Daftar 3 Media Gugat Donald Trump karena Dilarang Liputan di Gedung Putih

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 22 September 2026 | 07:46 WIB
Daftar 3 Media Gugat Donald Trump karena Dilarang Liputan di Gedung Putih
Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]
baca 10 detik
  • Tiga media AS menggugat Donald Trump atas pencabutan akreditasi peliputan Gedung Putih.

  • Trump melarang CNN, MSNOW, dan Politico karena dituduh konsisten menyebarkan berita palsu.

  • Langkah hukum diambil untuk membela kebebasan pers sesuai hak Amendemen Pertama UUD AS.

Suara.com - Aksi pencabutan akreditasi wartawan secara sepihak oleh Presiden Donald Trump resmi berujung pada perlawanan hukum terbuka dari tiga raksasa media Amerika Serikat. CNN, MSNOW, dan Politico mengambil langkah bersama untuk menyeret pihak eksekutif ke meja hijau guna memulihkan hak peliputan mereka.

Langkah hukum konsorsium media ini menjadi benteng pertahanan krusial dalam melawan preseden buruk intervensi kekuasaan terhadap ruang kerja jurnalistik. Keputusan mendadak tanpa mekanisme formal tersebut mengancam pilar transparansi di lingkungan istana kepresidenan.

Perselisihan ini tidak lagi sekadar konflik internal antara pejabat dan wartawan, melainkan pertaruhan serius bagi masa depan independensi media global. Ketegangan memuncak setelah tuduhan berulang dari pihak Gedung Putih berlanjut pada pemblokiran fisik pers.

Presiden AS, Donald Trump. [IG/realdonaldtrump]
Presiden AS, Donald Trump. [IG/realdonaldtrump]

"Pagi ini, kami memberitahukan kepada pemerintah bahwa kami akan melayangkan tuntutan untuk mempertahankan hak kami sesuai Amendemen Pertama serta membela prinsip bahwa pemerintah tidak berhak mengatur apa yang dilaporkan atau disiarkan pers," kata ketiga media tersebut melalui pernyataan bersama, Senin.

Pihak penggugat menegaskan bahwa tindakan pemblokiran izin liputan jurnalis mereka terjadi tanpa peringatan atau proses apapun karena Gedung Putih tidak menyukai pemberitaan mereka.

Upaya pengekangan terhadap akses wartawan dinilai membawa dampak sistemik yang sangat berbahaya bagi sistem demokrasi secara keseluruhan. Tanpa perlawanan hukum yang tegas, kontrol pemerintah terhadap arus informasi publik akan semakin tidak terkendali.

"Apabila tidak dilawan, hal ini akan semakin mengancam kebebasan pers dan hak masyarakat atas jurnalisme merdeka yang bebas dari intervensi pemerintah," demikian pernyataan bersama mereka.

Gelombang pemblokiran ini bermula pada Jumat (18/9), ketika Presiden Trump secara terbuka mengumumkan penghentian izin akses peliputan bagi jurnalis CNN, MSNOW, dan Politico. Kebijakan radikal ini diambil dengan dalih bahwa ketiga institusi media tersebut terus membuat berita palsu.

"Saya dengan bangga mengumumkan bahwa dengan serta-merta, saya melarang si pembuat berita palsu CNN, MSNOW ... dan Politico ... dari Gedung Putih karena BERITA PALSU yang mereka 'laporkan' terus menerus," kata Trump melalui Truth Social.

baca juga

Ancaman pembatasan akses liputan ini bahkan berpotensi diperluas ke berbagai lembaga pemberitaan lainnya yang dinilai tidak sejalan. Pihak istana mengindikasikan bahwa tindakan tegas serupa siap dijatuhkan kepada media yang kritikal.

Presiden Trump memberi isyarat kuat bahwa daftar hitam jurnalis yang dilarang meliput di Gedung Putih masih sangat mungkin bertambah. Penilaian subjektif terhadap rekam jejak pemberitaan masa lalu menjadi tolok ukur utama pemberian sanksi.

"Mungkin masih ada media lain yang akan seperti mereka ... semuanya terjadi karena berbagai pemberitaan mereka selama beberapa tahun rectangular. Sangat memuakkan," kata dia.

Pemerintah menuding institusi pers yang terdampak sengaja menggunakan narasi berita untuk menyudutkan kelompok politik tertentu secara konsisten. Trump juga menyebut bahwa ketiga media tersebut terus berupaya menjelek-jelekkan Partai Republik.

