Apa Itu G30S PKI secara Singkat? Ini Sejarah Peristiwa Kelamnya

Ruth Meliana

Rabu, 30 September 2026 | 09:20 WIB
Apa Itu G30S PKI secara Singkat? Ini Sejarah Peristiwa Kelamnya
ilustrasi G30S/PKI
baca 10 detik
  • Sekelompok perwira Angkatan Darat dan PKI menculik serta membunuh enam jenderal di Jakarta pada Oktober 1965.
  • Mayor Jenderal Soeharto berhasil mengambil alih kendali dan menggagalkan gerakan tersebut pada sore hari 1 Oktober 1965.
  • Pemerintah Orde Baru membubarkan PKI dan terjadi perubahan besar dalam struktur politik Indonesia pasca peristiwa tersebut.

Suara.com - Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan sebutan G30S/PKI merupakan salah satu peristiwa paling kelam dan kontroversial dalam sejarah Indonesia modern.

Peristiwa ini terjadi pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, ketika sekelompok perwira Angkatan Darat bersama unsur-unsur Partai Komunis Indonesia (PKI) menculik dan membunuh enam jenderal tinggi Angkatan Darat serta seorang perwira lainnya.

Aksi tersebut digambarkan oleh pelakunya sebagai upaya untuk “mencegah kudeta” yang diduga akan dilakukan oleh Dewan Jenderal yang konon akan menyingkirkan Presiden Soekarno.

Latar belakang peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari ketegangan politik yang memuncak pada pertengahan 1960-an. Saat itu Indonesia berada dalam situasi yang sangat polarisasi.

Presiden Soekarno sedang mendorong politik Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme), sementara PKI sebagai partai terbesar ketiga di dunia setelah Partai Komunis Uni Soviet dan Tiongkok semakin menunjukkan pengaruhnya di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di kalangan buruh, tani, dan sebagian anggota militer.

Di sisi lain, Angkatan Darat yang dipimpin oleh para jenderal senior merasa terancam oleh dominasi PKI dan khawatir akan arah politik negara yang semakin condong ke kiri.

Pada malam 30 September 1965, sekelompok tentara yang menamakan diri Gerakan 30 September bergerak dari markas di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Mereka menculik Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Suprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal D.I. Pandjaitan, dan Brigadir Jenderal Sutoyo.

Selain itu, Letnan Jenderal A.H. Nasution berhasil meloloskan diri, namun ajudannya, Letnan Pierre Tendean, tertangkap dan ikut dibunuh. Para jenderal tersebut dibawa ke Lubang Buaya, disiksa, dibunuh, dan jenazahnya dibuang ke dalam sumur tua.

Pada pagi hari 1 Oktober 1965, radio dan televisi pemerintah yang telah dikuasai pelaku mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi yang diketuai oleh Letnan Kolonel Untung. Mereka menyatakan bahwa gerakan ini dilakukan untuk melindungi Presiden Soekarno dari ancaman kudeta Dewan Jenderal.

baca juga

Namun, dalam hitungan jam, Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad berhasil mengambil alih kendali. Ia mengerahkan pasukan untuk merebut kembali stasiun radio, televisi, dan markas-markas penting di Jakarta. Pada sore hari yang sama, Soeharto menyatakan bahwa gerakan tersebut telah digagalkan.

Pasca peristiwa tersebut, pemerintah Orde Baru yang kemudian dipimpin Soeharto secara resmi menyalahkan PKI sebagai dalang utama G30S. Tuduhan ini diperkuat dengan penemuan dokumen-dokumen, kesaksian para pelaku, serta pengakuan beberapa tokoh PKI.

Akibatnya, partai tersebut dibubarkan, dan terjadi pembantaian massal terhadap anggota serta simpatisan PKI di berbagai daerah di Indonesia. Jumlah korban pembantaian diperkirakan mencapai ratusan ribu orang.

Peristiwa G30S juga menjadi titik balik yang mengakhiri masa Demokrasi Terpimpin Soekarno dan membuka jalan bagi berdirinya Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun.

