bertahan pada rentang 150 hingga 275 yang tergolong kategori tidak sehat sampai sangat tidak sehat.
Kelumpuhan aktivitas warga berdampak langsung pada sektor usaha mikro, seperti pedagang pakaian di pasar malam kawasan Jembatan Ampera. Oktarina Pertiwi (35) mengeluhkan penurunan omzet jualannya yang drastis akibat sepinya pengunjung.
“Pada Jumat malam dan akhir pekan, pasar ini biasanya sangat ramai hingga sulit untuk bergerak. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, suasananya sangat sepi,” kata Oktarina.
“Sejak adanya kabut asap, kami beruntung jika bisa mendapatkan 1 juta rupiah, atau mungkin 1,5 juta rupiah,” ujar Oktarina, yang biasanya mengantongi omzet hingga 4 juta rupiah per malam.
Penurunan omzet juga dialami pedagang minuman keliling di Jakabaring Sports Complex, Derian Winata (32), yang kehilangan separuh pendapatannya. Berkurangnya masyarakat yang berolahraga di luar ruangan membuat penjualan minuman merosot tajam.
“Beberapa minggu ini merupakan minggu yang berat bagi saya,” kata Derian.
“Masyarakat masih takut,” ujar Derian yang mengamati warga masih takut beraktivitas akibat tingginya tingkat polusi udara.
“Saya berharap hal itu segera terjadi,” kata Derian yang berharap hujan segera turun untuk membersihkan polusi udara Palembang.
Lebih dari 110.000 warga Indonesia mendapatkan perawatan medis akibat penyakit pernapasan yang dipicu paparan asap kebakaran hutan. Istri Kholidi, Emi, bahkan harus dilarikan ke klinik sebanyak dua kali untuk mendapatkan bantuan oksigen medis.
“Kabut asap terkadang menjadi sangat buruk hingga merembes melalui pintu dan jendela rumah kami,” kata Kholidi.
“Bahkan ketika langit tampak cerah, saya masih bisa merasakan kabut menyengat mata dan menggaruk tenggorokan saya,” ujar Kholidi menceritakan pekatnya racun udara.
Sektor pendidikan ikut terdampak parah hingga memaksa proses belajar mengajar dialihkan penuh secara daring dari rumah. Reuters mencatat lebih dari 1,4 juta siswa di enam provinsi terdampak terpaksa belajar jarak jauh demi menghindari paparan asap.
Krisis lingkungan ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi dan kesehatan nasional hingga 123 triliun rupiah berdasarkan perhitungan Center for Economic and Law Studies (Celios). Oktarina juga mengkhawatirkan kondisi keselamatan orang tuanya yang tinggal di area pelosok dekat titik kebakaran.
“Saya sangat mengkhawatirkan mereka. Kabut asap di sana jauh lebih parah dibandingkan di kota,” kata Oktarina.
“Tapi apa boleh buat? Saya juga harus bekerja supaya bisa mengirimkan uang untuk mereka,” ujar Oktarina.
Ancaman bencana asap diprediksi bertahan lebih lama akibat masuknya fenomena iklim "super-El Nino" yang memperpanjang masa kemarau. Musim penghujan diperkirakan baru akan masuk secara merata di sebagian besar wilayah Indonesia pada Desember.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperingatkan bahwa puncak krisis masih berpotensi terjadi mengingat curah hujan signifikan baru diprediksi turun awal Oktober. Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian nasib para pekerja informal yang menggantungkan hidup di jalanan.
Sebagai langkah penanganan emergency, Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan rumah sakit daerah dan puskesmas untuk menyediakan layanan oksigen serta pengobatan gratis. Posko kesehatan bergerak juga dibangun untuk menjangkau korban di wilayah terpencil yang minim stasiun pemantau kualitas udara.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terjadi hampir setiap musim kemarau akibat praktik pembukaan lahan pertanian serta perkebunan. Lahan gambut yang mengering memperparah situasi karena api mudah menyebar di bawah permukaan tanah dan membara selama berminggu-minggu.