- Widadi memimpin tim cuci kereta KAI Daop 6 Yogyakarta sejak 2021 untuk merawat kenyamanan penumpang.
- Sebanyak 145 personel terlatih membersihkan interior dan eksterior gerbong kereta setiap hari menggunakan standar khusus.
- Tim kebersihan memastikan setiap rangkaian kereta bebas dari sampah dan bau tidak sedap sebelum diberangkatkan kembali.
Suara.com - Ketika suara mesin kereta mulai meredup dan langkah kaki para penumpang perlahan meninggalkan peron Stasiun Yogyakarta, sebuah perjalanan panjang sejatinya belum benar-benar usai.
Di balik kaca-kaca jendela yang berdebu, sampah yang tertinggal di sela-sela kursi, dan gerbong yang menyimpan ribuan cerita perjalanan, ada sosok-sosok tangguh yang bekerja dalam senyap untuk menjaga kebersihan kereta.
Datang Saat Kereta Berhenti
Salah satunya adalah Widadi. Bagi pria berusia 37 tahun ini, memastikan setiap gerbong kembali bersih dan wangi bukan sekadar urusan menuntaskan tugas dinas. Ada semangat untuk merawat kenyamanan jutaan penumpang Kereta Api Indonesia (KAI).
Sudah sekitar lima tahun ia menjalani pekerjaan sebagai Team Leader Cuci Kereta di KAI Daop 6 Yogyakarta. Widadi bergabung sejak 2021, ketika pandemi Covid-19.
"Jadi cuci kereta itu kita membersihkan area seluruh kereta dari interior. Interior tuh meliputi area atas, area tengah, dan area bawah. Kemudian kalau setelah interior selesai nanti di eksterior kita cuci dari atap sampai ke bawah, termasuk juga ke pengisian airnya," kata Widadi saat ditemui Suara.com, Senin (28/9/2026).

Ayah dua anak yang masing-masing duduk di kelas 3 SD dan TK ini memahami betul bahwa kenyamanan penumpang berawal dari ketelitian jemari timnya.
Di tengah rutinitas perkeretaapian yang bergerak dinamis, pekerjaan membersihkan "si ular besi" membutuhkan ritme kerja yang disiplin dan terbagi sepanjang hari.
"Seluruh pekerjaan kita lakukan setiap hari. Setiap kereta datang dan mau berangkat," ujarnya.
Di Stabling Jogja, lokasi pembersihan kereta, pekerjaan dibagi dalam tiga sif. Sif pertama dimulai sejak pukul 02.00 WIB hingga pertengahan hari, sekitar pukul 11.30 WIB.
Sementara itu, Widadi memimpin tim kedua yang memulai briefing pada pukul 13.30 WIB dan bertugas hingga malam hari. Pada hari-hari sibuk di awal pekan, pekerjaan bahkan kerap berlanjut hingga pukul 22.00 WIB.
Adapun sif ketiga dialokasikan khusus untuk pembersihan rangkaian armada komuter KCI dari malam hingga dini hari.
Tingkat kedalaman pembersihan kereta dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu cuci ringan dan cuci penuh. Pada cuci ringan, seperti pada rangkaian KA Senja Utama, pengerjaan difokuskan pada interior dan penyekaan eksterior ringan. Proses ini berlangsung kurang dari dua jam dan dikerjakan oleh tim yang terdiri dari 12 orang.
Sebaliknya, pembersihan secara menyeluruh atau cuci full diterapkan pada armada eksekutif seperti KA Taksaka dan Sancaka. Pada proses ini, bagian dinding eksterior hingga atap wajib dicuci secara menyeluruh dengan alokasi waktu stabling lebih dari dua jam.
Keselamatan kerja di lapangan tetap menjadi prioritas. Pekerjaan ini memiliki tantangan tersendiri ketika tim harus memanjat bagian atas kereta untuk pengisian air, terutama saat hujan deras yang membuat permukaan gerbong menjadi licin.
"Itu harus pakai body harness, full body harness dan sepatunya harus yang benar-benar enggak licin. Takutnya kalau itu licin bisa terjatuh," ucapnya.
Tak Hanya Memungut Sampah
Di mata penumpang, kereta yang bersih mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sederhana. Namun, proses untuk membuatnya kembali bersih setelah digunakan banyak orang menyimpan pekerjaan yang tidak selalu ringan.
Setiap perjalanan meninggalkan berbagai macam sisa aktivitas penumpang. Sampah makanan dan minuman merupakan hal yang biasa ditemukan, terutama setelah kereta digunakan rombongan dalam perjalanan panjang.
Dalam beberapa kondisi, tim juga harus menghadapi kotoran yang membutuhkan penanganan khusus. Widadi bercerita pernah menemukan muntahan penumpang di kantong bagian belakang tempat duduk.
"Muntahnya di dalam kantong (kursi) itu, tidak diplastik, dengan bentuk yang sangat, ya begitulah enggak usah dibayangkan. Itu harus dibersihkan dengan tisu, sampai kering, diberi pewangi agar tidak bau. Ya cukup memakan waktu," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kereta harus kembali bersih, apa pun kondisi yang ditinggalkan penumpang setelah perjalanan.
Pekerjaan tidak berhenti setelah seluruh bagian kereta selesai dicuci. Tim melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan tidak ada bagian yang masih kotor atau terlewat. Bahkan, proses pengecekan dapat dilakukan berkali-kali.
"Bahkan sampai ke peron pun kita masih istilahnya masih finishing di sana, untuk benar-benar memastikan kereta itu benar-benar dipersembahkan yang terbaik untuk pelanggan," tandasnya.

