Ekonomi Gelap Menggurita di Indonesia, Sektor Legal dan Pajak Terancam Makin Tertekan

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 25 September 2026 | 21:16 WIB
Ekonomi Gelap Menggurita di Indonesia, Sektor Legal dan Pajak Terancam Makin Tertekan
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri. [Suara.com/Hiskia]
baca 10 detik
  • Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan ukuran *shadow economy* Indonesia mencapai 23,8 persen dari GDP pada 25 September 2026.
  • Aktivitas ekonomi ilegal yang masif dan terbebas dari pajak menyebabkan industri legal serta penerimaan negara tergerus drastis.
  • Direktur Eksekutif CSIS, Yose Rizal Damuri, mengungkapkan regulasi bisnis yang kaku turut memicu pelaku usaha memilih jalur informal.

Suara.com - Praktik ekonomi gelap atau shadow economy di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai taraf yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan industri nasional. Fenomena ini tidak hanya menggerus industri legal yang taat aturan, tetapi juga mengikis basis penerimaan pajak negara secara drastis dari tahun ke tahun.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menuturkan laporan global terbaru dari Ernst & Young (EY) menunjukkan ukuran shadow economy Indonesia sudah mencapai 23,8 persen dari GDP. Angka tersebut tergolong tinggi dibandingkan rata-rata dunia yang hanya berada di kisaran 11,8 persen.

"Rata-rata dunia itu 11,8 persen. Jadi, 23,8 persen itu di Indonesia. Nah, shadow economy menurut saya makin lama makin tinggi," kata Wija ditemui di FEB UGM, Jumat (25/9/2026).

Besarnya angka tersebut didorong oleh maraknya berbagai aktivitas ekonomi tidak resmi dan transaksi ilegal yang beredar luas di tengah masyarakat. Jenis kegiatan ini mencakup perdagangan produk ilegal, pinjaman online ilegal, judi online, hingga barang-barang selundupan.

Aktivitas ilegal tersebut dapat menjual barang dengan harga sangat murah karena terbebas dari kewajiban pajak. Situasi ini memicu persaingan yang tidak sehat dan memukul telak para pelaku usaha legal yang patuh pada aturan hukum.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. [Suara.com/Hiskia]
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. [Suara.com/Hiskia]

"Ini membuat ekonomi yang legal makin lama makin mengecil, yang ilegal ini tidak pernah membayar pajak, tapi kompetitif. Dampaknya apa? Ya, penerimaan pajak kita makin lama makin menyusut," ungkapnya.

Di sisi lain, kekhawatiran para ekonom makin besar seiring lahirnya aturan baru yang dinilai mempermudah upaya pencucian uang dari aktivitas ekonomi gelap.

Ketentuan dalam Pasal 50A Undang-Undang P2SK disinyalir memberi celah perlindungan hukum yang sangat kuat bagi para pemilik modal ilegal untuk mengonversi uang hasil kejahatannya menjadi aset legal melalui Obligasi Patriot Merah Putih.

Kondisi tersebut diperparah oleh buruknya penegakan hukum, rumitnya birokrasi, serta keterlibatan oknum berkuasa yang turut membentengi praktik ekonomi haram tersebut.

baca juga

Sektor industri seperti rokok bahkan mencatatkan sirkulasi produk ilegal yang sudah menyentuh angka 14 persen.

"Ekonomi ilegal, shadow economy, ini membesar kenapa? Karena penegakan hukum yang buruk, karena juga regulasi yang rumit, karena ada pihak-pihak yang punya kuasa yang ikut kongkalikong melindungi ini," ujarnya.

"Jadi, ini memang satu prioritas. Kalau kita ingin membangun industri yang benar, di-industrialisasi tidak berlanjut, maka shadow economy harus diakhiri," imbuhnya.

Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menambahkan, persoalan shadow economy ternyata tidak semata-mata diisi oleh tindakan kriminal berencana, melainkan bisa dipicu oleh iklim bisnis domestik yang sangat kaku.

Regulasi yang kaku serta tingginya beban pajak dan UMP memaksa banyak pelaku usaha memilih jalur informal untuk bertahan hidup.

"Sebagian dari shadow economy itu sendiri mungkin bukan benar-benar kriminal, mungkin bukan benar-benar sesuatu yang diarahkan, tetapi karena memang terjadi karena business climate kita, iklim bisnis kita sangat restriktif sekali sehingga membuat berbagai pelaku-pelaku ekonomi itu memilih untuk menjadi shadow economy," tandas Yose.

Kondisi ini makin diperparah oleh tingginya dorongan kebutuhan masyarakat yang kesulitan mendapat lapangan kerja serta akses finansial resmi.

