- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menemui Wakil Wali Kota Seoul Jeong Sang-hun di Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (7/10/2026).
- Kedua pejabat membahas penguatan kerja sama bilateral selama empat dekade di bidang kebudayaan, ekonomi kreatif, pendidikan, dan pembangunan perkotaan.
- Pertemuan tersebut menghasilkan kerja sama pertukaran pengalaman dalam mengatasi tantangan pembangunan megapolitan serta tata ruang perkotaan.
Suara.com - Jakarta dan Seoul sama-sama tengah memperkuat posisi sebagai kota global di Asia. Kesamaan karakter sebagai kota besar dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga yang tinggi menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dengan Wakil Wali Kota Seoul Jeong Sang-hun di Seoul, Korea Selatan.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas peluang memperkuat kerja sama, mulai dari kebudayaan, ekonomi kreatif, pembangunan perkotaan, hingga pendidikan.
Rano mengatakan Jakarta ingin memanfaatkan hubungan panjang dengan Seoul untuk saling bertukar pengalaman dalam mengembangkan kota.
“Jakarta dan Seoul memiliki banyak kesamaan sebagai kota-kota besar di Asia. Kedua kota merupakan pusat ekonomi yang penting dengan industri kreatif yang kuat, serta memiliki ambisi yang terus tumbuh untuk memperkuat posisinya sebagai kota global,” kata Rano dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (7/10/2026), dikutip dari ANTARA.
Jakarta dan Seoul diketahui telah menjalin hubungan sebagai Sister City selama lebih dari empat dekade. Jakarta menjadi salah satu dari 25 Sister Cities Seoul sekaligus salah satu mitra Seoul di kawasan Asia Tenggara.
Bagi Jakarta, hubungan tersebut tidak hanya diarahkan pada kerja sama antarpemerintah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempelajari bagaimana Seoul berkembang menjadi kota global tanpa meninggalkan karakter dan kebudayaannya.
Rano mengatakan, pengalaman Seoul dalam pembangunan dan perancangan kota menjadi salah satu hal yang ingin dipelajari Jakarta seiring upaya transformasi menuju kota global.
“Kami tertarik untuk belajar dari pengalaman Seoul dalam pembangunan dan perancangan kota. Seiring transformasi Jakarta menjadi kota global, kami melihat peluang pertukaran pengetahuan mengenai ruang publik, desain perkotaan, dan upaya menciptakan kota yang lebih layak huni,” ujarnya.
Menurut Rano, perjalanan menuju kota global tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarkota juga diperlukan agar kebijakan pembangunan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, Seoul juga melihat Jakarta sebagai kota yang memiliki pengalaman penting untuk dipelajari.
Jeong Sang-hun menyebut Jakarta menghadapi tantangan perkotaan dengan skala yang besar, terutama karena jumlah penduduk yang tinggi, kepadatan kawasan, serta mobilitas masyarakat yang berlangsung setiap hari.
Jakarta memiliki sekitar 11 juta penduduk dan berada dalam kawasan metropolitan dengan populasi lebih dari 42 juta orang.
Menurut Jeong, kondisi tersebut membuat Jakarta memiliki pengalaman dalam mengelola kompleksitas sebuah megapolitan yang relevan bagi Seoul.
Karena itu, hubungan kedua kota tidak hanya menjadi ruang bagi Jakarta untuk belajar dari Seoul. Seoul juga ingin memperoleh pengetahuan dari pengalaman Jakarta dalam menangani persoalan kepadatan penduduk, mobilitas warga, pelayanan publik, serta dinamika pembangunan kota besar.
Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan Jakarta-Seoul yang telah terjalin selama lebih dari 40 tahun, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang kebudayaan, ekonomi kreatif, pendidikan, dan pembangunan perkotaan.