Hubungan antara Donald Trump dan media-media nasional AS memang sudah lama diwarnai ketegangan sejak periode awal kepemimpinannya. Trump berulang kali melontarkan retorika keras terhadap jurnalis yang mempublikasikan laporan kritis mengenai kebijakan maupun personalnya.

Pencabutan akreditasi pers di Gedung Putih ini menjadi puncak dari perselisihan panjang mengenai hak akses informasi publik. Gugatan yang dilayangkan kini memfokuskan perdebatan pada perlindungan Amendemen Pertama Konstitusi AS terkait kebebasan berbicara dan pers.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

AS Mendadak Hentikan Serangan ke Iran, Harga Minyak Langsung Turun?

AS Mendadak Hentikan Serangan ke Iran, Harga Minyak Langsung Turun?

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 14:28 WIB

Siap-siap Amerika Boncos! Iran Mau Luncurkan Rudal Lagi Kalau Ini Terjadi

Siap-siap Amerika Boncos! Iran Mau Luncurkan Rudal Lagi Kalau Ini Terjadi

News | Senin, 21 September 2026 | 13:49 WIB

Perang Dunia III Nyaris Meledak! AS Mau Serang Kapal China Ternyata AI-nya Salah

Perang Dunia III Nyaris Meledak! AS Mau Serang Kapal China Ternyata AI-nya Salah

News | Senin, 21 September 2026 | 12:06 WIB

Terkini

Wildspeak: Ketika Alam Mengajarkan Anak Menciptakan Bahasa Sendiri

Wildspeak: Ketika Alam Mengajarkan Anak Menciptakan Bahasa Sendiri

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 07:45 WIB

Regulasi IHSG Baru dan Sentimen Suku Bunga BI: Analis Rekomendasikan Saham-saham Ini

Regulasi IHSG Baru dan Sentimen Suku Bunga BI: Analis Rekomendasikan Saham-saham Ini

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 07:39 WIB

Den Baguse Ngarso Punya Kebiasaan Kaul Prihatin Tidur di Teras, Sempat Dipijat Sebelum Meninggal

Den Baguse Ngarso Punya Kebiasaan Kaul Prihatin Tidur di Teras, Sempat Dipijat Sebelum Meninggal

Jogja | Selasa, 22 September 2026 | 07:38 WIB

K-Pop Makin Dekat dengan Teknologi Smartphone, Oppo Andalkan Kamera 50MP dan AI di Reno16

K-Pop Makin Dekat dengan Teknologi Smartphone, Oppo Andalkan Kamera 50MP dan AI di Reno16

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 07:35 WIB

KBRI Singapura Telusuri Dugaan WNI Jadi Korban Tabrakan Kapal di Selat Singapura

KBRI Singapura Telusuri Dugaan WNI Jadi Korban Tabrakan Kapal di Selat Singapura

News | Selasa, 22 September 2026 | 07:35 WIB

Viral Video Houthi Bangun Replika Ka'bah di Yaman: Warga Disuruh Tawaf hingga Salat

Viral Video Houthi Bangun Replika Ka'bah di Yaman: Warga Disuruh Tawaf hingga Salat

News | Selasa, 22 September 2026 | 07:28 WIB

Pecahkan Rekor! The Early Spring Jadi Drama China Tersukses di Netflix

Pecahkan Rekor! The Early Spring Jadi Drama China Tersukses di Netflix

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 07:25 WIB

5 Cara Memilih Bedak Tabur yang Tahan Lama untuk Penggunaan Sehari-hari

5 Cara Memilih Bedak Tabur yang Tahan Lama untuk Penggunaan Sehari-hari

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 07:25 WIB

Kapal Kargo Panama Tabrak Kapal Nelayan China di Selat Singapura

Kapal Kargo Panama Tabrak Kapal Nelayan China di Selat Singapura

News | Selasa, 22 September 2026 | 07:19 WIB

Tangis Ibrahim al-Madani Saat Pertama Azan di Masjidil Haram, Sang Muazin Tutup Usia di 51 Tahun

Tangis Ibrahim al-Madani Saat Pertama Azan di Masjidil Haram, Sang Muazin Tutup Usia di 51 Tahun

News | Selasa, 22 September 2026 | 07:14 WIB

×