Keterbatasan tersebut akhirnya memaksa warga memanfaatkan jasa keuangan ilegal meski disadari akan menimbulkan kerugian di kemudian hari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Meski Obligasi BLBI Lunas, Suahasil Akui Pemerintah Akan Terus Tarik Utang Baru

Meski Obligasi BLBI Lunas, Suahasil Akui Pemerintah Akan Terus Tarik Utang Baru

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 16:31 WIB

Suahasil Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Lebihi 5,5% di Q3-Q4 2026

Suahasil Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Lebihi 5,5% di Q3-Q4 2026

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 16:17 WIB

Aliansi Ekonom Soroti Kebijakan Pemerintah: Seperti Nobita, Ingin Serba Cepat

Aliansi Ekonom Soroti Kebijakan Pemerintah: Seperti Nobita, Ingin Serba Cepat

News | Jum'at, 25 September 2026 | 14:47 WIB

Indonesia Dinilai Salah Arah, Data Statistik Dibuat Terlalu Indah dan Tak Sesuai Realita

Indonesia Dinilai Salah Arah, Data Statistik Dibuat Terlalu Indah dan Tak Sesuai Realita

News | Jum'at, 25 September 2026 | 13:25 WIB

Listrik KEK Sei Mangkei Tembus 74 MW, Energi Hijau Baru Penuhi 10 Persen

Listrik KEK Sei Mangkei Tembus 74 MW, Energi Hijau Baru Penuhi 10 Persen

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 11:22 WIB

Iran Patok Syarat Tinggi untuk Buka Kembali Negosiasi dengan Amerika Serikat, Apa Saja?

Iran Patok Syarat Tinggi untuk Buka Kembali Negosiasi dengan Amerika Serikat, Apa Saja?

News | Kamis, 24 September 2026 | 11:05 WIB

Kondisi Global Masih Suram, Bos BI Yakin Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,95,7 Persen

Kondisi Global Masih Suram, Bos BI Yakin Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,95,7 Persen

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 08:41 WIB

Perkuat Inklusi Keuangan, bank bjb Raih Anugerah Inovasi Pengembangan Ekonomi dan UMKM

Perkuat Inklusi Keuangan, bank bjb Raih Anugerah Inovasi Pengembangan Ekonomi dan UMKM

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 19:28 WIB

Bangun Ekonomi Tak Cukup Infrastruktur, Kualitas SDM Jadi Penentu

Bangun Ekonomi Tak Cukup Infrastruktur, Kualitas SDM Jadi Penentu

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 19:08 WIB

Fokus Jaga Rupiah, BI Tahan Bunga Acuan 5,75

Fokus Jaga Rupiah, BI Tahan Bunga Acuan 5,75

Foto | Rabu, 23 September 2026 | 17:28 WIB

Terkini

Terancam Sanksi Disiplin Berat, Oknum Pejabat Satpol PP Kabupaten Tangerang Dilaporkan ke Polisi

Terancam Sanksi Disiplin Berat, Oknum Pejabat Satpol PP Kabupaten Tangerang Dilaporkan ke Polisi

Banten | Jum'at, 25 September 2026 | 21:13 WIB

Dari BRGM ke BPGMN, Bisakah Badan Baru Prabowo Cegah Karhutla Berulang?

Dari BRGM ke BPGMN, Bisakah Badan Baru Prabowo Cegah Karhutla Berulang?

News | Jum'at, 25 September 2026 | 21:02 WIB

Bappisus dan Menimipas Usut Dugaan 'Kamar Khusus' Berbayar bagi Napi di Lapas Cibinong

Bappisus dan Menimipas Usut Dugaan 'Kamar Khusus' Berbayar bagi Napi di Lapas Cibinong

Jabar | Jum'at, 25 September 2026 | 20:58 WIB

Transaksi Haji Isam dan BYAN Masih Gelap, BEI Akan Obok-obok Pasar Negosiasi

Transaksi Haji Isam dan BYAN Masih Gelap, BEI Akan Obok-obok Pasar Negosiasi

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 20:56 WIB

Luke Vickery: 2024 Main di GBT Bela Australia, 2026 Cetak Assist di GBK Bersama Timnas Indonesia

Luke Vickery: 2024 Main di GBT Bela Australia, 2026 Cetak Assist di GBK Bersama Timnas Indonesia

Bola | Jum'at, 25 September 2026 | 20:54 WIB

Perkuat Tata Kelola MBG, BGN Gelar Pelatihan di Jepang

Perkuat Tata Kelola MBG, BGN Gelar Pelatihan di Jepang

News | Jum'at, 25 September 2026 | 20:38 WIB

Berawal dari Topi Mengapung, Pemancing yang Hilang di Eks Galian Pasir Lampung Timur Ditemukan Tewas

Berawal dari Topi Mengapung, Pemancing yang Hilang di Eks Galian Pasir Lampung Timur Ditemukan Tewas

Lampung | Jum'at, 25 September 2026 | 20:37 WIB

PLN Perkuat Infrastruktur Kelistrikan untuk Dukung Pertumbuhan Data Center di Indonesia

PLN Perkuat Infrastruktur Kelistrikan untuk Dukung Pertumbuhan Data Center di Indonesia

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 20:34 WIB

Gara-Gara Tak Pakai Baju Lurik, Kepsek SMPN 18 Malang Diduga Tampar Siswa 4 Kali dan Ditonjok

Gara-Gara Tak Pakai Baju Lurik, Kepsek SMPN 18 Malang Diduga Tampar Siswa 4 Kali dan Ditonjok

Malang | Jum'at, 25 September 2026 | 20:30 WIB

Pesta Kembang Api dan Aksi Agnes Mo Buka FIFA ASEAN Cup 2026, Stadion GBK Tidak Penuh

Pesta Kembang Api dan Aksi Agnes Mo Buka FIFA ASEAN Cup 2026, Stadion GBK Tidak Penuh

Bola | Jum'at, 25 September 2026 | 20:17 WIB

×