- Warga RT 05/RW 02 Petukangan Utara mengolah botol plastik menjadi sapu dengan modal kas RT sebesar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
- Kegiatan yang dipimpin oleh Ketua RT Saiful pada Jumat, 2 Oktober 2026 ini menghasilkan omzet bulanan mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta.
- Warga yang terlibat dalam pembuatan sapu menerima pembagian hasil mingguan dengan rata-rata sekitar Rp300 ribu per orang.
Suara.com - Warga RT 05/RW 02 Petukangan Utara, Jakarta Selatan, mengolah botol plastik bekas menjadi sapu yang kemudian dijual kepada masyarakat.
Dari kegiatan tersebut, warga mampu menghasilkan omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan.
Ketua RT 05/RW 02 Petukangan Utara, Saiful, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi upaya mengurangi sampah plastik, tetapi juga memberikan penghasilan bagi warga yang terlibat dalam proses pembuatannya.
“Sekarang itu sih kira-kira sampai Rp 2.000.000, 3.000.000 lah sebulan ya,” kata Saiful Kepada Suara.com saat ditemui di Petukangan Utara, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2026).
Saiful menjelaskan, warga yang terlibat dalam pembuatan sapu mendapatkan imbalan berdasarkan kontribusi masing-masing.
Besaran yang diterima warga disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan.
“Siapapun bisa, warga yang mau, karena kita memang ada pembagian hasilnya, sesuai kontribusi, siapapun yang rajin dia akan dapat, kita bisa katakan imbalannya lebih besar,” ujarnya.
Pembagian hasil tersebut dilakukan setiap pekan. Saiful menyebut besaran imbalan bergantung pada pekerjaan masing-masing warga, dengan rata-rata sekitar Rp300 ribu per minggu.
“Per minggu kita kasihnya, kalau per minggunya bisa Rp300 tergantung kerja, ya rata rata Rp300 lah,” kata Saiful.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, warga memperoleh botol plastik dari sejumlah sumber.
Sebagian botol berasal dari warga yang menyumbangkan botol bekas, sementara sebagian lainnya dibeli dengan sistem kilogram.
Warga juga menjalin kerja sama dengan sejumlah lapangan olahraga untuk mendapatkan botol plastik bekas.
“Jadi kalau botolnya kita dapat dari warga, ada yang sedekah, ada yang jual ke kita hitungnya perkilo disini biasanya Rp3 ribu, ada pula kita kerja sama sama hall hall padel atau lapangan bulu tangkis maupun futsal,” jelasnya.

Botol yang terkumpul kemudian dipilih sebelum digunakan dalam proses pembuatan sapu.
Saiful mengatakan botol yang digunakan merupakan botol air mineral yang masih dalam kondisi utuh.
“Jadi kita dipilih botolnya juga yang bagus, botol air mineral, yang masih utuh kayak gini, nggak digepengin,” ujarnya.
Saat ini, warga memproduksi dua jenis sapu dari botol plastik bekas, yakni sapu jalan dan sapu kasur.
Harga kedua produk tersebut berbeda tergantung tempat penjualannya.
“Kalau Shopee kita Rp42 ribu sapu jalan kalau yang sapu kasur Rp30 ribu, kalau offline itu Rp35 ribu sapu jalan, yang sapu kasurnya Rp25 ribu,” kata Saiful.
Kegiatan pengolahan botol plastik menjadi sapu tersebut sebelumnya menggunakan modal dari kas RT.
Saiful menyebut dana awal yang digunakan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta untuk mengelola kegiatan dan menyediakan peralatan yang dibutuhkan warga.
“Kita coba minta uang kas dari RT. Gak banyak ya, sekitar 1,5-2 juta, terus kita kelola, kita punya alatnya,” tuturnya.
Reporter : Agustin Dwi Anggraini