Hingga saat ini, interpretasi mengenai siapa dalang sesungguhnya dari G30S masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Ada yang meyakini bahwa PKI benar-benar menjadi otak gerakan tersebut, ada pula yang berpendapat bahwa keterlibatan PKI lebih terbatas dan terdapat campur tangan pihak-pihak lain, termasuk unsur militer sendiri.

Namun, yang pasti, G30S/PKI telah meninggalkan luka mendalam dalam sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa ini bukan hanya soal pembunuhan para jenderal, tetapi juga menjadi awal dari perubahan besar dalam struktur politik, ideologi, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Secara singkat, G30S/PKI adalah gerakan yang terjadi pada 30 September 1965 yang melibatkan penculikan dan pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Film G30S/PKI: Propaganda Orde Baru atau Fakta Sejarah?

Film G30S/PKI: Propaganda Orde Baru atau Fakta Sejarah?

Entertainment | Rabu, 30 September 2026 | 07:38 WIB

Pecinan Kota Malang dan Luka Panjang Etnis Tionghoa Pasca G30S

Pecinan Kota Malang dan Luka Panjang Etnis Tionghoa Pasca G30S

Your Say | Selasa, 19 Mei 2026 | 19:10 WIB

Potret Presiden Prabowo Pimpin Langsung Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2025

Potret Presiden Prabowo Pimpin Langsung Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2025

Foto | Rabu, 01 Oktober 2025 | 17:00 WIB

Terkini

Urutan Shio yang Paling Gampang Membuat Orang Lain Jatuh Cinta

Urutan Shio yang Paling Gampang Membuat Orang Lain Jatuh Cinta

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 09:19 WIB

IHSG Mulai Menghijau Pada Awal perdagangan, GOTO Masih Merah

IHSG Mulai Menghijau Pada Awal perdagangan, GOTO Masih Merah

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 09:16 WIB

Kemarau Diprediksi hingga Desember, Kulon Progo Perpanjang Siaga Kekeringan

Kemarau Diprediksi hingga Desember, Kulon Progo Perpanjang Siaga Kekeringan

Jogja | Rabu, 30 September 2026 | 09:11 WIB

Askrindo Siapkan Rp1 Triliun untuk Jamin Proyek Infrastruktur Kalsel

Askrindo Siapkan Rp1 Triliun untuk Jamin Proyek Infrastruktur Kalsel

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 09:10 WIB

Atasi Kekeringan 2026, Pemprov Jateng Gelontorkan 75 Juta Liter Air Bersih ke 33 Daerah

Atasi Kekeringan 2026, Pemprov Jateng Gelontorkan 75 Juta Liter Air Bersih ke 33 Daerah

Jawa Tengah | Rabu, 30 September 2026 | 09:02 WIB

Petani Bulukumba Optimistis Bisa Panen Padi 3 Kali Setahun

Petani Bulukumba Optimistis Bisa Panen Padi 3 Kali Setahun

Sulsel | Rabu, 30 September 2026 | 09:00 WIB

Wali Kota Pekanbaru Ingatkan Juru Parkir: Jangan Sampai Motor Minta Rp2 Ribu

Wali Kota Pekanbaru Ingatkan Juru Parkir: Jangan Sampai Motor Minta Rp2 Ribu

Riau | Rabu, 30 September 2026 | 08:59 WIB

KPK Dalami Dugaan Uang Hasil Setoran Imigrasi Mengalir ke Calon Promotor S3 Silmy Karim

KPK Dalami Dugaan Uang Hasil Setoran Imigrasi Mengalir ke Calon Promotor S3 Silmy Karim

News | Rabu, 30 September 2026 | 08:55 WIB

Dibuntuti dari Bank, Uang Rp 1,3 Miliar di Mobil WNA Dirampok di Cikampek

Dibuntuti dari Bank, Uang Rp 1,3 Miliar di Mobil WNA Dirampok di Cikampek

News | Rabu, 30 September 2026 | 08:50 WIB

BEI Resmi Cabut 4 Kriteria 'Menjebak' di Papan Pemantauan Khusus, Apa Saja?

BEI Resmi Cabut 4 Kriteria 'Menjebak' di Papan Pemantauan Khusus, Apa Saja?

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 08:46 WIB

×