-
Iran mengancam akan menghancurkan seluruh pangkalan militer AS jika serangan baru terjadi.
-
Negara Timur Tengah yang membantu agresi AS juga akan menjadi target pembalasan Iran.
-
Konflik memanas kembali setelah kesepakatan damai dan sanksi ekonomi AS gagal meredakan ketegangan.
Suara.com - Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran Khatam Al-Anbiya menegaskan siap meratakan seluruh basis militer serta aset strategis Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah tanpa kompromi. Langkah tegas ini menjadi sinyal bahaya bagi Washington bahwa setiap tindakan konfrontatif lanjutan akan dibalas dengan serangan mematikan secara terus-menerus.
Keterlibatan negara-negara tetangga yang memfasilitasi operasi militer AS dipastikan bakal menerima konsekuensi aksi pembalasan serupa dari militer Tehran. Strategi penangkalan ini sengaja diambil guna memutus dukungan logistik maupun ruang gerak paman Sam di wilayah sekitar.
Laporan intelijen Iran membocorkan adanya agenda pertemuan rahasia antara pihak AS dan sejumlah negara Timur Tengah di Eropa guna merancang agresi baru. Rencana konspirasi militer tersebut menjadi pemicu utama escalasi ketegangan yang kian memuncak di kawasan saat ini.

Peringatan keras tersebut disampaikan secara terbuka melalui saluran televisi nasional IRIB guna menegaskan posisi pertahanan Tehran.
"Jika AS membuat kesalahan lagi terhadap Iran, maka semua pangkalan dan kepentingan negara tersebut di kawasan ini akan menjadi sasaran serangan yang terus-menerus dan menyakitkan tanpa batasan atau keraguan sedikit pun," kata badan tersebut dalam pernyataannya, dikutip Senin (21/9/2026).
Pemerintah Iran memastikan tidak akan membedakan target serangan jika ada negara di kawasan Timur Tengah yang nekat memberikan bantuan operasional bagi militer AS.
Gertakan ini bertujuan menekan skema koalisi internasional yang sedang dibentuk Washington untuk memojokkan posisi geopolitik Tehran.
Eskalasi pertempuran terbuka antara kedua pihak sebenarnya telah pecah sejak 28 Februari lalu pascaserangan mendadak gabungan AS dan Israel.
Iran langsung merespons gempuran awal tersebut dengan meluncurkan roket serta rudal ke berbagai titik vital milik AS dan sekutunya.
Upaya gencatan senjata sempat tercapai pada pertengahan Juni melalui penandatanganan kesepakatan bersama untuk menghentikan perselisihan.
Kesepakatan damai yang terjalin sejatinya sangat rapuh hingga memicu pecahnya bentrokan susulan dalam waktu yang relatif singkat.
Aksi saling serang secara sporadis terus berulang di lapangan akibat ketiadaan niat baik untuk menyelesaikannya secara permanen.
Alih-alih menyurutkan konflik, pihak Amerika Serikat justru memperketat sanksi finansial demi menghancurkan ketahanan ekonomi Iran.
Strategi tekanan ekonomi tersebut diterapkan Washington sebagai jalan pintas untuk memaksa Tehran berlutut di meja perundingan.
Perselisihan panjang ini bermula dari akumulasi konflik geopolitik serta gempuran militer bersama AS dan Israel sejak awal tahun.