APBD Stunting Terus Digunting, Dicky Budiman Soroti Layanan Gizi Ibu dan Anak yang Tergerus

Vania Rossa, Lilis Varwati

Selasa, 29 September 2026 | 11:27 WIB
APBD Stunting Terus Digunting, Dicky Budiman Soroti Layanan Gizi Ibu dan Anak yang Tergerus
Ilustrasi stuning. (Freepik)
baca 10 detik
  • Dicky Budiman mengkritik pemotongan anggaran intervensi gizi daerah karena dikhawatirkan mengancam masa depan anak Indonesia.
  • Alokasi APBD pencegahan stunting terus menurun secara drastis dari Rp28,4 triliun pada 2024 menjadi Rp20,2 triliun pada 2026.
  • Pemangkasan layanan kesehatan ibu dan anak tersebut dapat memicu dampak buruk jangka panjang pada balita di Indonesia.

Suara.com - Kebijakan pemerintah daerah yang terus memangkas alokasi anggaran intervensi gizi dan stunting dinilai sebagai langkah berbahaya yang mengancam masa depan anak-anak Indonesia. 

Peneliti sekaligus Dosen Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI, Dicky Budiman, memberikan kritik pedas atas tren penanganan stunting yang terkesan makin lepas tangan dan tanpa arah empiris.

Dicky menilai penanganan stunting nasional saat ini justru pemerintah seperti bekerja tanpa arah yang jelas. Klaim angka prevalensi stunting 18,8 persen dinilai bukanlah prestasi capaian riil, melainkan baru sebatas target di atas kertas.

"Prevalensi stunting nasional memang turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen di 2024. Tapi setelah itu kita bekerja tanpa cermin. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tidak dilaksanakan pada 2025, dan hingga kini belum ada angka nasional hasil pengukuran terbaru. Angka 18,8 persen yang beredar itu target, bukan capaian," kata Dicky dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).

Peringatan Dicky ini sejalan dengan potret buram kondisi fiskal di daerah. Laporan Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri (2026) mengungkapkan bahwa alokasi anggaran intervensi gizi pencegahan stunting di APBD terus terjun bebas.

Setelah sempat menyentuh angka Rp28,4 triliun pada 2024, alokasi tersebut meluncur turun ke Rp26,3 triliun pada 2025, hingga akhirnya tersisa hanya Rp20,2 triliun pada 2026. Tak cuma itu, realisasi serapan anggaran di daerah pun tak pernah menyentuh angka 100 persen lantaran masalah kelembagaan dan efisiensi perencanaan yang buruk.

Menanggapi fenomena pemangkasan layanan akibat penurunan anggaran in, mulai dari pemeriksaan kehamilan, penyediaan alat ukur antropometri pertumbuhan, hingga konseling gizi, Dicky mengingatkan adanya bahaya latin yang tidak bisa dilihat secara instan.

Sebab, stunting merupakan dampak akumulatif dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pemotongan anggaran dan pemangkasan fasilitas gizi yang dilakukan hari ini tidak akan langsung memicu anak pendek esok hari, melainkan menjadi "bom waktu" bertahun-tahun mendatang.

"Dampak pemotongan layanan baru akan terlihat bertahun-tahun kemudian, saat anak yang terdampak sudah terlambat untuk diselamatkan," tegas Dicky.

baca juga

Pemerintah sendiri telah menetapkan target ambisius penurunan prevalensi stunting menjadi 17,5 persen pada 2026 dan 14,2 persen pada 2029. 

Namun, Dicky menegaskan target manis tersebut hanya akan menjadi omong kosong jika layanan dasar ibu dan anak di tingkat tapak dibiarkan tergerus pemotongan anggaran.

Ia mendesak perlindungan anggaran layanan gizi difokuskan secara masif, khususnya di enam provinsi utama yang saat ini menanggung separuh dari total beban balita stunting di seluruh Indonesia. Enam provinsi itu di antaranya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timut, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Banten

Lebih lanjut, ia meminta pemerintah mengubah cara pandang dalam mengukur keberhasilan penanganan gizi buruk. Tolok ukur keberhasilan tidak boleh lagi diukur sekadar dari serapan anggaran atau formalitas administratif semata, melainkan dari cakupan layanan riil dan indikator kesehatan anak di lapangan.