Ada Kebanggaan dari Pekerjaan yang Tak Terlihat
Selama menjalani pekerjaannya, pengalaman yang paling membekas bagi Widadi justru datang dari sebuah barang penumpang yang tertinggal.
Barang tersebut ditemukan ketika tim membersihkan kereta. Alamat yang tertera di dalamnya kemudian dapat digunakan untuk menemukan pemilik barang.
Alih-alih berhenti pada proses pengamanan, Widadi dan tim berusaha menyerahkannya kepada orang yang bersangkutan. Ketika barang diperiksa dan isinya masih lengkap, ucapan terima kasih dari penumpang menjadi bentuk penghargaan sederhana yang membekas.
Bagi Widadi, momen tersebut menghadirkan kebanggaan tersendiri. Pekerjaannya yang sering luput dari perhatian ternyata dapat bersentuhan langsung dengan pengalaman penumpang.
"Ya itu suatu apa ya, kebanggaan untuk kita sendiri, begitu," ucapnya.
Meski berlatar belakang pendidikan teknis mekanik otomotif, Widadi menikmati setiap detik rutinitas kerjanya. Dari rumahnya di Temon, Kulon Progo, ia bertolak menuju Depo Jogja menggunakan armada kereta api seperti Lodaya atau Kereta Bandara.
Selain itu, keharmonisan lingkungan kerja turut menjadi alasan kuat yang membuat Widadi bertahan dan kerasan menjalankan tugasnya.
Lebih dari itu, etos kerja yang selalu ditanamkan Widadi kepada anggota timnya adalah memupuk rasa memiliki dan integritas terhadap kebersihan.
Prinsip yang dipegang teguh seluruh petugas bukan sekadar membersihkan dalam sekali usap, melainkan melakukan pemeriksaan berulang hingga gerbong dirapatkan ke peron pemberangkatan.
"Jadi setiap manpower kita itu harus punya yang namanya itu jiwa yang pembersih, biar bisa menampilkan, bisa mempersembahkan yang terbaik untuk pelanggan," tandasnya.

Menjaga Standar Bersih Kereta
Pekerjaan yang dilakukan Widadi dan timnya merupakan bagian dari sistem kebersihan kereta di KAI Daop 6 Yogyakarta.
Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, mengatakan jumlah personel yang menangani pekerjaan cuci kereta di wilayah Daop 6 Yogyakarta mencapai 145 orang.
"KAI menerapkan standar bersih yaitu bebas dari debu, bercak, noda, bau tidak sedap dan sampah," kata Feni.
Standar tersebut kemudian dituangkan dalam nilai SLA (Service Level Agreement) sebagai acuan dalam memastikan kualitas kebersihan kereta.
Untuk memenuhinya, proses pencucian dilakukan dengan metode kerja yang efektif dan efisien, termasuk penggunaan air secara efisien sesuai kebutuhan.
KAI turut memastikan pekerjaan tersebut ditangani tenaga yang terampil dan terlatih. Personel setidaknya memiliki sertifikat basic cleaning serta dibekali peralatan kerja, bahan pembersih, sistem pengawasan, dan standar kerja yang diperlukan.
Seluruh perlengkapan tersebut harus berada dalam kondisi layak pakai dan tersedia dalam jumlah yang memadai. Para pekerja juga dituntut menguasai penggunaan peralatan, bahan pembersih, metode kerja, serta memahami ruang lingkup pekerjaan cuci kereta.
Standar tersebut menunjukkan bahwa kebersihan kereta bukan pekerjaan yang berhenti pada aktivitas menyapu, mengelap, atau mencuci bagian luar rangkaian.
Di balik kereta yang kembali bersih sebelum berangkat, terdapat tenaga kerja, metode, peralatan, pengawasan, dan ketelitian yang berjalan bersamaan.
Pada akhirnya, tim cuci kereta bekerja di ruang yang jarang menjadi perhatian penumpang. Mereka datang ketika kereta berhenti, bergerak ketika penumpang pergi, lalu memastikan rangkaian kembali siap digunakan.
Pekerjaan mereka mungkin tidak selalu terlihat selama perjalanan. Namun, ketika penumpang memasuki kereta yang bersih, bebas sampah, tidak berbau, dan nyaman, di situlah hasil kerja 145 personel kebersihan di Daop 6 menemukan maknanya.