"Ukuran keberhasilan perlu bergeser dari sekadar serapan anggaran ke cakupan layanan dan hasil pada anak, disertai data rutin yang dapat dipercaya di antara dua survei," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Potensi Stunting Kini Bisa Didiagnosis Lebih Awal lewat Teknologi

Potensi Stunting Kini Bisa Didiagnosis Lebih Awal lewat Teknologi

Tekno | Jum'at, 25 September 2026 | 07:50 WIB

Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Epidemiolog: Bukan Berarti Influenza A Melonjak

Kasus ISPA di Jakarta Naik 15,7 Persen, Epidemiolog: Bukan Berarti Influenza A Melonjak

News | Rabu, 23 September 2026 | 19:40 WIB

APBD Jakarta Menyusut Rp1,7 T! Anggaran Pendidikan dan Bansos Dipastikan Tetap Aman

APBD Jakarta Menyusut Rp1,7 T! Anggaran Pendidikan dan Bansos Dipastikan Tetap Aman

News | Selasa, 22 September 2026 | 14:39 WIB

Terkini

APBD Stunting Terus Digunting, Dicky Budiman Soroti Layanan Gizi Ibu dan Anak yang Tergerus

APBD Stunting Terus Digunting, Dicky Budiman Soroti Layanan Gizi Ibu dan Anak yang Tergerus

News | Selasa, 29 September 2026 | 11:27 WIB

Bertahan dengan 10 Pemain, John Herdman dan Maarten Paes Ungkap Kunci Indonesia Tahan Malaysia

Bertahan dengan 10 Pemain, John Herdman dan Maarten Paes Ungkap Kunci Indonesia Tahan Malaysia

Bola | Selasa, 29 September 2026 | 11:27 WIB

DPR Sahkan RUU APBN 2027 di Paripurna: Pertumbuhan Ekonomi 6%, Defisit 2,4% PDB

DPR Sahkan RUU APBN 2027 di Paripurna: Pertumbuhan Ekonomi 6%, Defisit 2,4% PDB

Bisnis | Selasa, 29 September 2026 | 11:25 WIB

Viva Acne Lotion Bisa Buat Bruntusan Tidak? Ini Manfaat dan Kandungannya

Viva Acne Lotion Bisa Buat Bruntusan Tidak? Ini Manfaat dan Kandungannya

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 11:25 WIB

Rakyat Dipuji Tangguh, Negara Lupa Membenahi yang Rapuh

Rakyat Dipuji Tangguh, Negara Lupa Membenahi yang Rapuh

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 11:25 WIB

Weton Apa Aja yang Bisa Kaya? Ini Daftarnya

Weton Apa Aja yang Bisa Kaya? Ini Daftarnya

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 11:25 WIB

TXT Umumkan Comeback November dengan Mini Album Baru, "PERFECT STORM"

TXT Umumkan Comeback November dengan Mini Album Baru, "PERFECT STORM"

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 11:25 WIB

Oseltamivir Obat Apa? Diburu saat Influenza A Merebak, Kemenkes Imbau Tak Panic Buying

Oseltamivir Obat Apa? Diburu saat Influenza A Merebak, Kemenkes Imbau Tak Panic Buying

Health | Selasa, 29 September 2026 | 11:24 WIB

Sinyal Kenaikan Harga BBM Pertamax Cs di Bulan Oktober 2026

Sinyal Kenaikan Harga BBM Pertamax Cs di Bulan Oktober 2026

Bisnis | Selasa, 29 September 2026 | 11:18 WIB

Cari Jam Tangan Wanita untuk Kerja dan Kuliah? 5 Model Alba Ini Wajib Masuk Wishlist

Cari Jam Tangan Wanita untuk Kerja dan Kuliah? 5 Model Alba Ini Wajib Masuk Wishlist

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 11:17 WIB

×